Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Trump Usul Ganti Nama Selat Hormuz Jadi 'Selat Trump', Tanda Panas Hubungan AS-Iran Memuncak

DuniaSiti RahmawatiSiti RahmawatiSumber: CNN Internasional
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Trump Usul Ganti Nama Selat Hormuz Jadi 'Selat Trump', Tanda Panas Hubungan AS-Iran Memuncak
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengusulkan penggantian nama Selat Hormuz menjadi 'Selat Trump' melalui platform Truth Social, di tengah eskalasi konflik dengan Iran.
  • Usulan ini merupakan bagian dari pola kebijakan perubahan nama geografis yang dilakukan Trump, termasuk penggantian nama Danau Ontario menjadi 'Danau Amerika' dan Teluk Meksiko menjadi 'Teluk Amerika'.
  • Meskipun Trump mengecilkan usulan tersebut sebagai candaan, pola serupa sebelumnya—seperti penamaan ulang teluk—akhirnya benar-benar diwujudkan melalui perintah eksekutif.

Presiden Donald Trump kembali menjadi sorotan internasional setelah mengusulkan perubahan nama Selat Hormuz, jalur strategis perdagangan minyak global, menjadi "Selat Trump". Usulan tersebut disampaikan pada Rabu (2/9) melalui Truth Social di tengah memanasnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran.

Dalam unggahannya, Trump mengklaim bahwa AS telah menguasai Selat Hormuz sepenuhnya di bawah kendali militer Washington. "Sekarang setelah kita menguasainya di bawah kendali AS, haruskah kita mengubah nama Selat Hormuz menjadi SELAT TRUMP??? Seperti Amerika sendiri, namanya akan menjadi 'lebih panas' dari sebelumnya!" tulis Trump.

Mendukung pernyataan tersebut, Gedung Putih kemudian mengunggah peta Teluk Persia di media sosial dengan label "Selat Trump", disertai keterangan: "Namanya terdengar bagus." Langkah ini menuai reaksi keras dari Iran dan komunitas internasional yang menganggap tindakan tersebut sebagai provokasi unilateral.

Namun, dalam keterangan kepada awak media di Ruang Oval, Trump berusaha meredam tensi dengan menyatakan bahwa usulan tersebut hanya bercanda. "Itu cuma kelakar saja," ujar Trump sambil terkekeh ketika ditanya AFP apakah ia serius mengenai pergantian nama tersebut.

Kendati demikian, pengamat politik internasional mengingatkan bahwa pola serupa telah terjadi sebelumnya. Awal pekan ini, Trump menandatangani perintah eksekutif untuk mengganti nama Danau Ontario menjadi "Danau Amerika" di tengah perselisihan dagang dengan Kanada—satu langkah yang awalnya dianggap lelucon sebelum akhirnya diimplementasikan.

Tak hanya itu, pada hari pertama masa jabatan keduanya di Gedung Putih pada Januari 2025, Trump juga telah mengganti nama Teluk Meksiko menjadi "Teluk Amerika". Baik Meksiko maupun Kanada secara resmi menolak perubahan nama tersebut.

Kebijakan renaming atau perubahan nama geografis ini bahkan meluas hingga ke fasilitas domestik. Trump diketahui semakin sering menamai berbagai tempat dan institusi dengan namanya, termasuk pusat seni Kennedy di Washington yang diubah namanya.

Di saat bersamaan, Kementerian Keuangan AS merilis koin 1 dolar khusus yang menampilkan potret Trump untuk memperingati 250 tahun kemerdekaan Amerika Serikat—langkah yang dianggap sebagian pihak sebagai bentuk kultus individu yang belum pernah terjadi dalam sejarah modern AS.

Situasi ini menunjukkan bahwa dinamika geopolitik di kawasan Timur Tengah semakin tidak terduga, di mana pernyataan seorang kepala negara melalui media sosial dapat berpotensi memicu krisis diplomatik berskala global. Iran sendiri belum memberikan respons resmi, namun para analis menilai eskalasi ini berpotensi mempengaruhi stabilitas jalur energi dunia yang bergantung pada Selat Hormuz.

Analisis Pakar

Dari sudut pandang hubungan internasional, langkah Trump mengusulkan perubahan nama Selat Hormuz menjadi 'Selat Trump' bukanlah sekadar tindakan simbolik semata, melainkan merupakan manifestasi dari apa yang disebut para akademisi sebagai weaponized geography—penggunaan penamaan geografis sebagai alat proyeksi kekuasaan dan dominasi politik. Selat Hormuz, yang terletak antara Iran dan Oman, adalah salah satu chokepoint paling strategis di dunia, dengan sekitar 20-21% konsumsi minyak global melewati jalur ini setiap harinya. Mengklaim perairan ini secara sepihak, bahkan hanya dalam tataran retorika, menunjukkan bahwa Washington tengah menguji batas-batas norma hukum laut internasional yang telah disepakati dalam UNCLOS (United Nations Convention on the Law of the Sea).

Yang更为 menarik adalah pola perilaku Trump yang tampak konsisten dalam melakukan perubahan nama geografis—mulai dari Teluk Meksiko menjadi 'Teluk Amerika', Danau Ontario menjadi 'Danau Amerika', hingga kini Selat Hormuz menjadi 'Selat Trump'. Fenomena ini dapat dianalisis melalui beberapa perspektif. Pertama, dari sisi psikologi politik, tindakan ini merefleksikan apa yang oleh Ernest Becker disebut sebagai 'denial of death'—sebuah mekanisme di mana seorang pemimpin berusaha membangun monumen identitas untuk mendapatkan keabadian melalui penamaan tempat. Kedua, dari sisi strategi politik domestik, langkah-langkah ini merupakan bentuk performative nationalism yang ditujukan kepada basis konstituennya di Amerika, khususnya menjelang siklus elektoral berikutnya.

Namun, dampak internasional dari kebijakan renaming ini tidak boleh dianggap remeh. Dalam teori hubungan internasional, tindakan sepihak yang mengubah nama perairan atau wilayah yang diakui secara internasional tanpa konsensus dapat dikategorikan sebagai unilateral revisionism—pendekatan yang berpotensi merusak tatanan berbasis aturan (rules-based order) yang selama ini dijaga oleh komunitas internasional pasca-Perang Dunia II. Sikap Meksiko dan Kanada yang menolak keras perubahan nama Teluk Meksiko dan Danau Ontario menunjukkan adanya resistensi kolektif dari negara-negara tetangga AS terhadap kebijakan ini. Jika pola ini berlanjut pada Selat Hormuz, kita dapat mengantisipasi reaksi yang jauh lebih keras dari Iran dan negara-negara kawasan Teluk, mengingat sensitivitas geopolitik dan historis yang melingkupi perairan tersebut.

Lebih lanjut, respons Gedung Putih yang langsung mengunggah peta dengan label 'Selat Trump' mengindikasikan bahwa usulan ini, meskipun disebut sebagai candaan, kemungkinan besar merupakan bagian dari strategi komunikasi yang terkoordinasi. Dalam disiplin public diplomacy, ada konsep yang dikenal sebagai 'trial balloon'—di mana sebuah kebijakan atau pernyataan dilontarkan untuk mengukur reaksi publik dan internasional sebelum diimplementasikan secara resmi. Jika respons yang diterima tidak terlalu negatif, bukan tidak mungkin Trump akan menindaklanjuti usulan ini dengan kebijakan eksekutif yang serupa. Oleh sebab itu, komunitas internasional, khususnya negara-negara yang bergantung pada jalur energi Selat Hormuz, perlu bersiap menghadapi kemungkinan eskalasi lebih lanjut, baik dalam dimensi retorika maupun kebijakan konkret. Pada akhirnya, kawasan Timur Tengah dan stabilitas ekonomi global tengah memasuki fase baru ketidakpastian yang memerlukan diplomasi preventif dari seluruh aktor internasional.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

Q: Mengapa Selat Hormuz begitu penting secara strategis?
A: Selat Hormuz adalah jalur sempit antara Iran dan Oman yang menjadi pintu keluar utama minyak dari kawasan Teluk Persia. Sekitar 20-21% konsumsi minyak global melewati jalur ini, menjadikannya salah satu chokepoint paling vital bagi ketahanan energi dunia.

Q: Apakah Trump serius ingin mengganti nama Selat Hormuz menjadi 'Selat Trump'?
A: Trump mengklaim usulan tersebut hanya bercanda. Namun, pola serupa—seperti perubahan nama Teluk Meksiko dan Danau Ontario—awalnya juga dianggap candaan sebelum akhirnya diwujudkan melalui perintah eksekutif.

Q: Bagaimana reaksi internasional terhadap usulan perubahan nama Selat Hormuz?
A: Usulan ini menuai kritik dari berbagai pihak, termasuk Iran dan sekutunya, yang menganggapnya sebagai provokasi unilateral dan pelanggaran terhadap norma hukum internasional. Komunitas internasional menilai tindakan ini dapat merusak stabilitas kawasan dan tatanan dunia berbasis aturan.

BERITA TERKAIT (Dunia)

Meow! Tanya Nesi!
😸