Kalah dari Vietnam, Bos BI Buka Suara: Ekonomi RI Beda Karakter, Inflasi Justru Lebih Terkendali
Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

Ringkasan Singkat
- Gubernur BI Destry Damayanti mengakui pertumbuhan ekonomi Indonesia (5,45% semester I) masih di bawah Vietnam, namun menekankan perbedaan struktur dan kompleksitas ekonomi.
- Inflasi domestik jauh lebih terkendali (di bawah Vietnam yang 4,5-5%) dan defisit anggaran dijaga prudent di 2,8%, menjadi keunggulan fundamental RI.
- BI menilai ekonomi RI masih di bawah kapasitas potensial, sehingga ruang akselerasi besar, tetapi butuh kolaborasi lintas sektor, bukan hanya bergantung pada stimulus pemerintah.
Destry Damayanti, Gubernur Bank Indonesia, dengan blak-blakan mengakui bahwa laju pertumbuhan ekonomi Indonesia masih tertinggal dibandingkan Vietnam. Namun, ia menegaskan bahwa struktur dan kompleksitas perekonomian nasional sangat berbeda dengan negara tetangga tersebut.
“Dari sisi pertumbuhan ekonomi, ya kita mungkin kalah sama Vietnam. Tapi kan karakter kita beda dengan Vietnam, kompleksitas juga masih beda,” ujar Destry dalam Sarasehan 100 Ekonom Indonesia di Hotel Kempinski, Jakarta Pusat, Kamis (3/9).
Destry memaparkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada semester I 2026 tercatat 5,45% dengan kualitas indikator makroekonomi yang jauh lebih terjaga. Salah satu bukti utamanya adalah inflasi domestik yang terkendali, berada di kisaran target BI, sementara Vietnam justru menghadapi tekanan inflasi 4,5–5%.
Selain inflasi, ketahanan fiskal juga menjadi andalan. Defisit anggaran tetap dijaga prudent di level 2,8% pada 2024 dan diproyeksikan 2,85% pada tahun ini, dengan rasio utang yang terukur. Meski begitu, BI menggarisbawahi bahwa aktivitas ekonomi domestik saat ini masih beroperasi di bawah kapasitas potensialnya (below potential level). Artinya, ruang untuk memacu PDB agar tumbuh lebih tinggi masih sangat terbuka lebar.
Untuk itu, bank sentral menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor agar mesin ekonomi tidak hanya bergantung pada stimulus pemerintah. “Jadi kalau kita bandingkan negara lain, Indonesia itu sebenarnya posisinya tidak jelek. Mari bersama-sama mendorong pertumbuhan, kita enggak bisa bergerak sendiri-sendiri,” pungkas Destry.
Analisis Pakar
Pengakuan jujur dari Gubernur BI ini patut diapresiasi, namun kita tidak boleh terlena dengan narasi “beda karakter”. Dalam persaingan global, investor tidak terlalu peduli dengan kompleksitas internal—mereka melihat angka pertumbuhan, stabilitas, dan daya saing. Vietnam telah membuktikan bahwa dengan reformasi struktural agresif, kebijakan investasi terbuka, dan hilirisasi industri yang masif, mereka bisa melesat meski inflasi lebih tinggi. Indonesia justru kerap terjebak dalam “middle-income trap” karena terlalu bangga dengan stabilitas makro, sementara lupa bahwa stabilitas tanpa akselerasi hanya akan membuat kita tertinggal perlahan.
Perlu dicermati bahwa defisit anggaran 2,8% memang prudent, tetapi di saat negara lain memanfaatkan ruang fiskal untuk investasi infrastruktur dan SDM, kita cenderung konservatif. Inflasi rendah memang baik, namun jika pencapaian itu didapat dari daya beli yang tergerus atau konsumsi yang stagnan, maka itu bukan kemenangan. Saya menilai BI dan pemerintah harus berani mengambil kebijakan kontra-siklus yang lebih ekspansif, terutama di sektor riil dan ekspor bernilai tambah, tanpa takut goncangan jangka pendek.
Yang juga mengkhawatirkan adalah pernyataan bahwa ekonomi masih di bawah potensial. Ini menunjukkan ada banyak “pengangguran kapasitas”—pabrik menganggur, tenaga kerja terampil belum terserap, dan investasi asing masih tersendat regulasi. Kolaborasi lintas sektor yang diserukan Destry adalah kunci, tapi selama koordinasi antar kementerian masih birokratis dan kebijakan insentif tidak konsisten, kolaborasi hanya akan menjadi slogan. Saya mendorong agar pemerintah segera menyusun peta jalan industrialisasi jangka menengah yang terintegrasi dengan kebijakan moneter, sehingga pertumbuhan tidak hanya mengandalkan konsumsi domestik yang rapuh terhadap gejolak global.
Terakhir, bandingkan dengan Vietnam: mereka tidak hanya unggul dari sisi pertumbuhan, tetapi juga daya saing ekspor dan masuknya investasi asing langsung. Indonesia memiliki sumber daya alam melimpah, pasar domestik besar, dan posisi geopolitik strategis—itu modal besar. Namun, modal tanpa eksekusi yang terencana dan berani adalah sia-sia. Sudah saatnya kita berhenti membela “kekhasan” dan mulai meniru keberhasilan negara tetangga, tentu dengan adaptasi lokal. Ekonomi Indonesia butuh “sense of urgency” bukan “sense of pride” atas stabilitas yang sudah menjadi standar minimal.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
- Q: Apakah pertumbuhan ekonomi Indonesia benar-benar kalah dari Vietnam?
A: Ya, secara angka pertumbuhan PDB, Vietnam mencatatkan laju lebih tinggi dari Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Namun, BI menekankan bahwa struktur ekonomi dan stabilitas makro (inflasi, defisit) Indonesia lebih terjaga. - Q: Apa dampak inflasi rendah bagi perekonomian Indonesia?
A: Inflasi terkendali menjaga daya beli masyarakat dan stabilitas nilai tukar, tetapi juga bisa mencerminkan lemahnya permintaan domestik. BI perlu memastikan inflasi tidak terlalu rendah hingga mengganggu iklim investasi. - Q: Bagaimana cara pemerintah dan BI mendorong pertumbuhan lebih tinggi?
A: Diperlukan kombinasi kebijakan fiskal yang lebih ekspansif untuk infrastruktur dan SDM, insentif investasi, deregulasi, serta koordinasi pusat-daerah. BI juga siap mendukung melalui stabilitas moneter dan pendalaman pasar keuangan.
BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

BEI Gencar Audit Acak Free Float, Sanksi Tegas Menanti Direksi Pelanggar

Dirut BEI: Ketahanan Saham Syariah Teguh di Tengah Tekanan Pasar 2026

Indodax Pastikan Layanan Pulih Penuh, Seluruh Aset Kripto dan Data Member Diklaim Aman Usai Anomali
