Senin, 2 November 2026 โ˜ผJakarta 29ยฐC
berita hari ini.

Prabowo di Rusia: Gebrakan FTA EAEU, Danantara, dan Posisi Indonesia di Tengah Perang Dagang Global

Ekonomi & PasarSiti AmaliaSiti AmaliaSumber: CNBC Indonesia
Siti Amalia
Siti Amalia
Analis Finansial

Pakar ekonomi makro yang sering menulis mengenai investasi dan pasar saham.

Prabowo di Rusia: Gebrakan FTA EAEU, Danantara, dan Posisi Indonesia di Tengah Perang Dagang Global
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Presiden Prabowo Subianto menawarkan percepatan implementasi FTA Indonesia-EAEU mulai awal 2027, mencakup 11.882 pos tarif.
  • Indonesia membuka peluang investasi besar di sektor energi, pangan, industri, hingga antariksa, serta mengundang Rusal dan perusahaan pupuk Rusia.
  • Di tengah fragmentasi geopolitik, Prabowo tegaskan politik luar negeri bebas aktif dan ingin membangun 'aliansi ekonomi', bukan militer.

Vladivostok, Rusia โ€“ Presiden Prabowo Subianto tampil sebagai pembicara kunci pada Eastern Economic Forum (EEF) ke-11 di Vladivostok, Kamis (3/9). Di hadapan Presiden Rusia Vladimir Putin dan para pemimpin Eurasia, Prabowo memaparkan tujuh poin strategis yang menegaskan ambisi Indonesia memperkuat kerja sama ekonomi dengan Eurasia, sekaligus memosisikan diri sebagai jembatan perdagangan antar kawasan.

Dalam pidatonya, Prabowo menekankan bahwa pembangunan tidak boleh hanya menguntungkan segelintir orang. "Keberhasilan pembangunan harus diukur dari meja makan keluarga biasa," ujarnya, seraya menyebut program makan bergizi gratis, swasembada pangan, ketahanan energi, dan hilirisasi sebagai prioritas utama pemerintahannya. Ia menegaskan, pertumbuhan ekonomi yang dikejar adalah pertumbuhan yang mengangkat jutaan rakyat dari kemiskinan.

Dari sisi perdagangan, Prabowo melaporkan nilai perdagangan bilateral Indonesia-Rusia mendekati US$ 5 miliar, tumbuh 21,7% dibanding tahun sebelumnya. Ia mengusulkan target pelipatgandaan volume dagang melalui Perjanjian Perdagangan Bebas Indonesia-EAEU (Eurasian Economic Union) yang sudah diratifikasi parlemen dan Presiden. "Indonesia ingin perjanjian ini segera berlaku pada awal 2027," tegasnya, seraya mengajak mitra Eurasia menyelesaikan prosedur internal masing-masing.

Tak hanya soal tarif, Prabowo menawarkan Indonesia sebagai pintu masuk alami ke pasar ASEAN, dengan mengusulkan jalur pelayaran langsung Vladivostok-Indonesia dan penerbangan langsung untuk memperkuat konektivitas dan pariwisata. Di sektor investasi, ia membuka keran bagi perusahaan Rusia di bidang energi (migas, terbarukan, nuklir), pertanian (teknologi benih, mekanisasi, pupuk), dan industri manufaktur (makanan, elektronik, farmasi). Ia juga menyebut peluang kerja sama antariksa dan pendidikan tinggi.

Menarik perhatian, Prabowo mengungkapkan Danantara โ€“ sovereign wealth fund Indonesia dengan aset kelolaan US$ 1 triliun โ€“ siap menjadi pembiaya proyek bersama Russian Direct Investment Fund (RDIF). Ia juga mengumumkan rencana investasi besar-besaran perusahaan aluminium Rusia, Rusal, di Indonesia, serta penandatanganan MoU produksi pupuk berbasis gas di Timur Jauh Rusia antara perusahaan pupuk Indonesia dan kelompok usaha terbesar Rusia.

Di tengah ketegangan geopolitik, Prabowo kembali menegaskan politik luar negeri Indonesia yang bebas aktif. "Kami tidak ingin bergabung dengan aliansi militer mana pun, tapi kami ingin bergabung dengan aliansi ekonomi," katanya, mengutip filosofi "seribu teman terlalu sedikit, satu musuh terlalu banyak". Ia menyoroti bahwa perdagangan kini kerap dijadikan senjata dan sistem keuangan global terfragmentasi, sehingga diperlukan lebih dari satu sistem pembayaran untuk memastikan kelancaran transaksi internasional.

Terakhir, Prabowo membuka 138 blok migas untuk eksplorasi dan mengundang perusahaan Rusia untuk berinvestasi. Langkah ini dinilai sebagai sinyal kuat bahwa Indonesia tidak ingin terjebak dalam polarisasi blok, melainkan aktif membangun jembatan kerja sama ekonomi dengan semua pihak.

Analisis Pakar

Oleh Siti Amalia, Pakar Ekonomi Makro & Jurnalis Finansial Senior

Pidato Prabowo di Vladivostok bukan sekadar diplomatis basa-basi. Ini adalah peta jalan ekonomi yang berani di tengah pusaran perang dagang AS-China dan sanksi berkepanjangan terhadap Rusia. Dengan mengusulkan FTA Indonesia-EAEU yang mencakup lebih dari 90% pos tarif, Indonesia mengambil risiko sekaligus peluang. Risikonya adalah potensi pengalihan perdagangan (trade diversion) yang bisa merugikan industri dalam negeri jika tidak disertai penguatan daya saing. Namun peluangnya jauh lebih besar: akses ke pasar Eurasia yang mencakup 180 juta penduduk dengan sumber daya alam melimpah, terutama energi dan pangan, yang sangat dibutuhkan Indonesia untuk menstabilkan harga domestik dan mengamankan pasokan.

Yang menarik adalah keberanian Prabowo menawarkan Danantara sebagai kendaraan investasi. Dengan aset US$ 1 triliun, Danantara bisa menjadi game changer jika dikelola secara profesional dan transparan. Kerja sama dengan RDIF menunjukkan bahwa Indonesia tidak alergi terhadap modal Rusia, meskipun di sisi lain tetap menjaga hubungan baik dengan Barat. Ini adalah strategi hedging yang cerdas, tapi harus diimbangi dengan tata kelola yang kuat agar tidak terjebak dalam proyek-proyek berisiko tinggi yang hanya menguntungkan segelintir elite. Saya menilai, komitmen Prabowo untuk mengukur pembangunan dari "meja makan" adalah narasi populis yang tepat, tetapi implementasinya di lapangan โ€“ mulai dari swasembada pangan hingga hilirisasi โ€“ membutuhkan konsistensi kebijakan dan koordinasi antar kementerian yang selama ini menjadi titik lemah birokrasi Indonesia.

Dari perspektif geopolitik, pernyataan "seribu teman terlalu sedikit" adalah sinyal bahwa Indonesia menolak dikotomi kawan-lawan. Namun di tengah fragmentasi sistem keuangan global, usulan agar berbagai sistem pembayaran beroperasi berdampingan adalah langkah pragmatis, bukan anti-Barat. Ini penting karena ekspor Indonesia masih sangat bergantung pada dolar AS dan pasar negara maju. Jika Indonesia mulai mengadopsi sistem pembayaran alternatif seperti mata uang lokal atau skema swap, maka stabilitas nilai tukar rupiah dan cadangan devisa harus menjadi perhatian utama. Saya melihat, keterbukaan terhadap investasi Rusia di sektor migas dan nuklir adalah sinyal diversifikasi energi yang sehat, namun pemerintah wajib memastikan transfer teknologi dan pelatihan tenaga kerja lokal agar tidak menjadi sekadar pasar bagi produk asing.

Yang paling mengkhawatirkan dari semua ini adalah risiko over-promising. FTA dengan EAEU, investasi Rusal, proyek pupuk raksasa, hingga penerbangan langsung โ€“ semua membutuhkan waktu dan biaya politik yang tidak kecil. Investor asing akan melihat konsistensi kebijakan pascapemilu dan stabilitas hukum. Jika Prabowo mampu menjaga momentum reformasi struktural, maka Indonesia bisa menjadi poros baru ekonomi Asia-Eurasia. Namun jika ini hanya retorika tahun politik, maka yang terjadi adalah pemborosan diplomasi tanpa manfaat nyata. Saya tetap optimistis, tetapi dengan catatan: transparansi dan akuntabilitas harus menjadi fondasi dari semua kemitraan ini.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

Q: Apa itu EAEU dan mengapa Indonesia ingin menjalin FTA dengannya?
A: EAEU (Eurasian Economic Union) adalah blok ekonomi yang terdiri dari Rusia, Kazakhstan, Belarus, Armenia, dan Kirgizstan. Indonesia ingin memperluas pasar ekspor dan mengamankan pasokan energi serta pangan melalui FTA yang akan menghapus hambatan tarif untuk lebih dari 90% barang.
Q: Apa peran Danantara dalam rencana kerja sama dengan Rusia?
A: Danantara adalah sovereign wealth fund Indonesia yang mengelola aset US$ 1 triliun. Prabowo menawarkan Danantara sebagai pembiaya proyek-proyek investasi bersama dengan mitra Rusia, terutama di sektor infrastruktur dan industri, melalui kerja sama dengan Russian Direct Investment Fund (RDIF).
Q: Apa maksud politik luar negeri 'bebas aktif' yang ditekankan Prabowo di tengah tekanan geopolitik?
A: Bebas aktif berarti Indonesia tidak memihak pada blok militer mana pun, tetapi tetap aktif menjalin kerja sama ekonomi dengan semua negara. Di tengah perang dagang dan sanksi, Indonesia memilih sikap pragmatis dengan membangun "aliansi ekonomi" untuk melindungi kepentingan nasional, tanpa harus terpaksa memilih antara Barat atau Rusia.

BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Meow! Tanya Nesi!
๐Ÿ˜ธ