Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

UGM Siap Perang Hukum: 5 Mahasiswanya Jadi Korban Penganiayaan di Simpang Gramedia, Polisi Diminta Bersih-bersih Premanisme

HukumSiti RahmawatiSiti RahmawatiSumber: CNN Nasional
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

UGM Siap Perang Hukum: 5 Mahasiswanya Jadi Korban Penganiayaan di Simpang Gramedia, Polisi Diminta Bersih-bersih Premanisme
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Enam mahasiswa (5 UGM, 1 UNY) mengalami luka serius seperti robek di jidat dan trauma akibat kekerasan saat demo di Simpang Gramedia, Selasa (1/9).
  • UGM melalui WR III Arie Sudjito menegaskan akan menempuh jalur hukum dan tidak mentolerir praktik kekerasan atau premanisme politik.
  • Pihak kampus menyebut provokasi justru datang dari kelompok masyarakat luar yang memukul mundur mahasiswa di malam hari.

YOGYAKARTA – Universitas Gadjah Mada (UGM) tidak main-main dalam merespons insiden berdarah yang menimpa mahasiswanya. Usai aksi Aliansi Masyarakat Sipil di Simpang Gramedia, Jalan Jenderal Sudirman, Selasa (1/9) lalu, kampus negeri ini mengancam akan membawa kasus dugaan kekerasan tersebut ke meja hijau.

Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan UGM, Arie Sudjito, menyatakan bahwa langkah advokasi hukum sedang disiapkan sebagai bentuk perlindungan terhadap lima mahasiswanya yang menjadi korban penganiayaan. Satu korban lain berasal dari Universitas Negeri Yogyakarta (UNY).

“Siapapun melakukan kekerasan harus bertanggung jawab. Saya khawatir ini akan menjadi model (pola) kalau dibiarkan, kekerasan ini bisa mengancam siapapun. Karena itu tidak ada toleransi untuk praktik-praktik kekerasan,” tegas Arie di Balairung, Rabu (2/9).

Data medis yang dihimpun Direktorat Kemahasiswaan UGM memperlihatkan kebrutalan yang tidak wajar dalam demonstrasi damai. Para mahasiswa mengalami memar di pelipis, luka robek di jidat dan bibir, hingga trauma berat. Direktur Kemahasiswaan, Hempri Suyatna, membeberkan bahwa korban sempat dirawat di RS Panti Rapih sebelum dipulangkan dini hari.

Yang mencengangkan, pihak kampus mengklaim mahasiswa justru menjadi sasaran empuk kelompok luar. “Sekitar jam 22.00, teman-teman mahasiswa dipukul mundur oleh kelompok-kelompok masyarakat dan ironisnya dengan berbagai bentuk aksi kekerasan yang tidak sepantasnya terjadi,” ungkap Hempri. Ia menyoroti adanya provokasi sejak pukul 19.00 yang diduga berasal dari pihak di luar Aliansi Masyarakat Sipil.

Arie turut menyoroti peran pasif aparat keamanan. Di tengah situasi sesak (crowded), ia meminta kepolisian mengambil peran aktif melindungi warga negara yang sedang menyampaikan aspirasi, bukan justru membiarkan praktik premanisme politik berlangsung.

Analisis Pakar

Sebagai jurnalis yang telah puluhan tahun meliput dinamika sosial-politik di Tanah Air, saya melihat insiden di Simpang Gramedia bukan sekadar bentrokan fisik biasa. Ini adalah alarm darurat bagi demokrasi kita. Ketika ruang publik yang seharusnya menjadi panggung aspirasi mahasiswa justru berubah menjadi arena perburuan oleh “kelompok tertentu”, kita harus bertanya: di mana negara?

Pernyataan UGM yang akan menempuh jalur hukum adalah langkah yang sangat terlambat namun perlu. Selama ini, kasus kekerasan terhadap demonstran seringkali tenggelam begitu saja karena korban merasa lelah berhadapan dengan sistem. Namun, dengan posisi UGM sebagai institusi besar, tekanan hukum ini harusnya bisa membongkar dalang di balik aksi premanisme tersebut. Jangan sampai polisi hanya menjadi penonton atau, lebih parah lagi, berlindung di balik alasan “massa sudah terlanjur panas”.

Yang perlu dikritisi adalah pola berulang di Yogyakarta. Kota pelajar yang selalu dibanggakan toleransinya ini seringkali menunjukkan sisi gelapnya saat ada suara kritis yang mengganggu kepentingan tertentu. Adanya “kelompok masyarakat” yang tiba-tiba muncul dan melakukan kekerasan fisik terhadap mahasiswa menunjukkan adanya organisasi kekerasan terstruktur yang selama ini dibiarkan tumbuh subur.

Saya menuntut transparansi penuh dari Polda DIY. Jangan hanya mahasiswa yang dimintai keterangan, tetapi juga kelompok penyerang harus diidentifikasi dan ditangkap. Jika tidak, kita sedang menyaksikan matinya hak konstitusional warga negara atas nama ketertiban semu yang dijaga oleh preman. UGM harus konsisten mengawal kasus ini hingga ke pengadilan, agar mahasiswa tidak lagi menjadi bulan-bulanan kekuatan gelap di malam hari.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

Q: Apa yang terjadi dengan mahasiswa UGM di Simpang Gramedia?
A: Lima mahasiswa UGM dan satu mahasiswa UNY mengalami luka fisik seperti robek di jidat dan memar akibat dugaan penganiayaan oleh kelompok massa saat demo pada 1 September.

Q: Apa langkah yang diambil UGM terkait kekerasan ini?
A: UGM melalui WR III Arie Sudjito menyatakan akan menempuh jalur hukum dan advokasi untuk menuntut pertanggungjawaban pelaku kekerasan.

Q: Siapa saja yang terlibat dalam aksi di Simpang Gramedia?
A: Aksi dilakukan oleh Aliansi Masyarakat Sipil, namun pihak UGM menyebut provokasi dan kekerasan justru datang dari kelompok masyarakat luar di lokasi tersebut.

Meow! Tanya Nesi!
😸