LPS Gelar Festival Keuangan di Lampung: Benarkah Jadi Solusi Literasi yang Rendah?

Ekonomi & Pasar
Hendra GunawanHendra Gunawan
Hendra Gunawan
Hendra Gunawan
Pengamat Bisnis

Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

LPS Gelar Festival Keuangan di Lampung: Benarkah Jadi Solusi Literasi yang Rendah?
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • LPS menggelar Lampung Financial Festival 2026 pada 5-6 September untuk meningkatkan literasi penjaminan simpanan yang masih di bawah rata-rata nasional.
  • Literasi penjaminan di Lampung hanya 58,5%, sedangkan nasional 62,5% — artinya 4 dari 10 warga Lampung belum paham jaminan simpanan.
  • Acara menghadirkan deretan tokoh nasional dan lokal, dari menteri hingga selebriti, serta diskusi perbankan dan keuangan digital.

Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) akan menggelar Lampung Financial Festival 2026 selama dua hari pada 5–6 September di Bandar Lampung. Kegiatan ini menjadi bagian dari program tahunan LPS untuk mendongkrak literasi keuangan, khususnya pemahaman masyarakat tentang penjaminan simpanan perbankan.

Ketua Dewan Komisioner LPS, Anggito Abimanyu, menyatakan pemilihan Lampung sebagai lokasi bukan tanpa alasan. Berdasarkan survei LPS, tingkat literasi penjaminan simpanan di Lampung hanya 58,5% — di bawah rata-rata nasional 62,5%. "Ini bukan tiba-tiba. Ini program tahunan. Kami mengadakan semacam financial festival setahun dua kali," ujar Anggito dalam konferensi pers di Novotel Bandar Lampung, Jumat (4/9/2026).

Hari pertama (5/9) akan dibuka oleh Wakil Ketua Dewan Komisioner LPS, Farid Azhar Nasution, dengan sambutan dari Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal. Sesi 1on1 menghadirkan Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan, inspirasi dari Raffi Ahmad dan Nagita Slavina, serta business talk dengan Chief Marketing Officer Raja Emas Indonesia, M. Rahmat. Tak ketinggalan, Chairul Tanjung — pendiri CT Corp — akan berbagi inspirasi sebagai "Anak Singkong". Sore ditutup dengan educational class dan pertunjukan musik.

Hari kedua (6/9) diawali mini talkshow bersama Walikota Bandar Lampung Eva Dwiana dan Rektor UNILA Lusmeilia Afriani. Sesi 1on1 dari Kepala Eksekutif Pengawas Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, Aset Keuangan Digital, dan Aset Kripto OJK akan membahas perkembangan keuangan digital. Kemudian diskusi panel dengan direktur utama dan direksi dari bank-bank besar: Bank Mandiri, BRI, BTN, BNI, dan Bank Syariah Indonesia. Sore diisi Stand Up Comedy Marshel Widianto, inspirasi Wakil Menteri Kebudayaan Giring Ganesha, sesi bersama Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, COO Danantara Dony Oskaria, dan ditutup dengan inspirasi dari Anggito Abimanyu sendiri.

Analisis Pakar

Sebagai pengamat ekonomi makro, saya melihat festival ini adalah langkah taktis namun masih jauh dari cukup. Angka literasi 58,5% di Lampung memang mengkhawatirkan, tetapi menggelar acara seremonial dua hari dengan deretan artis dan politisi bukanlah resep ajaib. Literasi keuangan bukan sekadar tahu bahwa simpanan dijamin — melainkan pemahaman tentang risiko, bunga, inflasi, dan produk keuangan lainnya. Festival semacam ini berisiko menjadi ajang hiburan semata, tanpa dampak terukur terhadap perilaku menabung masyarakat.

Kehadiran tokoh seperti Raffi Ahmad dan Nagita Slavina memang mampu menarik perhatian anak muda, tetapi saya mempertanyakan kedalaman materi yang disampaikan. Apakah mereka benar-benar punya kapasitas untuk mengedukasi soal penjaminan simpanan? Atau hanya sekadar bintang tamu untuk menaikkan antusiasme? LPS seharusnya lebih fokus pada program berkelanjutan — misalnya integrasi edukasi keuangan ke kurikulum sekolah, kerjasama dengan koperasi dan pesantren, serta kampanye digital yang menjangkau pelosok. Festival sifatnya insidental dan biayanya tidak murah, sementara dampak jangka panjangnya sering sulit diukur.

Yang lebih menarik adalah sesi dengan OJK dan para direktur bank besar. Ini menunjukkan sinergi antar lembaga, namun diskusi panel seringkali terlalu teknis dan tidak menjangkau masyarakat akar rumput. Saya berharap ada tindak lanjut nyata, misalnya pembukaan layanan konsultasi keuangan gratis pasca-festival atau program agen literasi di tingkat desa. Selain itu, kehadiran Menteri Keuangan dan COO Danantara bisa menjadi sinyal bahwa pemerintah serius, tetapi tanpa kebijakan insentif menabung — seperti peningkatan bunga atau perlindungan deposito yang lebih transparan — acara ini hanya akan menjadi formalitas tahunan.

Kesimpulan saya: Festival ini perlu diapresiasi sebagai upaya mendekatkan LPS ke masyarakat, tetapi jangan berharap angka literasi langsung melonjak. Yang dibutuhkan adalah strategi holistik dan evaluasi berkala. Saya mendesak LPS untuk merilis data dampak pasca-festival, misalnya survei sebelum dan sesudah, agar publik bisa menilai efektivitas biaya dan waktu. Jika tidak, acara ini akan menjadi sekadar pameran semata — dan rakyat Lampung tetap tidak paham hak mereka sebagai nasabah.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Apa itu Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) dan apa fungsinya?
    A: LPS adalah lembaga independen yang menjamin simpanan nasabah perbankan di Indonesia. Setiap nasabah mendapat jaminan hingga Rp 2 miliar per bank jika bank mengalami gagal bayar. LPS juga mengawasi kesehatan bank dan melakukan edukasi literasi keuangan.
  • Q: Mengapa LPS memilih Lampung untuk festival keuangan 2026?
    A: Karena tingkat literasi penjaminan simpanan di Lampung (58,5%) masih di bawah rata-rata nasional (62,5%). LPS menilai perlu intervensi khusus untuk meningkatkan pemahaman masyarakat Lampung tentang jaminan simpanan dan produk keuangan.
  • Q: Apa saja manfaat mengikuti festival keuangan bagi masyarakat umum?
    A: Pengunjung bisa mendapatkan pengetahuan langsung dari para ahli, konsultasi gratis dengan perbankan, memahami hak nasabah, mengenal produk keuangan digital, serta mendapatkan inspirasi dari tokoh nasional. Namun, manfaat jangka panjang tergantung pada seberapa serius peserta mengaplikasikan ilmu yang didapat.
Meow! Tanya Nesi!
😸