Kabut Asap Karhutla Kembali Selimuti Singapura: Ancaman Ekonomi dan Kesehatan di Tengah El Nino

Ekonomi & Pasar
Dian KusumaDian Kusuma
Dian Kusuma
Dian Kusuma
Pakar Keuangan

Edukator keuangan milenial dengan pendekatan yang mudah dipahami.

Kabut Asap Karhutla Kembali Selimuti Singapura: Ancaman Ekonomi dan Kesehatan di Tengah El Nino
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • PSI Singapura menyentuh 105 pada Jumat pagi, masuk kategori tidak sehat untuk pertama kalinya sejak Oktober 2023 akibat kabut asap lintas-batas dari Indonesia.
  • Cuaca kering akibat El Nino Super memicu kebakaran hutan dan lahan di Sumatra dan Kalimantan, dengan asap diperkirakan bertahan hingga dua pekan ke depan.
  • Malaysia juga terdampak parah, dengan kualitas udara di sejumlah wilayah mencapai tingkat berbahaya dan lonjakan kasus asma.

Kabut asap tebal kembali menyelimuti Singapura pada Jumat (4/9/2026) pagi, mendorong Indeks Standar Polutan (PSI) ke angka 105 – kategori tidak sehat untuk pertama kalinya sejak Oktober 2023. Badan Lingkungan Hidup Nasional Singapura (NEA) mencatat peningkatan tajam kualitas udara yang dipicu oleh kebakaran hutan dan lahan lintas-batas dari Indonesia, terutama dari wilayah selatan dan tengah Sumatra serta Kalimantan.

Kondisi ini terjadi di tengah musim kemarau ekstrem yang diperparah oleh fenomena El Nino Super. Layanan Meteorologi Singapura memperkirakan kabut asap masih akan bertahan hingga dua pekan ke depan, dengan curah hujan yang baru berpotensi meningkat pada pekan kedua September. NEA mengimbau warga mengurangi aktivitas luar ruangan, terutama saat kualitas udara memburuk, seraya mencatat peningkatan jumlah titik panas di wilayah sekitar.

Dampak tidak hanya dirasakan Singapura. Malaysia juga mengalami penurunan kualitas udara yang signifikan, bahkan di sejumlah daerah mencapai level berbahaya dan diikuti lonjakan kasus asma. Arah angin menjadi penentu utama seberapa parah kabut yang melanda negara-negara tetangga, namun pola cuaca kering yang berkepanjangan membuat risiko ini terus mengintai.

Analisis Pakar

Sebagai pakar ekonomi makro, saya menilai kabut asap lintas-batas bukan lagi sekadar masalah lingkungan atau kesehatan, tetapi telah menjadi beban ekonomi struktural bagi kawasan. Biaya ekonomi akibat kabut asap mencakup penurunan produktivitas tenaga kerja, lonjakan biaya kesehatan, gangguan sektor pariwisata dan penerbangan, serta kerugian bagi petani dan pelaku usaha di wilayah terdampak. Studi Bank Dunia pernah memperkirakan bahwa kebakaran hutan di Indonesia dapat menimbulkan kerugian ekonomi hingga puluhan triliun rupiah per tahun, belum termasuk dampak jangka panjang terhadap citra investasi dan hubungan diplomatik.

Yang lebih mengkhawatirkan, siklus ini berulang setiap musim kemarau, menunjukkan kegagalan tata kelola lahan dan penegakan hukum yang lemah. Meskipun pemerintah Indonesia telah meluncurkan berbagai moratorium dan upaya restorasi gambut, fakta lapangan menunjukkan bahwa kebakaran tetap marak, terutama di lahan gambut dan area perkebunan kelapa sawit. Ada konflik kepentingan yang jelas antara keuntungan jangka pendek dari pembakaran lahan untuk pertanian dengan keberlanjutan lingkungan dan kesehatan publik. Saya mengkritik keras ketimpangan insentif ekonomi: biaya pemadaman dan pemulihan ditanggung negara dan masyarakat, sementara pelaku pembakaran sering luput dari sanksi berat.

Dari sudut pandang bisnis, perusahaan-perusahaan multinasional yang rantai pasoknya bergantung pada komoditas dari Sumatra dan Kalimantan mulai mempertanyakan keberlanjutan sumber daya. Sertifikasi RSPO dan kebijakan bebas deforestasi menjadi tuntutan pasar global. Jika Indonesia tidak mampu menekan kebakaran, kita berisiko kehilangan daya saing ekspor kelapa sawit dan produk turunannya, yang merupakan tulang punggung perekonomian beberapa daerah. Selain itu, sektor pariwisata di Singapura dan Malaysia juga akan merugi karena wisatawan mancanegara menghindari destinasi dengan polusi tinggi. Ini adalah peringatan dini bahwa kerusakan lingkungan memiliki price tag yang sangat nyata di neraca perdagangan dan investasi.

Ke depan, diperlukan pendekatan berbasis insentif ekonomi, misalnya pemberian kompensasi kepada petani yang beralih ke metode tanpa bakar, penguatan pengawasan satelit, serta kerja sama lintas negara yang lebih konkret. Tanpa perubahan fundamental, kita akan terus menyaksikan ritual tahunan yang merugikan semua pihak. Saya mendesak pemerintah Indonesia untuk mengalokasikan anggaran pemadaman dan restorasi secara lebih efektif, sekaligus membuka ruang bagi partisipasi swasta dan masyarakat sipil dalam pengelolaan lahan berkelanjutan. Krisis ini harus menjadi momentum untuk merombak kebijakan agraria dan kehutanan, bukan sekadar respons darurat musiman.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

Q: Apa itu PSI dan apa arti angka 105?
A: PSI (Pollutant Standards Index) adalah indeks kualitas udara. Angka 105 masuk kategori tidak sehat (101-200), artinya udara mulai berisiko bagi kelompok sensitif seperti anak-anak, lansia, dan penderita penyakit pernapasan, serta dapat memicu gejala bagi semua orang jika terpapar dalam waktu lama.
Q: Apa penyebab utama kabut asap tahun ini?
A: Kabut asap disebabkan oleh kebakaran hutan dan lahan di Indonesia, terutama di Sumatra dan Kalimantan, yang dipicu oleh cuaca kering ekstrem akibat El Nino Super. Praktik pembakaran lahan untuk pertanian dan perkebunan masih menjadi akar masalah.
Q: Berapa lama kabut asap diperkirakan bertahan dan bagaimana dampaknya terhadap ekonomi?
A: Menurut prediksi meteorologi, kabut dapat bertahan hingga dua pekan ke depan, tergantung arah angin dan curah hujan. Dampak ekonomi meliputi penurunan produktivitas kerja, biaya kesehatan, gangguan penerbangan dan pariwisata, serta potensi penurunan kepercayaan investor terhadap pengelolaan lingkungan di kawasan.
Meow! Tanya Nesi!
😸