Selasa, 3 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Api Lalap Pura Puseh Nusa Penida: Diduga dari Bakar Sampah, Kerugian Capai Rp300 Juta

Berita DaerahSiti RahmawatiSiti RahmawatiSumber: CNN Nasional
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Api Lalap Pura Puseh Nusa Penida: Diduga dari Bakar Sampah, Kerugian Capai Rp300 Juta
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Kebakaran menghanguskan Pelinggih Meru Tumpang 7 di Pura Puseh Desa Adat Batumadeg, Nusa Penida, Kamis (3/9) siang.
  • Api diduga berasal dari pembakaran sampah liar yang percikannya terbawa angin kencang ke atap bangunan suci.
  • Kerugian material ditaksir Rp300 juta, tidak ada korban jiwa, namun pelaku pembakar sampah masih dalam penyelidikan.

Nusa Penida, Bali – Kebakaran melanda kawasan suci Pura Puseh Desa Adat Batumadeg, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung, pada Kamis (3/9) sekitar pukul 12.30 WITA. Api dengan cepat melahap bangunan Pelinggih Meru Tumpang 7, salah satu struktur paling sakral di pura tersebut, sebelum akhirnya berhasil dijinakkan oleh warga dan petugas pemadam.

Menurut keterangan resmi dari Kasi Humas Polres Klungkung, Iptu I Dewa Nyoman Alit Purnawibawa, insiden ini diduga berawal dari aktivitas pembakaran sampah di sekitar area pura. Tiupan angin yang cukup kencang dan mengarah ke utara diduga membawa percikan api ke bagian atap bangunan berbahan kayu dan sirap, sehingga api merambat dengan cepat. “Tidak terdapat korban jiwa, namun kerugian material diperkirakan mencapai Rp300.000.000,” ujar Alit dalam rilisnya, Kamis sore.

Kronologi kejadian bermula ketika saksi I Wayan Miwa, yang sedang dalam perjalanan pulang, diberitahu oleh warga bahwa terlihat kepulan asap dari area pura. Miwa segera berlari ke lokasi dan mendapati api telah membakar Meru Tumpang 7. Ia pun memanggil warga untuk memadamkan, tetapi upaya pemadaman terkendala karena aliran PDAM setempat sedang mengalami gangguan dan tidak mengalirkan air. “Warga kesulitan mendapat pasokan air, sehingga untuk mencegah api merembet ke bangunan lain, mereka mengambil inisiatif menjatuhkan bangunan yang sudah terbakar agar api hanya terfokus pada satu titik,” jelas Alit.

Warga kemudian secara gotong-royong mendorong dan merobohkan struktur Meru yang sudah hangus, lalu menghubungi pemadam kebakaran dan Polsek Nusa Penida. Api akhirnya dapat dipadamkan sepenuhnya, namun belum diketahui siapa pelaku yang melakukan pembakaran sampah yang memicu kebakaran ini. Polisi masih melakukan penyelidikan untuk mengidentifikasi terduga pelaku.

Analisis Pakar

Sebagai jurnalis investigasi yang telah lama mengamati dinamika sosial dan budaya Bali, saya melihat kejadian ini bukan sekadar kecelakaan kecil, melainkan cermin dari lemahnya tata kelola lingkungan dan kesadaran kolektif di kawasan pariwisata seperti Nusa Penida. Pembakaran sampah liar masih menjadi praktik lumrah di banyak desa, padahal dampaknya bukan hanya mengancam situs suci, tetapi juga memperburuk kualitas udara dan risiko bencana. Ironisnya, insiden ini terjadi di tengah gencarnya promosi Nusa Penida sebagai destinasi wisata kelas dunia—sementara infrastruktur dasar seperti ketersediaan air PDAM justru bermasalah saat darurat.

Kita juga perlu mempertanyakan efektivitas pengawasan terhadap aktivitas warga di sekitar area pura. Pura Puseh adalah bagian dari cagar budaya yang dilindungi undang-undang, namun tidak ada sistem pencegahan kebakaran yang memadai, seperti alat pemadam ringan atau bak penampung air darurat. Ketergantungan pada gotong-royong warga memang terpuji, tetapi itu bukan solusi jangka panjang. Pemerintah daerah dan pengelola desa adat seharusnya telah menyusun protokol kebakaran berbasis risiko, mengingat musim kemarau dan angin kencang sering terjadi di wilayah pesisir selatan Bali.

Lebih jauh, pelaku pembakaran sampah yang masih misterius menunjukkan lemahnya penegakan hukum terhadap pelanggaran lingkungan. Jika pelaku ditemukan, ia bisa dijerat dengan UU Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, serta pasal tentang kelalaian yang menyebabkan kebakaran. Namun, tanpa bukti yang kuat dan kesaksian yang koheren, kasus ini berpotensi menguap begitu saja. Saya mendesak Polres Klungkung untuk tidak sekadar mengandalkan keterangan saksi, tetapi juga melakukan olah TKP yang mendalam, termasuk memeriksa rekaman CCTV di sekitar pura dan memanggil semua pihak yang biasa membakar sampah di area tersebut.

Yang tak kalah penting, peristiwa ini harus menjadi momentum bagi desa adat dan masyarakat Hindu Bali untuk merevitalisasi kesadaran menjaga kemurnian tempat suci. Pembakaran sampah—apalagi di dekat pura—bukan hanya pelanggaran adat, tetapi juga penghinaan terhadap nilai-nilai spiritual. Sudah saatnya dibentuk satuan tugas kebakaran desa yang terlatih, didukung peralatan modern, dan dipastikan aliran air selalu tersedia. Jika tidak, kebakaran serupa akan terulang, dan kerugian bukan hanya materi, melainkan hilangnya warisan budaya yang tak ternilai.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

Q: Di mana lokasi tepatnya Pura Puseh yang terbakar?
A: Pura Puseh Desa Adat Batumadeg terletak di Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung, Bali. Pura ini merupakan salah satu pura kahyangan tiga desa adat setempat.

Q: Berapa kerugian material yang ditimbulkan?
A: Berdasarkan keterangan polisi, kerugian material diperkirakan mencapai Rp300.000.000, terutama dari kerusakan bangunan Meru Tumpang 7 yang terbakar habis.

Q: Apakah ada korban jiwa dalam kebakaran ini?
A: Tidak. Tidak ada korban jiwa, baik dari warga maupun petugas pemadam. Semua pihak dilaporkan selamat.

BERITA TERKAIT (Berita Daerah)

Meow! Tanya Nesi!
😸