Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Kebakaran TPA Putri Cempo: Darurat Asap, Warga Dievakuasi, dan Pengelolaan Sampah yang Kembali Gagal

Berita DaerahBudi SantosoBudi SantosoSumber: CNN Nasional
Budi Santoso
Budi Santoso
Editor

Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Kebakaran TPA Putri Cempo: Darurat Asap, Warga Dievakuasi, dan Pengelolaan Sampah yang Kembali Gagal
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Kebakaran hebat melanda TPA Putri Cempo di Mojosongo, Solo, pada Rabu malam (2/9), dengan api membakar gunungan sampah.
  • Puluhan armada pemadam dari Solo dan Karanganyar dikerahkan; satu RT dievakuasi dan masker dibagikan untuk warga terdampak asap.
  • Kejadian ini kembali menyoroti buruknya sistem pengelolaan sampah dan kesiapsiagaan bencana di kota besar.

Kebakaran besar melanda Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Putri Cempo di Kelurahan Mojosongo, Kecamatan Jebres, Solo, Jawa Tengah, pada Rabu malam (2/9). Api dengan cepat membesar di tumpukan sampah yang menggunung, menjadikan TPA terbesar di Soloraya itu lautan api yang menyala terang hingga dini hari.

Pantauan di lokasi menunjukkan puluhan unit mobil pemadam kebakaran dikerahkan dari Kota Solo dan Kabupaten Karanganyar. Petugas berjibaku memadamkan api di tengah kepulan asap tebal yang mengganggu jarak pandang. Wali Kota Solo, Respati Ardi, mengonfirmasi bahwa satu Rukun Tetangga (RT) terpaksa dievakuasi karena asap racun yang terbawa angin ke pemukiman warga. Pemerintah Kota juga membagikan masker secara massal untuk mengurangi risiko gangguan pernapasan, namun langkah itu dinilai reaktif dan tidak menyelesaikan akar masalah.

Kebakaran di TPA Putri Cempo bukanlah insiden pertama. TPA ini telah beberapa kali terbakar dalam beberapa tahun terakhir, menandakan kegagalan sistemik dalam pengelolaan sampah dan mitigasi bencana. Tumpukan sampah organik dan anorganik yang bercampur, ditambah gas metana dari pembusukan, menciptakan bom waktu yang siap meledak kapan saja. Sementara itu, evakuasi warga yang baru dilakukan setelah api membesar menunjukkan kesiagaan yang masih jauh dari standar.

Analisis Pakar

Sebagai jurnalis investigasi yang telah menyaksikan puluhan bencana serupa, saya menilai kebakaran TPA Putri Cempo adalah cermin nyata dari kebijakan pengelolaan sampah yang mandek di Indonesia. Pemerintah kota lebih sibuk dengan proyek-proyek infrastruktur yang gemerlap, tetapi abai pada fasilitas dasar seperti TPA yang layak. Sistem pengolahan sampah dengan metode open dumping—yang masih diterapkan di banyak daerah—sudah usang dan berbahaya. Tidak ada pemisahan sampah, tidak ada pengolahan biogas, tidak ada sistem pemadaman otomatis. Akibatnya, setiap musim kemarau, kebakaran menjadi rutinitas yang memakan korban.

Yang lebih memprihatinkan adalah respons darurat yang bersifat sekadar reaktif. Membagikan masker setelah asap mengepul adalah tindakan simbolis, bukan solusi. Mengapa tidak ada peringatan dini? Mengapa tidak ada rencana evakuasi terstruktur? Satu RT yang dievakuasi mungkin terdengar kecil, tetapi dampak psikologis dan kesehatan bagi warga di sekitarnya akan terasa lama. Partikel halus dari pembakaran sampah mengandung dioksin dan furan—karsinogen kelas satu. Masker biasa tidak cukup melindungi; yang dibutuhkan adalah evakuasi menyeluruh dan pemeriksaan kesehatan berkala.

Tak hanya itu, kebakaran ini juga mengungkap lemahnya koordinasi antar-daerah. Solo dan Karanganyar mengerahkan armada, tetapi mengapa tidak ada bantuan dari provinsi? Pusat juga tampak absen. Ini adalah bencana yang dampaknya lintas wilayah, namun penanganannya masih bersifat parokial. Saya mendesak Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan untuk mengaudit seluruh TPA besar di Indonesia dan memaksa pemerintah daerah beralih ke teknologi pengolahan sampah ramah lingkungan, seperti insinerator modern atau pengomposan skala industri. Jika tidak, korban jiwa bukanlah hal yang mustahil.

Kita tidak bisa terus berpangku tangan. Masyarakat Solo harus menuntut transparansi anggaran pengelolaan sampah dan mendorong pembentukan tim tanggap bencana yang terlatih khusus untuk TPA. Wali Kota Respati Ardi harus menjelaskan secara terbuka peta jalan perbaikan TPA Putri Cempo, termasuk jadwal penutupan zona sampah yang telah melewati kapasitas. Warga berhak mendapatkan lingkungan yang sehat, bukan menjadi penampung limbah kota yang dikelola dengan cara abad ke-19. Ini adalah panggilan darurat; jika tidak direspons, kebakaran berikutnya akan lebih besar, lebih cepat, dan lebih mematikan.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

Q: Apakah kebakaran TPA Putri Cempo sudah padam?
A: Hingga berita ini diturunkan, api belum sepenuhnya padam. Petugas masih melakukan pendinginan dan pemadaman di titik-titik panas, namun asap mulai berkurang.
Q: Apa penyebab utama kebakaran di TPA Putri Cempo?
A: Penyebab pasti masih diselidiki, namun faktor utama adalah tumpukan sampah yang membusuk menghasilkan gas metana, ditambah cuaca panas dan kemungkinan adanya percikan api dari aktivitas pemulung atau pembakaran liar.
Q: Bagaimana dampak asap kebakaran bagi kesehatan warga sekitar?
A: Asap mengandung partikel berbahaya seperti dioksin dan karbon monoksida yang dapat menyebabkan iritasi mata, sesak napas, dan gangguan pernapasan jangka panjang. Warga disarankan memakai masker N95 dan tetap di dalam ruangan.

BERITA TERKAIT (Berita Daerah)

Meow! Tanya Nesi!
😸