Selasa, 3 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Dentuman Misterius di Jawa Barat Ternyata dari Anak Krakatau, Status Siaga Belum Dicabut

Berita DaerahSiti RahmawatiSiti RahmawatiSumber: CNN Nasional
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Dentuman Misterius di Jawa Barat Ternyata dari Anak Krakatau, Status Siaga Belum Dicabut
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda erupsi dengan fenomena lava air mancur dan gemuruh yang terdengar hingga Jabar, Banten, dan Lampung.
  • Status tetap Siaga (Level III) dengan radius larangan 3 km, namun Badan Geologi memastikan tidak berpotensi tsunami skala besar.
  • Erupsi berlangsung terus-menerus sejak Jumat (4/9) malam hingga Sabtu (5/9) dini hari, disertai lontaran batu pijar dan abu vulkanik.

Jakarta – Aktivitas vulkanik di Gunung Anak Krakatau kembali memicu kekhawatiran warga di sekitar Selat Sunda. Badan Geologi Kementerian ESDM mengonfirmasi bahwa dentuman dan getaran yang dirasakan masyarakat di Jawa Barat, Banten, dan Lampung pada Jumat (4/9) malam berkaitan dengan erupsi gunung api tersebut. Kepala Badan Geologi, Lana Saria, menyatakan bahwa erupsi yang terjadi menunjukkan karakteristik lava fountain atau air mancur lava, dengan semburan merah menyala yang terlihat jelas meskipun tinggi kolom erupsi tidak teramati.

"Erupsi menerus dalam durasi beberapa jam yang berasosiasi dengan erupsi lava air mancur adalah fenomena umum yang sering terjadi," ujar Lana dalam keterangan resminya, Sabtu (5/9). Ia menambahkan bahwa suara gemuruh dan getaran yang dilaporkan warga terjadi bersamaan dengan aktivitas erupsi, sehingga diduga kuat menjadi sumbernya. Hingga pukul 04.40 WIB Sabtu, erupsi masih berlangsung dan gemuruh masih terdengar dari Pos PGA Krakatau di Pasauran.

Menurut pengamatan, erupsi saat ini bertipe Strombolian, yang menghasilkan lontaran batu pijar dan abu vulkanik. Sejak 2 Juli 2026, status Gunung Anak Krakatau berada di Level III (Siaga), dan serangkaian erupsi tipe ini terus berlanjut hingga kini. Meskipun demikian, Lana menegaskan bahwa pertumbuhan tubuh gunung pasca-erupsi 22 Desember 2018 masih relatif kecil, sehingga tidak berpotensi mengalami keruntuhan dalam skala yang dapat memicu tsunami. Namun, ia mengingatkan potensi bahaya saat ini berasal dari aliran lava dan lontaran batu pijar, sehingga masyarakat diimbau untuk tidak melakukan aktivitas dalam radius 3 km dari pusat aktivitas.

Badan Geologi juga meminta warga pesisir Banten dan Lampung agar tetap tenang dan beraktivitas seperti biasa, namun tetap mengikuti arahan dari BPBD setempat. Sementara itu, laporan dari petugas pengamat, Rioboniek Situmorang, menyebutkan bahwa cuaca di sekitar gunung berawan hingga mendung, dengan angin lemah ke arah barat laut, dan asap kawah tidak teramati. Erupsi dilaporkan berlangsung terus-menerus sejak Jumat pukul 23.07 WIB, dan hingga laporan terakhir pada Sabtu pagi masih berlanjut.

Analisis Pakar

Sebagai jurnalis investigasi yang telah mengikuti dinamika Gunung Anak Krakatau selama bertahun-tahun, saya melihat ada sejumlah catatan kritis yang perlu diangkat dari pernyataan resmi Badan Geologi. Pertama, meskipun disebutkan bahwa tinggi kolom erupsi tidak teramati, publik seharusnya mendapat penjelasan lebih detail mengenai faktor cuaca atau keterbatasan alat yang menyebabkan data visual tersebut absen. Apakah ini berarti sistem pemantauan kita masih lemah? Dalam era teknologi satelit dan sensor jarak jauh, ketidakmampuan mengamati ketinggian kolom erupsi patut dipertanyakan, terlebih ketika dampak getaran dan dentuman sudah dirasakan lintas provinsi.

Kedua, pernyataan bahwa tidak berpotensi tsunami perlu dibaca dengan hati-hati. Sejarah mencatat, pada 22 Desember 2018, longsoran sebagian tubuh gunung memicu tsunami yang menewaskan ratusan jiwa di Banten dan Lampung. Saat itu, badan resmi pun sempat memberikan jaminan serupa sebelum bencana terjadi. Kini, Lana Saria mengatakan pertumbuhan tubuh gunung relatif kecil, namun kata "relatif" itu bersifat kualitatif dan tidak disertai data numerik yang bisa diuji publik. Seharusnya Badan Geologi merilis peta morfologi terbaru dan hasil pengukuran volume tubuh gunung secara transparan, agar masyarakat dan pemerintah daerah bisa melakukan mitigasi berbasis bukti, bukan sekadar klaim normatif.

Ketiga, respons terhadap kegaduhan publik yang melaporkan dentuman dan getaran terkesan reaktif, bukan proaktif. Idealnya, ketika erupsi terjadi dan menimbulkan dampak luas, Badan Geologi segera mengeluarkan pernyataan resmi disertai peta wilayah terdampak dan rekomendasi taktis, bukan hanya sekadar menunggu pertanyaan dari wartawan. Keterlambatan informasi bisa memicu kepanikan atau sebaliknya, ketidakpedulian yang berbahaya. Saya juga menyoroti bahwa imbauan kepada masyarakat pesisir hanya sekadar "tenang dan ikuti arahan BPBD" tanpa menyebutkan jalur evakuasi atau titik kumpul yang sudah disiapkan. Ini menunjukkan kesiapsiagaan darurat masih bersifat seremonial.

Terakhir, kita perlu mengingat bahwa Gunung Anak Krakatau adalah gunung api yang sangat aktif dan dinamikanya sulit diprediksi secara pasti. Penelitian ilmiah menunjukkan bahwa erupsi tipe Strombolian dengan lava fountain dapat berubah menjadi lebih eksplosif dalam waktu singkat. Oleh karena itu, evaluasi risiko harus dilakukan secara kontinu dan melibatkan ahli independen, bukan hanya mengandalkan satu lembaga. Media massa juga memiliki tanggung jawab untuk tidak sekadar menyiarkan pernyataan resmi, tetapi menggali lebih dalam—misalnya, apakah sistem peringatan dini tsunami di Selat Sunda sudah benar-benar andal? Apakah buoy dan sensor dasar laut sudah terpasang dan berfungsi? Pertanyaan-pertanyaan ini masih mengambang dan membutuhkan jawaban dari pemerintah. Tanpa itu, kita hanya menerima asuransi lisan yang bisa gugur sewaktu-waktu.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Apakah erupsi Gunung Anak Krakatau saat ini berbahaya bagi masyarakat di Jawa Barat dan Banten?
    A: Bahaya langsung terutama di radius 3 km dari kawah, karena aliran lava dan lontaran batu pijar. Getaran dan dentuman yang dirasakan hingga Jabar dan Banten adalah efek suara dan getaran seismik, tidak berbahaya secara fisik asalkan tidak ada abu jatuh yang signifikan. Namun, warga di pesisir tetap diminta waspada dan mengikuti arahan BPBD.
  • Q: Bisakah erupsi ini memicu tsunami seperti tahun 2018?
    A: Badan Geologi menyatakan potensi tsunami saat ini rendah karena tubuh gunung masih kecil dan tidak rapuh. Namun, sejarah menunjukkan bahwa tsunami bisa terjadi akibat longsoran flank, bukan hanya dari erupsi itu sendiri. Masyarakat disarankan tidak berada di pantai jika terjadi gempa kuat atau surutnya air laut secara tiba-tiba, sebagai tanda peringatan alami.
  • Q: Apa yang harus dilakukan jika tinggal di sekitar Selat Sunda?
    A: Tetap tenang, pantau informasi resmi dari PVMBG dan BPBD, patuhi radius larangan 3 km, dan siapkan tas siaga bencana. Jika Anda di pesisir, kenali jalur evakuasi vertikal ke tempat yang lebih tinggi. Jangan percaya pada hoaks, dan pastikan sumber informasi dari kanal resmi seperti magma.esdm.go.id.

BERITA TERKAIT (Berita Daerah)

Meow! Tanya Nesi!
😸