Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Indonesia Punya Nikel Tapi 'Buta' Demand: Tantangan Rantai Pasok Baterai Rp Ribuan Triliun

Ekonomi & PasarHendra GunawanHendra GunawanSumber: CNBC Indonesia
Hendra Gunawan
Hendra Gunawan
Pengamat Bisnis

Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

Indonesia Punya Nikel Tapi 'Buta' Demand: Tantangan Rantai Pasok Baterai Rp Ribuan Triliun
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Indonesia sudah memiliki infrastruktur baterai (packers dan produksi sel), namun belum memiliki visibilitas permintaan (demand) yang jelas untuk pengembangan ekosistem hilir.
  • Ketua Indonesia Battery Corporation (IBC), Niko Chandra, menyoroti tiga PR besar: aspek keamanan baterai, regulasi daur ulang (recycling), dan kolaborasi lintas kementerian (pentahelix).
  • Selain mobil listrik dan PLTS, baterai kini menjadi kebutuhan vital untuk pusat data (data center), infrastruktur AI, dan robotika — membuka pasar baru yang sangat masif.

Jakarta – Gelombang elektrifikasi global tidak lagi sekadar soal siapa yang memproduksi mobil listrik terbanyak. Perebutan kekuasaan ekonomi abad ini justru berpindah ke penguasaan rantai pasok baterai—mulai dari tambang nikel di Tanah Air, smelter, bahan katoda, hingga pabrik sel dan pack baterai.

Dalam gelaran Indonesia Energy and Engineering (IEE) Series 2026, Kamis (3/9/2026), Ketua ID Battery sekaligus Direktur Pengembangan Bisnis Indonesia Battery Corporation (IBC), Niko Chandra, mengakui bahwa Indonesia kini sudah tak bisa dipandang sebelah mata di industri baterai dunia.

"Fasilitas baterai sudah berkembang, baik itu battery packers maupun produksi cell. Industri baterai mengalami pertumbuhan," ujar Niko di sela-sela acara.

Modal besar itu, menurutnya, harus segera diterjemahkan menjadi ekosistem baterai hulu hingga hilir—artinya mencakup rantai pasok penuh hingga kepastian permintaan (demand). Indonesia diuntungkan oleh cadangan nikel yang melimpah sebagai bahan baku utama.

Namun, Niko menekankan satu hal yang selama ini menjadi titik lemah Indonesia: visibilitas demand.

"Yang dibutuhkan pelaku industri paling utama adalah visibility dari sisi demand. Maksudnya, tumbuhnya demand baterai sejauh mana," tegas Niko.

Tiga Pekerjaan Rumah Besar

Pertama, soal keamanan (safety). Aspek ini menjadi sangat krusial untuk membangun kepercayaan publik terhadap penggunaan baterai, khususnya pada kendaraan listrik. Niko mendorong agar standar nasional (SNI) dan infrastruktur pengujian baterai yang sudah ada, naik statusnya dari yang semula bersifat sukarela (voluntary) menjadi wajib (mandatory).

Kedua, soal keberlanjutan (sustainability). Indonesia belum memiliki regulasi daur ulang baterai yang matang. Niko menyebut perlu ada persiapan matang untuk proses recycling maupun penerapan second life application—yaitu pemanfaatan baterai bekas untuk keperluan sekunder.

"Artinya ini yang perlu dilengkapi karena supaya ekosistemnya memang lengkap. Sekarang regulasi di bidang recycle belum ada sepenuhnya," jelasnya.

Ketiga, soal kolaborasi pentahelix. Pengembangan ekosistem baterai bukan tanggung jawab satu kementerian. Diperlukan orkestrasi antara Kementerian Lingkungan Hidup, Kementerian ESDM, Kementerian Perindustrian, hingga Kementerian Perhubungan. Sementara kolaborasi dengan akademisi dan periset menjadi kunci untuk pengembangan teknologi masa depan.

Data Center: Pasar Raksasa yang Sering Terlupakan

Menariknya, Niko memaparkan bahwa baterai tidak hanya dibutuhkan untuk mobil listrik dan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Pusat data atau data center juga menjadi pasar raksasa yang terus meledak—ditambah lagi dengan tren kecerdasan buatan (AI) dan robotika yang membutuhkan sumber daya masif.

"Indonesia sudah menjadi salah satu hub bahkan termasuk negara yang dilirik untuk pengembangan data center," sebutnya.

IBC sendiri turut berpartisipasi dalam Energy Week, bagian dari IEE Series 2026, yang merupakan salah satu pertemuan industri B2B terbesar di Asia Tenggara dengan tema "Sustainability for Industrial Transformation". Niko berharap acara ini menjadi wadah konkret untuk melahirkan rekomendasi kebijakan dan iklim investasi yang lebih kondusif bagi Indonesia.

Analisis Pakar

Sebagai pengamat ekonomi makro yang telah dua dekade mengikuti geliat industri strategis nasional, saya menangkap setidaknya empat sinyal penting dari pernyataan Niko Chandra. Pertama, Indonesia sedang berada di titik persimpangan yang sangat menentukan. Kita sudah memiliki 'modal awal' yang tidak dimiliki banyak negara—cadangan nikel kelas dunia dan infrastruktur baterai yang mulai tumbuh. Namun, tanpa kepastian demand, modal itu akan menjadi 'menara gading' yang indah tapi tidak menghasilkan revenue. Ini adalah ironi klasik pembangunan Indonesia: kita jago membangun kapasitas fisik, tapi lemah dalam hal orkestrasi pasar.

Kedua, soal aspek safety yang harus naik kelas dari voluntary menjadi mandatory adalah keputusan yang tidak bisa ditunda lagi. Bayangkan satu insiden baterai mobil listrik yang masif di Indonesia—selain korban jiwa, imbasnya akan menghantam kepercayaan konsumen yang butuh bertahun-tahun untuk dibangun kembali. Bandingkan dengan kasus Samsung Galaxy Note 7 yang membuat industri ponsel Korea Selatan terguncang. Regulasi SNI wajib bukan hanya soal teknis, tapi juga soal survival industri. Tanpa itu, Indonesia hanya akan menjadi 'pabrik' bagi brand asing yang menikmati untung dari safety engineering mereka sendiri.

Ketiga, absennya regulasi daur ulang baterai adalah bom waktu lingkungan hidup. Lithium-ion battery waste adalah limbah B3 dengan kandungan logam berat yang sangat berbahaya. Tanpa kerangka regulasi yang jelas, Indonesia berpotensi menjadi 'kuburan baterai' dunia—tempat baterai bekas dari berbagai negara berakhir setelah masa pakainya habis. Ini bukan sekadar soal lingkungan, tapi juga soal kedaulatan sumber daya. Logam-logam berharga dalam baterai bekas (litium, kobalt, nikel) bisa di-recover dan menjadi sumber bahan baku sekunder yang sangat ekonomis. Negara seperti Tiongkok sudah memiliki ekosistem ini—kita tertinggal jauh.

Keempat dan ini yang paling menarik—kolaborasi pentahelix harus segera diterjemahkan dari wacana menjadi aksi nyata. Di Indonesia, kita terlalu sering bertemu dengan forum-forum indah yang berakhir di atas kertas. Setiap kementerian memiliki ego sektoralnya sendiri. Tanpa seorang 'chief integrator' yang memiliki otoritas penuh—entah itu di bawah Presiden langsung atau melalui badan khusus—ekosistem baterai nasional akan tetap jalan di tempat. Padahal, jika kita serius, Indonesia bisa menjadi pusat manufaktur baterai dunia pada 2030, dengan potensi revenue triliunan rupiah dan penciptaan jutaan lapangan kerja berkualitas. Tapi semua itu butuh satu hal: political will yang konsisten lintas pemerintahan. Bukan hanya di era Jokowi, tapi juga di era presiden berikutnya.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

Q: Mengapa Indonesia dianggap pemain penting di industri baterai dunia?
A: Karena Indonesia memiliki cadangan nikel terbesar di dunia, yang merupakan bahan baku utama baterai lithium-ion. Selain itu, fasilitas baterai packers dan produksi sel sudah mulai berkembang di dalam negeri.

Q: Apa saja tantangan (PR) terbesar pengembangan ekosistem baterai di Indonesia?
A: Tiga PR utama menurut IBC adalah: (1) belum jelas visibilitas permintaan pasar (demand), (2) standar keamanan baterai yang masih bersifat sukarela padahal harusnya wajib, dan (3) belum adanya regulasi daur ulang (recycling) baterai.

Q: Selain mobil listrik, untuk apa baterai digunakan di masa depan?
A: Baterai juga dibutuhkan untuk Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), pusat data (data center), teknologi AI, dan robotika—semakin memperluas pasar baterai ke sektor-sektor strategis lainnya.

BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Meow! Tanya Nesi!
😸