Bara Kembali Mengganas! Kebakaran TPA Putri Cempo Solo Meluas ke Blok C, Warga Siaga Evakuasi
Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Ringkasan Singkat
- Kebakaran di TPA Putri Cempo, Solo, kembali meluas setelah sempat dipadamkan, kini menjalar ke Blok C.
- Angin kencang menjadi kendala utama, memicu munculnya titik-titik api baru dan menyulitkan upaya pemadaman.
- Pemerintah Kota Solo menyiapkan titik evakuasi bagi warga terdampak asap, meski api belum mencapai permukiman.
Kebakaran yang melanda Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) TPA Putri Cempo di Solo, Jawa Tengah, menunjukkan eskalasi yang mengkhawatirkan. Setelah sempat berhasil dijinakkan pada Rabu (2/9) dini hari, api kembali berkobar akibat hembusan angin kencang pada Kamis (3/9) pagi. Upaya pemadaman yang dilakukan petugas selama berjam-jam sempat membuahkan hasil, namun angin yang kembali menggila pada siang hari menyulut bara yang tersisa, memunculkan titik-titik api di sejumlah lokasi.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Solo, Herwin Tri Nugroho, mengungkapkan bahwa awalnya kebakaran hanya terjadi di Blok B dan D, namun kini telah menjalar ke Blok C. “Blok B dan D sudah bisa dikendalikan, tinggal Blok C ini karena memang sulit dijangkau,” ujar Herwin sore tadi. Total area yang terbakar mencapai 6 dari 17 hektar tumpukan sampah, dan luasan ini dikhawatirkan bertambah jika angin tak kunjung reda.
Meskipun api belum mencapai pemukiman warga, asap tebal semakin meluas hingga masuk ke rumah-rumah dan sejumlah sekolah di sekitar TPA. Pemerintah Kota Surakarta melalui BPBD telah menyiapkan titik evakuasi bagi warga yang terdampak. Herwin menegaskan koordinasi lintas dinas terus berjalan, dan sarana prasarana evakuasi sudah siap sedia. Namun, kesiapan ini patut dipertanyakan mengingat kebakaran serupa kerap terjadi di TPA Putri Cempo, tanpa solusi jangka panjang yang nyata.
Analisis Pakar
Fenomena kebakaran di TPA Putri Cempo bukanlah kejadian isolatif. Ini adalah cermin dari kegagalan sistemik pengelolaan sampah di kota-kota besar Indonesia, yang masih mengandalkan metode open dumping – sebuah praktik primitif yang sudah seharusnya ditinggalkan. Tumpukan sampah organik yang membusuk menghasilkan gas metana, yang mudah terbakar, ditambah dengan cuaca kemarau dan angin kencang, menciptakan bom waktu lingkungan. Pemerintah daerah tampaknya hanya bereaksi ketika api sudah membara, tanpa strategi pencegahan yang terukur, seperti pembuatan sekat bakar, pengelolaan gas, atau percepatan transisi ke teknologi waste-to-energy yang lebih aman.
Yang lebih memprihatinkan adalah kesiapan evakuasi yang baru digaungkan setelah api meluas. Mengapa titik evakuasi tidak disiapkan jauh-jauh hari, mengingat potensi bencana asap sudah dapat diprediksi? Jawabannya mungkin terletak pada anggaran yang lebih banyak dialokasikan untuk penanganan darurat daripada investasi infrastruktur berkelanjutan. Warga yang tinggal di sekitar TPA setiap tahun harus menderita akibat asap, debu, dan bau, namun suara mereka seolah tenggelam oleh birokrasi yang lamban. Sebagai jurnalis, saya mendesak pemerintah untuk membuka data tentang komposisi sampah, frekuensi kebakaran, dan biaya pemadaman yang dikeluarkan selama lima tahun terakhir, agar publik bisa menilai efektivitas kebijakan.
Tak kalah penting, peran serta masyarakat dalam pengurangan sampah dari sumbernya harus digalakkan, bukan sekadar sosialisasi tanpa sanksi. Kebakaran ini seharusnya menjadi momentum untuk merevisi sistem pengelolaan sampah secara radikal: perkuat bank sampah, optimalkan pengomposan, dan segera realisasikan pembangunan fasilitas pengolahan sampah modern. Jika tidak, insiden seperti ini akan terulang terus, mengorbankan kesehatan warga dan menghamburkan anggaran daerah yang seharusnya bisa dialokasikan untuk pendidikan dan kesehatan. Pemerintah Kota Solo, di bawah kepemimpinan Wali Kota Gibran Rakabuming, perlu menunjukkan keberanian politik untuk menghentikan kebiasaan lama dan memulai lompatan transformatif, sebelum asap kebakaran ini berubah menjadi tuntutan hukum dari warga yang dirugikan.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
- Q: Apakah kebakaran TPA Putri Cempo membahayakan keselamatan warga?
A: Sejauh ini api belum menjangkau pemukiman, namun asap tebal telah memasuki rumah dan sekolah, berpotensi menyebabkan gangguan pernapasan akut. Pemerintah menyiapkan evakuasi jika kondisi memburuk. - Q: Mengapa kebakaran di TPA sulit dipadamkan?
A: Tumpukan sampah yang tebal dan mengandung gas metana membuat api cepat menyala, sementara angin kencang menyulitkan petugas. Selain itu, akses ke Blok C yang sulit dijangkau memperlambat proses pemadaman. - Q: Apa langkah konkret pemerintah untuk mencegah kebakaran serupa?
A>Hingga kini belum ada pernyataan resmi tentang langkah preventif jangka panjang. Namun pakar menyarankan pengelolaan sampah berbasis teknologi, pengurangan volume sampah, serta pembuatan sekat dan sistem deteksi dini untuk mengurangi risiko kebakaran.
BERITA TERKAIT (Berita Daerah)

200 Warga Pondok Bambu Ikuti Sosialisasi Jemput Bola Perlindungan Sosial dan Desil

Ancol Transformasi Masjid Apung An-Nur Jadi Pusat Ibadah dan Silaturahmi Sosial

Cegah Balap Liar, Pemkot Jaksel Tutup Lima Akses JLNT Antasari Saat Akhir Pekan
