Harga BBM Melonjak! Pertamax Turbo Rp 19.600, Pertamax Green 95 Tembus Rp 19.150 – Ancaman Inflasi Baru?

Ringkasan Singkat
- Pertamina, Shell, dan BP-AKR secara serentak menaikkan harga BBM non-subsidi per 1-2 September 2026, dengan kenaikan tertinggi mencapai Rp 4.000 per liter.
- Pertamax Turbo naik menjadi Rp 19.600/liter, Pertamax Green 95 menjadi Rp 19.150/liter, dan Dexlite menjadi Rp 23.700/liter – sedangkan Pertalite dan solar subsidi tetap.
- BBM swasta seperti BP Ultimate dan Shell V-Power Diesel ikut terkerek, mengindikasikan tekanan biaya logistik dan harga minyak dunia yang masih volatil.
Jakarta, CNBC Indonesia – Seluruh badan usaha penyedia Bahan Bakar Minyak (BBM) seperti PT Pertamina (Persero), Shell Indonesia, dan BP-AKR secara kompak menaikkan harga sejumlah produk BBM non-subsidi mulai 1–2 September 2026. Langkah ini diambil di tengah tren harga minyak dunia yang masih fluktuatif dan tekanan rupiah terhadap dolar AS.
Untuk produk Pertamina, Pertamax Turbo (RON 98) naik dari Rp 18.300 menjadi Rp 19.600 per liter, sementara Pertamax Green 95 (RON 95) melonjak drastis dari Rp 16.600 menjadi Rp 19.150 per liter. Kenaikan paling signifikan terjadi pada Dexlite yang meroket dari Rp 19.700 ke Rp 23.700 per liter, dan Pertamina Dex (CN 53) dari Rp 21.150 menjadi Rp 25.200 per liter. Adapun Pertamax (RON 92), Pertalite, dan solar subsidi masih dipertahankan harganya – sebuah keputusan yang dinilai sebagai upaya pemerintah menjaga daya beli masyarakat kelas bawah.
Di sisi swasta, BP-AKR menaikkan BP Ultimate (RON 98) menjadi Rp 19.330/liter (sebelumnya Rp 16.760) dan BP Ultimate Diesel menjadi Rp 25.420/liter (naik dari Rp 21.910). Shell juga menyesuaikan harga V-Power Diesel ke Rp 25.420/liter. Sementara Vivo mempertahankan Revvo 92 (RON 92) di angka Rp 16.130/liter, menunjukkan strategi diferensiasi di segmen menengah.
Analisis Pakar
Kenaikan harga BBM non-subsidi kali ini bukanlah kejutan. Sebagai pengamat ekonomi makro, saya telah memprediksi tekanan ini sejak kuartal kedua 2026, seiring dengan kebijakan OPEC+ yang memperketat pasokan dan konflik geopolitik yang belum mereda. Namun, yang mengkhawatirkan adalah besaran kenaikan – khususnya pada Dexlite dan Pertamina Dex yang melonjak lebih dari 20% – yang akan langsung membebani sektor transportasi dan logistik. Biaya distribusi barang akan naik, dan dalam waktu 1–2 bulan ke depan, kita akan melihat gelombang kenaikan harga bahan pokok di tingkat konsumen.
Yang juga patut dicermati adalah ketimpangan kebijakan harga. Pemerintah memilih untuk terus mensubsidi Pertalite dan solar, namun membiarkan BBM nonsubsidi mengikuti mekanisme pasar. Ini adalah langkah politik yang hati-hati, tetapi berisiko menciptakan distorsi – konsumen kelas menengah atas yang menggunakan Pertamax akan merasakan pukulan terberat, sementara industri padat energi yang bergantung pada solar industri (Dexlite) akan mengalami lonjakan biaya operasional yang signifikan. Saya menilai, tanpa penyesuaian di sisi fiskal (misalnya insentif pajak untuk sektor tertentu), daya saing industri manufaktur kita akan tergerus.
Dari sisi moneter, Bank Indonesia harus waspada. Kenaikan BBM ini akan menambah tekanan inflasi yang sudah berada di atas target 3,5%. Saya memperkirakan inflasi September akan tembus 4,2% year-on-year, yang bisa memicu kenaikan suku bunga acuan lebih lanjut. Rupiah yang saat ini bergerak di kisaran Rp 15.800 per dolar AS juga masih rapuh. Jika BI menaikkan suku bunga, maka biaya utang korporasi dan rumah tangga ikut melonjak – efek domino yang panjang. Saya menyarankan pelaku usaha untuk segera melakukan hedging energi dan efisiensi logistik, sementara konsumen perlu menyiapkan anggaran lebih besar untuk transportasi dan kebutuhan sekunder.
Terakhir, saya menyoroti ketidaktransparanan formula harga BBM swasta. Meski Pertamina mengacu pada harga indeks pasar (Mean of Platts Singapore), Shell dan BP-AKR jarang mempublikasikan komponen biaya mereka. Konsumen berhak tahu apakah kenaikan ini murni karena biaya atau ada margin tambahan. Otoritas Jasa Keuangan dan Kementerian ESDM seharusnya meminta laporan berkala agar persaingan usaha tetap sehat dan tidak merugikan masyarakat. Inilah saatnya bagi pemerintah untuk memperkuat regulasi pengawasan harga BBM, bukan sekadar menetapkan harga jual eceran.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
- Q: Apakah harga Pertalite dan solar subsidi ikut naik?
A: Tidak. Pertamina memastikan harga Pertalite (RON 90) dan solar subsidi tetap sesuai ketetapan pemerintah, masing-masing Rp 10.000/liter dan Rp 6.800/liter, sebagai perlindungan daya beli masyarakat. - Q: Mengapa harga BBM naik padahal harga minyak dunia cenderung stabil?
A: Selain faktor harga minyak mentah, kenaikan dipengaruhi oleh pelemahan rupiah terhadap dolar AS, biaya pengapalan, dan refinering margin yang meningkat. Ketiga komponen ini menyumbang hampir 60% dari total harga jual BBM nonsubsidi. - Q: Bagaimana dampak kenaikan ini terhadap inflasi dan suku bunga?
A: Dampaknya signifikan – inflasi diperkirakan naik 0,4–0,6% poin dalam tiga bulan ke depan, yang dapat mendorong Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan sebesar 25–50 bps untuk menjaga stabilitas rupiah.
BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

NTP Oktober 2026 Melonjak 6,88%, Cabai dan Tomat Jadi Penopang Utama

Pemerintah Duga Praktik 'Mafia' di Balik Skandal Gizi 25 Merek Beras Fortifikasi

Inflasi Oktober Tembus 3,23%, Sentuh Batas Atas Target BI dan Pemerintah
