Kebakaran TPA Putri Cempo Tak Kunjung Padam, Wali Kota Solo Ancang-Ancang Water Bombing

Ringkasan Singkat
- Kebakaran di TPA Putri Cempo Solo masih berlangsung sejak Rabu (2/9) malam hingga Kamis (3/9) sore.
- Wali Kota Respati Ardi berencana meminta bantuan water bombing jika api belum padam malam ini.
- Pemkot sudah membagikan masker, menyiapkan oksigen, dan mengevakuasi warga terdampak.
Kebakaran yang melanda Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Putri Cempo, Solo, Jawa Tengah, masih berkobar hingga Kamis (3/9) sore. Wali Kota Solo, Respati Ardi, menyatakan bahwa Pemerintah Kota (Pemkot) Solo akan meminta bantuan penyiraman masif lewat udara atau water bombing jika upaya pemadaman darat tidak membuahkan hasil hingga malam ini.
Petugas gabungan dari Kebakaran Soloraya, TNI, dan Polri terus berjibaku menjinakkan api di TPA terbesar di Soloraya itu. Respati menegaskan, hari ini fokus utama adalah penyekatan agar api tidak meluas ke permukiman warga. "Kami sudah berkomunikasi dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Provinsi," ujarnya saat ditemui di House of Danar Hadi, Solo, Kamis sore.
Respati berharap kebakaran bisa ditangani malam ini. Namun, jika masih belum padam, koordinasi untuk bantuan udara akan dilakukan besok pagi. Selain pemadaman, Pemkot juga membagikan masker ke warga sekitar dan Dinas Kesehatan menyiagakan tabung oksigen bagi yang mengalami gangguan pernapasan. "Warga terdampak sudah kami evakuasi dengan layak," kata Respati.
Analisis Pakar
Kebakaran TPA Putri Cempo bukan sekadar bencana teknis, melainkan cerminan kegagalan sistemik pengelolaan sampah di kota besar. Sebagai jurnalis investigasi, saya mencatat bahwa TPA ini telah berulang kali terbakar—ini bukan pertama kalinya. Ironisnya, solusi yang ditawarkan masih bersifat reaktif: water bombing. Padahal, penyiraman dari udara hanya mengatasi permukaan, sementara api di kedalaman tumpukan sampah yang bisa mencapai puluhan meter justru tetap membara dan melepaskan gas metan beracun. Tanpa pembenahan fundamental, kebakaran akan terulang, bahkan bisa lebih parah.
Keputusan Wali Kota untuk meminta bantuan air force patut diapresiasi sebagai langkah darurat, namun saya menilai kurang adanya transparansi mengenai rencana jangka panjang. Pemkot Solo seharusnya sudah memiliki peta mitigasi risiko kebakaran TPA, termasuk sistem pemantauan suhu bawah permukaan dan penanganan gas metan. Fakta bahwa evakuasi baru dilakukan setelah api berkobar menunjukkan kesiapsiagaan yang masih terlambat. Masyarakat berhak mendapatkan penjelasan mengapa protokol darurat tidak diaktifkan lebih awal.
Lebih jauh, dampak kesehatan dan lingkungan akibat kebakaran ini sangat serius. Asap yang mengandung dioksin dan partikel halus (PM2,5) bisa menjangkau radius puluhan kilometer, mengancam warga Solo dan sekitarnya. Pembagian masker memang solusi instan, tetapi tanpa edukasi tentang penggunaan masker yang benar dan pemantauan kualitas udara secara real-time, langkah itu setengah hati. Saya mendesak Dinas Kesehatan untuk merilis data kualitas udara harian dan membuka posko kesehatan 24 jam di titik-titik rawan.
Terakhir, insiden ini harus menjadi pemicu bagi pemerintah pusat dan daerah untuk mengakselerasi transisi dari sistem open dumping ke pengolahan sampah modern, seperti waste-to-energy atau biogas. Water bombing hanya menunda masalah; akar persoalannya ada pada pengelolaan sampah yang tidak berkelanjutan. Sebagai warga negara, kita berhak menuntut roadmap yang jelas dan anggaran yang akuntabel. Tanpa itu, TPA Putri Cempo akan terus menjadi "bom waktu" lingkungan yang merugikan rakyat.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
- Q: Apakah water bombing efektif untuk memadamkan kebakaran TPA?
A: Water bombing hanya efektif untuk memadamkan api di permukaan, tetapi tidak mampu menjangkau api di dalam tumpukan sampah. Untuk kebakaran TPA, diperlukan kombinasi penyekatan, penggalian, dan pemadaman berbasis busa, serta penanganan gas metan. - Q: Bagaimana dampak asap kebakaran TPA terhadap kesehatan?
A: Asap mengandung partikel berbahaya seperti dioksin dan PM2.5 yang dapat memicu gangguan pernapasan akut, iritasi mata, dan penyakit kardiovaskular. Kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan penderita asma sangat berisiko. - Q: Apa yang harus dilakukan warga jika terkena dampak kebakaran TPA?
A: Warga disarankan menggunakan masker N95 atau KN95 di luar ruangan, menutup jendela dan pintu, menggunakan pembersih udara (air purifier), dan segera ke fasilitas kesehatan jika mengalami sesak napas atau batuk persisten. Pemkot Solo telah menyediakan oksigen dan posko evakuasi.
BERITA TERKAIT (Berita Daerah)

200 Warga Pondok Bambu Ikuti Sosialisasi Jemput Bola Perlindungan Sosial dan Desil

Ancol Transformasi Masjid Apung An-Nur Jadi Pusat Ibadah dan Silaturahmi Sosial

Cegah Balap Liar, Pemkot Jaksel Tutup Lima Akses JLNT Antasari Saat Akhir Pekan
