Kisah Zulhas: Dari Bolos Bahasa Arab hingga Raup Rp1 Miliar Sebulan di Tahun 1985, Ini Rahasianya

Ringkasan Singkat
- Menteri Koordinator Pangan Zulkifli Hasan mengungkap perjalanan hidupnya dari anak PGA yang bolos hingga menjadi pengusaha sukses dengan penghasilan setara Rp1 miliar per bulan pada 1985.
- Ia merantau ke Jakarta dengan modal perhiasan pemberian ibunya, lalu keluar dari PNS karena gaji tidak cukup, dan belajar marketing dari pengusaha keturunan China di Pasar Mester.
- Kegigihan dan keberanian membangun jaringan internasional (China, Korea, Hong Kong) membawanya memiliki 4 rumah pada 1986.
Jakarta – Kisah sukses Zulkifli Hasan kembali mencuat setelah ia menceritakan perjalanan hidupnya di acara Lampung Financial Festival 2026, Sabtu (5/9). Menteri Koordinator Bidang Pangan itu mengaku telah berpenghasilan setara Rp1 miliar per bulan pada tahun 1985, saat usianya masih tergolong muda.
Zulhas, sapaan akrabnya, mengawali kisah dari bangku sekolah. Ia bersekolah di Pendidikan Guru Agama Negeri (PGAN) Bandar Lampung, namun mengaku kesulitan dalam pelajaran Bahasa Arab dan sering bolos. Bahkan ia juga membolos pelajaran menyanyi. Karena frustrasi, ia memberanikan diri pindah ke SMA 1, meskipun ayahnya tidak setuju karena menginginkan Zulhas menjadi ustaz seperti Buya Hamka dan bercita-cita mengirimnya ke Mesir.
"Saya daftar SMA 1, tapi orang tua saya nggak setuju. Alasannya ya saya mesti jadi ustaz," kenang Zulhas. Namun, ia tetap mantap mengambil keputusan besar: merantau ke Jakarta tanpa kenalan, hanya bermodalkan perhiasan dari ibunya—kalung, cincin intan, dan gelang—yang dijual untuk biaya hidup dan belajar.
Setelah lulus SMA, Zulhas sempat mencoba kuliah di fakultas kedokteran tetapi gagal. Ia lalu menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Kementerian Pertanian, yang saat itu masih bergabung dengan sektor kelautan dan kehutanan. Namun, gaji PNS hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari, sehingga ia memutuskan mengundurkan diri dan merintis usaha.
Suatu hari, Zulhas mendatangi Pasar Mester di Jatinegara, Jakarta Timur. Di sana, ia menyaksikan pengusaha keturunan China yang kaya raya dan bertanya pada dirinya sendiri mengapa ia miskin. Ia lalu mempelajari gaya hidup dan strategi mereka, membaca buku-buku tentang kekayaan, dan mengikuti kursus marketing—bidang yang akhirnya ia pilih sebagai senjata utama.
Keberanian mengambil risiko dan kegigihan belajar marketing membuahkan hasil. Pada 1985, pendapatannya telah mencapai Rp1 miliar per bulan jika disetarakan dengan nilai uang saat ini. Ia bahkan sudah berdagang lintas negara dengan China, Korea Selatan, Taiwan, dan Hong Kong. "Tahun '86 saya sudah punya rumah, ada 4 biji," ujarnya.
Analisis Pakar
Kisah Zulhas bukan sekadar nostalgia, melainkan cermin dari dinamika ekonomi Indonesia di dekade 1980-an—era di mana liberalisasi ekonomi mulai menggeliat dan peluang dagang lintas negara terbuka lewat kebijakan ekspor-impor yang agresif. Yang menarik, Zulhas tidak berasal dari keluarga konglomerat; modal awalnya justru dari perhiasan ibu—simbol aset cair keluarga kelas menengah bawah saat itu. Keputusannya keluar dari PNS juga menandai keberanian menghadapi ketidakpastian, sebuah langkah yang kontras dengan budaya birokratis yang masih kental.
Dari sudut pandang ekonomi makro, pendapatan Rp1 miliar per bulan pada 1985 setara dengan sekitar puluhan miliar rupiah saat ini jika memperhitungkan inflasi dan pertumbuhan ekonomi. Namun, yang lebih penting adalah strategi Zulhas: ia tidak sekadar berdagang, tetapi membangun jaringan internasional di saat akses informasi dan transportasi masih terbatas. Ini menunjukkan bahwa kunci sukses bukanlah modal besar, melainkan kemampuan membaca peluang, adaptasi budaya bisnis (seperti belajar dari etnis Tionghoa), dan penguasaan marketing—yang hingga kini masih menjadi fondasi bisnis modern.
Kritik saya sebagai pengamat ekonomi adalah bahwa kisah ini sering kali diromantisasi tanpa menyertakan konteks risiko dan kegagalan yang pasti dihadapi. Zulhas beruntung karena waktu dan keberaniannya tepat, tetapi tidak semua orang bisa meniru tanpa perhitungan matang. Selain itu, lompatan dari PNS ke pengusaha besar menyiratkan adanya celah regulasi dan akses permodalan yang mungkin tidak transparan—hal yang perlu diingat dalam diskursus publik. Namun, esensi dari kegigihan, belajar dari lingkungan, dan berani mengambil keputusan besar tetap menjadi pelajaran berharga, terutama bagi generasi milenial dan Z yang kini dihadapkan pada ketidakpastian ekonomi pasca-pandemi.
Terakhir, peran ibu sebagai pemberi dukungan moral dan material patut diapresiasi. Dalam banyak kisah sukses, peran keluarga sering diabaikan. Zulhas secara terbuka mengakui bahwa modal awal dari ibunya adalah fondasi yang tidak ternilai. Ini mengingatkan kita bahwa ekonomi tidak selalu tentang angka dan kebijakan makro, tetapi juga tentang jaringan sosial dan kepercayaan—yang kadang lebih penting dari sekadar modal finansial.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
- Q: Berapa kekayaan Zulkifli Hasan saat ini?
A: Tidak ada laporan resmi mengenai kekayaan bersihnya, namun sebagai menteri dan pengusaha sukses, asetnya diperkirakan mencapai puluhan miliar rupiah, mengingat ia telah memiliki 4 rumah pada 1986 dan terus mengembangkan bisnis. - Q: Apa rahasia sukses Zulhas dalam berbisnis?
A: Menurut pengakuannya, kunci utamanya adalah belajar marketing, berani mengambil risiko, membangun jaringan internasional, dan adaptasi terhadap strategi pengusaha etnis Tionghoa yang ia pelajari di Pasar Mester. - Q: Apakah benar Zulhas pernah menjadi PNS?
A: Ya, ia pernah menjadi PNS di Kementerian Pertanian pada awal kariernya, tetapi mengundurkan diri karena gaji tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup, lalu beralih ke dunia usaha.
BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

NTP Oktober 2026 Melonjak 6,88%, Cabai dan Tomat Jadi Penopang Utama

Pemerintah Duga Praktik 'Mafia' di Balik Skandal Gizi 25 Merek Beras Fortifikasi

Inflasi Oktober Tembus 3,23%, Sentuh Batas Atas Target BI dan Pemerintah
