Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Ketegangan AS-Iran Memuncak: Trump Ancam Serang Fasilitas Nuklir Bawah Tanah 'Gunung Pickaxe'

DuniaBudi SantosoBudi SantosoSumber: CNN Internasional
Budi Santoso
Budi Santoso
Editor

Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Ketegangan AS-Iran Memuncak: Trump Ancam Serang Fasilitas Nuklir Bawah Tanah 'Gunung Pickaxe'
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Presiden AS Donald Trump mengancam akan menyerang fasilitas nuklir bawah tanah Iran yang dikenal sebagai Gunung Pickaxe, dekat situs Natanz.
  • Ancaman ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan setelah serangan AS di Suriah yang menewaskan warga sipil, termasuk anak-anak.
  • Meski persiapan militer telah dilakukan, serangan darat dianggap berisiko tinggi dan sebelumnya pernah dibatalkan karena potensi korban jiwa.

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali melontarkan ancaman militer terhadap Iran, kali ini menargetkan fasilitas bawah tanah yang disebut Gunung Pickaxe. Fasilitas ini diyakini terkait erat dengan program nuklir Iran dan terletak di dekat situs pengayaan uranium utama di Natanz. Dalam pernyataannya di hadapan wartawan di Oval Office, Jumat (4/9), Trump menegaskan bahwa Washington tidak akan mentolerir kepemilikan senjata nuklir oleh Tehran.

"Kami mungkin akan menyerang Pickaxe dalam waktu dekat," ujar Trump, tanpa memberikan rincian waktu atau skala operasi. Ancaman ini muncul saat hubungan AS-Iran kembali memanas menyusul serangan udara AS di wilayah Suriah pada Rabu (2/9) lalu yang menewaskan sejumlah orang, termasuk dua anak-anak dalam sebuah pesta pernikahan. Trump juga mengklaim bahwa dirinya telah berhasil menggagalkan upaya Iran mengembangkan senjata nuklir, serta menghancurkan radar, pesawat, dan sistem pertahanan Iran di sekitar Selat Hormuz.

Meski demikian, Trump meyakini bahwa Iran masih menyimpan persediaan nuklir yang dapat mengancam keamanan Israel dan kawasan Timur Tengah. "Iran tidak akan memiliki senjata nuklir karena jika mereka memilikinya, Anda mungkin tidak akan berdiri di sini lama-lama," ucapnya, seraya menambahkan bahwa AS mengetahui pergerakan semua pihak yang terlibat di Gunung Pickaxe.

Ancuman serupa pernah dilontarkan Trump sebelumnya, namun batal dilaksanakan. Menurut dua sumber yang mengetahui rencana militer AS, serangan terhadap gunung tersebut sudah dipersiapkan secara matang, tetapi dibatalkan karena risiko besar yang menyertainya. Untuk menghancurkan total fasilitas bawah tanah yang diperkuat beton dan baja itu, AS kemungkinan harus mengerahkan pasukan darat—langkah yang akan mendapat tentangan publik karena potensi jatuhnya korban jiwa di kalangan militer AS.

Analisis Pakar

Ancaman presiden AS terhadap fasilitas nuklir Iran bukanlah hal baru, namun eskalasi retorika kali ini terjadi pada momen yang sangat rapuh. Di satu sisi, Trump ingin menunjukkan sikap tegas terhadap apa yang ia sebut sebagai "program nuklir tersembunyi" Iran, terutama setelah kegagalan negosiasi multilateral dan keluarnya AS dari kesepakatan JCPOA. Namun, di sisi lain, ancaman ini berisiko memicu siklus balasan yang tidak terkendali, baik dari Iran melalui proksi-proksinya di kawasan maupun dari faksi-faksi garis keras di dalam negeri Iran yang justru mendapatkan justifikasi untuk mempercepat pengembangan militer nuklir.

Dari perspektif strategi militer, serangan terhadap Gunung Pickaxe menunjukkan tantangan teknis yang luar biasa. Fasilitas yang terkubur sedalam puluhan meter di bawah pegunungan membutuhkan bom penghancur bunker seperti GBU-57 MOP, namun efektivitasnya diragukan tanpa intelijen posisi yang presisi. Jika AS memilih jalur serangan darat, maka konsekuensinya tidak hanya berupa korban jiwa, tetapi juga pendudukan wilayah yang dapat memicu perang berkepanjangan serupa Irak dan Afghanistan. Hal ini jelas tidak diinginkan oleh publik AS yang sudah lelah dengan perang di luar negeri.

Secara geopolitik, ancaman ini juga mengirim sinyal ambigu kepada sekutu-sekutu AS di Timur Tengah, terutama Arab Saudi dan Israel. Meski kedua negara sama-sama memusuhi Iran, mereka tidak menginginkan konflik terbuka yang dapat mengganggu stabilitas harga minyak dan keamanan maritim di Selat Hormuz. Trump tampaknya menggunakan taktik "tekanan maksimum" untuk memaksa Iran kembali ke meja perundingan, namun tanpa jalur diplomasi yang jelas, ancaman militer justru dapat mengasingkan Iran dan mendorongnya ke dalam pelukan Rusia dan China.

Yang lebih mengkhawatirkan adalah dampak kemanusiaan dari ancaman ini. Serangan AS di Suriah yang baru saja terjadi—yang menewaskan warga sipil—menunjukkan bahwa operasi militer seringkali tidak dapat menghindari korban tak berdosa. Jika serangan terhadap Gunung Pickaxe benar-benar terjadi, bukan tidak mungkin akan terjadi bencana lingkungan akibat kebocoran bahan radioaktif, yang dampaknya bisa melintasi batas negara dan mengancam kesehatan jutaan orang. Diplomasi, meskipun lambat dan frustasi, tetap menjadi jalan yang paling rasional untuk mencegah kekacauan yang lebih besar.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Apa itu Gunung Pickaxe dan mengapa menjadi sasaran AS?
    A: Gunung Pickaxe adalah nama kode untuk fasilitas pengayaan uranium bawah tanah yang terletak di dekat Natanz, Iran. AS meyakini fasilitas ini digunakan untuk mengembangkan senjata nuklir, meskipun Iran membantah dan menyatakan programnya untuk tujuan damai.
  • Q: Apakah AS pernah menyerang Iran sebelumnya?
    A: AS pernah melakukan serangan terbatas terhadap target-target militer Iran di Irak dan Suriah, serta pembunuhan Jenderal Qasem Soleimani pada 2020. Namun serangan langsung ke fasilitas nuklir di dalam wilayah Iran belum pernah terjadi secara terbuka.
  • Q: Bagaimana respons Iran terhadap ancaman Trump?
    A> Pemerintah Iran biasanya merespons dengan pernyataan tegas, menunjukkan kesiapan militer, dan mengancam akan membalas setiap agresi. Iran juga meningkatkan pengayaan uranium sebagai bentuk tekanan balik, namun sejauh ini belum ada tindakan militer langsung dari Tehran.

BERITA TERKAIT (Dunia)

Meow! Tanya Nesi!
😸