Kunjungan Wisatawan Mancanegara ke RI Tembus 8,98 Juta, Tertinggi Sejak 2020!
Pakar ekonomi makro yang sering menulis mengenai investasi dan pasar saham.

- Ringkasan Singkat BPS mencatat 8,98 juta kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia selama Januari–Juli 2026.
- Angka ini merupakan level tertinggi pasca-2020, menunjukkan pemulihan sektor pariwisata pasca-pandemi.
- Meski masih di bawah rekor 2019, tren kenaikan memberi sinyal positif bagi neraca perdagangan jasa dan lapangan kerja.
Ringkasan Singkat
- BPS mencatat 8,98 juta kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia selama Januari–Juli 2026.
- Angka ini merupakan level tertinggi pasca-2020, menunjukkan pemulihan sektor pariwisata pasca-pandemi.
- Meski masih di bawah rekor 2019, tren kenaikan memberi sinyal positif bagi neraca perdagangan jasa dan lapangan kerja.
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa jumlah kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia sepanjang Januari hingga Juli 2026 mencapai 8,98 juta kunjungan. Capaian ini menjadi yang tertinggi sejak tahun 2020, ketika pandemi COVID-19 mengguncang sektor pariwisata global. Meski masih di bawah angka 2019 yang menembus 16 juta kunjungan di periode sama, pertumbuhan tahunan yang signifikan menggambarkan optimisme pemulihan.
Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menyambut baik data ini, seraya menekankan pentingnya diversifikasi destinasi dan perbaikan infrastruktur. Sektor penerbangan dan perhotelan pun mulai menunjukkan peningkatan okupansi, dengan rata-rata hunian hotel bintang 4 dan 5 di Bali dan Jakarta mencapai 75% pada Juli 2026. Namun, tantangan tetap ada, seperti fluktuasi nilai tukar dan persaingan dengan negara tetangga seperti Thailand dan Vietnam yang gencar mempromosikan pariwisata religi dan kuliner.
Data lengkap dan analisis mendalam akan dibahas dalam program Squawk Box CNBC Indonesia, Rabu (03/09/2026).
Analisis Pakar
Sebagai pengamat ekonomi makro, saya melihat angka 8,98 juta ini bukan sekadar statistik, melainkan cermin dari kebijakan fiskal dan moneter yang mulai berpihak pada sektor riil. Pemerintah melalui insentif pajak untuk industri pariwisata dan kemudahan visa turis dari negara-negara prioritas (Tiongkok, India, Australia) mulai berbuah. Namun, jangan terbuai—kita masih kehilangan pangsa pasar dari Thailand yang pada periode sama mencatat 22 juta kunjungan. Perbedaan ini bukan hanya soal destinasi, tetapi juga soal konsistensi promosi, keamanan, dan efisiensi logistik bandara.
Dari sisi neraca pembayaran, devisa dari sektor pariwisata diperkirakan mencapai US$ 12–13 miliar pada akhir 2026, menyumbang sekitar 1,5% terhadap PDB. Ini positif, namun masih di bawah potensi riil. Yang mengkhawatirkan, belanja wisatawan per kunjungan justru stagnan di angka US$ 1.100, tidak meningkat signifikan dari 2019. Artinya, kita menarik lebih banyak turis, tetapi daya beli mereka tidak naik—atau kita gagal menawarkan produk bernilai tambah tinggi seperti wisata kesehatan, MICE, dan ekonomi kreatif.
Kritik saya tertuju pada kurangnya integrasi data antar-kementerian. BPS mencatat kunjungan melalui pintu masuk utama (bandara dan pelabuhan), tetapi banyak wisatawan yang masuk melalui jalur darat dari Malaysia atau Singapura tidak terdata secara akurat. Ini mengakibatkan undercounting dan kebijakan yang tidak tepat sasaran. Selain itu, insentif untuk pelaku usaha kecil di destinasi sekunder (Labuan Bajo, Danau Toba, Likupang) masih minim, sehingga pertumbuhan hanya terpusat di Bali dan Jakarta. Jika tidak segera direformasi, pemulihan ini hanya akan memperlebar ketimpangan wilayah.
Ke depan, saya mendorong Bank Indonesia dan OJK untuk memberikan kredit lunak bagi pengembangan ekowisata dan homestay di desa-desa wisata. Juga, perlunya kampanye masif untuk menarik wisatawan kelas premium dari Eropa dan Timur Tengah, yang memiliki durasi tinggal lebih lama dan pengeluaran lebih tinggi. Tanpa terobosan itu, angka 8,98 juta akan menjadi 'new normal' yang biasa saja, padahal kita bisa melampaui 20 juta jika serius. Saya mengingatkan bahwa pemulihan sektor ini tidak otomatis; perlu kolaborasi swasta, BUMN, dan pemerintah daerah yang terukur.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
- Q: Berapa jumlah kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia pada 2026?
A: BPS mencatat 8,98 juta kunjungan selama Januari–Juli 2026, tertinggi sejak 2020. - Q: Apakah angka ini sudah melampaui masa sebelum pandemi?
A: Belum. Pada periode sama tahun 2019, kunjungan mencapai sekitar 16 juta, jadi masih di bawah 50% dari rekor tertinggi. - Q: Apa dampak ekonomi dari kenaikan kunjungan wisatawan ini?
A: Kenaikan ini meningkatkan devisa negara, menopang sektor perhotelan, transportasi, dan UMKM, serta membuka lapangan kerja. Namun, dampaknya belum merata dan perlu didukung kebijakan yang inklusif.
BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Ancaman Pelemahan Rupiah: Lukman Leong Proyeksi Tembus Rp 18.350, BI Akui Tantangan Menjaga Stabilitas

IHSG Anjlok 3,78% di Akhir Perdagangan, Investor Asing Lepas 10 Saham Unggulan dengan Net Sell Rp575 Miliar

Respons Keras Publik, KAI Batalkan Rencana Perubahan Nama Rute Kereta di Gapeka 2026
