Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Dari Lahan Mati Jadi Ladang Uang: Kisah Petani Dumai yang Panen Durian dan Listrik Surya

Ekonomi & PasarDian KusumaDian KusumaSumber: CNBC Indonesia
Dian Kusuma
Dian Kusuma
Pakar Keuangan

Edukator keuangan milenial dengan pendekatan yang mudah dipahami.

Dari Lahan Mati Jadi Ladang Uang: Kisah Petani Dumai yang Panen Durian dan Listrik Surya
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Petani di Bukit Timah Dumai mengubah lahan belukar tak produktif menjadi kebun buah (durian, kelengkeng) dan peternakan sapi yang menguntungkan.
  • Usaha produktif ini kini didukung oleh pemanfaatan energi surya, menjadikannya percontohan Desa Energi Berdikari.
  • Model ini menunjukkan potensi ekonomi hijau yang terintegrasi, dari pertanian hingga energi terbarukan, dengan dampak sosial dan ekonomi nyata bagi masyarakat desa.

Jakarta, CNBC Indonesia – Di balik hiruk-pikuk kota Dumai, sekelompok petani di kawasan Bukit Timah Dumai membuktikan bahwa lahan yang selama ini dianggap β€œmati” justru bisa menjadi mesin pertumbuhan ekonomi. Mereka menyulap belukar yang tak terurus menjadi kebun buah-buahan premium, seperti durian dan kelengkeng, serta kandang sapi yang terintegrasi. Yang lebih menarik, seluruh operasional kini mulai ditopang oleh panel energi surya, menurunkan biaya listrik dan meningkatkan efisiensi produksi.

Perjalanan jurnalis CNBC Indonesia, Crysania Suhartanto, menyusuri Desa Energi Berdikari Bukit Timah mengungkap bagaimana inisiatif berbasis masyarakat ini berkembang dari proyek percontohan menjadi sumber penghidupan yang berkelanjutan. Dengan dukungan teknologi sederhana namun tepat guna, para petani tidak hanya panen buah, tetapi juga β€œpanen” energi dari matahari. Hasilnya, pendapatan desa melonjak dan ketergantungan pada bahan bakar fosil berkurang drastis.

Program Energy Expedition yang ditayangkan dalam Power Lunch CNBC Indonesia (Jumat, 04/09/2026) menyoroti bahwa sinergi antara pertanian, peternakan, dan energi terbarukan bukanlah utopia, melainkan realitas yang bisa ditiru di berbagai wilayah Indonesia. Para petani setempat kini tak hanya menjadi produsen komoditas, tetapi juga pelaku utama transisi energi di tingkat akar rumput.

Analisis Pakar

Transformasi lahan belukar di Bukit Timah Dumai bukan sekadar cerita sukses lokal, melainkan cerminan dari potensi besar ekonomi sirkular berbasis sumber daya alam tropis. Dari kacamata makro ekonomi, inisiatif ini menjawab tiga tantangan sekaligus: produktivitas lahan, ketahanan pangan, dan transisi energi. Yang patut diapresiasi adalah pendekatan holistik yang tidak hanya mengejar keuntungan jangka pendek, tetapi membangun ekosistem usaha yang saling menguatkan – limbah tanaman menjadi pakan sapi, kotoran sapi menjadi pupuk, dan energi surya menekan biaya operasional. Ini adalah contoh nyata dari green productivity yang selama ini hanya ada di buku teks.

Namun, saya melihat ada pekerjaan rumah besar agar model ini bisa direplikasi. Pertama, masalah akses pembiayaan. Petani di daerah terpencil seringkali sulit mendapatkan kredit usaha rakyat dengan bunga rendah, padahal investasi awal untuk panel surya dan bibit unggul cukup tinggi. Kedua, rantai pasok dan pemasaran. Komoditas seperti durian dan kelengkeng memiliki nilai tambah yang sangat tinggi jika diolah lebih lanjut, bukan hanya dijual mentah. Pemerintah daerah dan pelaku usaha swasta harus turun tangan membangun kemitraan yang adil agar petani tidak menjadi price taker. Ketiga, aspek kelembagaan – keberlanjutan proyek semacam ini sangat bergantung pada kepemimpinan lokal dan kapasitas manajemen. Tanpa pendampingan teknis dan administrasi yang berkelanjutan, energi surya yang terpasang bisa menjadi pajangan mahal belaka.

Dari sisi kebijakan, saya menilai program Desa Energi Berdikari seharusnya menjadi bagian dari strategi nasional pemulihan ekonomi pasca-pandemi dan menghadapi gejolak harga energi global. Dengan mengintegrasikan pertanian dan energi terbarukan, kita tidak hanya menciptakan lapangan kerja hijau, tetapi juga mengurangi impor energi dan meningkatkan nilai tambah ekspor komoditas. Bukit Timah bisa menjadi laboratorium hidup bagi Kementerian ESDM dan Kementerian Pertanian untuk merancang skema insentif yang lebih konkret, termasuk keringanan pajak dan subsidi silang untuk peralatan energi bersih. Jika ini digulirkan secara masif, bukan tidak mungkin Indonesia bisa menjadi lumbung pangan sekaligus pusat energi surya tropis di Asia Tenggara.

Yang tidak kalah penting adalah aspek sosial. Keberhasilan ini membuktikan bahwa petani, jika diberi akses pengetahuan dan teknologi, mampu berinovasi melampaui ekspektasi. Mereka bukan lagi sekadar penerima program, tetapi mitra pembangunan. Saya optimistis, dengan dukungan kebijakan yang tepat dan sinergi lintas sektor, cerita Bukit Timah akan menjadi narasi besar tentang kebangkitan ekonomi desa yang mandiri dan berkelanjutan. Tapi ingat, optimisme harus dibarengi dengan eksekusi dan monitoring yang ketat – jangan sampai semangat ini padam di tengah jalan karena birokrasi yang berbelit.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Apa itu Desa Energi Berdikari Bukit Timah?
    A: Sebuah program percontohan di Dumai, Riau, di mana petani mengubah lahan belukar menjadi kebun buah dan peternakan sapi yang beroperasi dengan tenaga surya, bertujuan untuk kemandirian energi dan peningkatan ekonomi desa.
  • Q: Bagaimana energi surya membantu usaha pertanian dan peternakan?
    A: Panel surya menyuplai listrik untuk irigasi, pengolahan hasil panen, dan penerangan kandang, sehingga menekan biaya operasional hingga 40% dan mengurangi ketergantungan pada listrik PLN atau genset berbahan bakar diesel.
  • Q: Apakah model ini bisa diterapkan di daerah lain di Indonesia?
    A> Sangat mungkin, asalkan ada dukungan pembiayaan, pendampingan teknis, dan akses pasar. Keberhasilan sangat bergantung pada komitmen komunitas dan kemitraan dengan pemerintah/swasta untuk mengatasi kendala awal.

BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Meow! Tanya Nesi!
😸