Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Angin Kencang Bikin Water Bombing di Semeru Mandek, 600 Hektare Ludes Terbakar

Berita DaerahSiti RahmawatiSiti RahmawatiSumber: CNN Nasional
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Angin Kencang Bikin Water Bombing di Semeru Mandek, 600 Hektare Ludes Terbakar
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Angin kencang menghambat operasi water bombing dan mempercepat perluasan api di kawasan Gunung Semeru, Lumajang.
  • Dua titik api masih aktif di Ranu Kumbolo dan Ranu Pane B29, dengan medan curam dan sulit dijangkau darat.
  • Helikopter BNPB telah menjatuhkan 21.000 liter air dalam 21 kali penyiraman, namun luas lahan terbakar sudah mencapai 600 hektare.

Operasi pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Gunung Semeru, Kabupaten Lumajang, mengalami hambatan serius akibat hembusan angin kencang. Kondisi ini tidak hanya membuat api merambat dengan cepat, tetapi juga membahayakan penerbangan helikopter yang menjalankan misi water bombing. Kepala Pelaksana BPBD Jawa Timur, Gatot Soebroto, dalam pernyataannya Kamis (3/9) siang, mengungkapkan bahwa setidaknya masih ada dua titik api yang menyala—di sekitar Ranu Kumbolo dan Ranu Pane B29—yang lokasinya jauh, terjal, dan tidak bisa dijangkau secara optimal dari jalur darat.

Meskipun upaya udara tetap dilakukan, BNPB mengerahkan helikopter PK-DAP yang didatangkan dari Lampung. Mulai Rabu (2/9), helikopter berkapasitas 1.000 liter itu telah melakukan 21 kali penyiraman di sisi barat Pos 1 Pendakian, tepatnya di tebing punggungan Desa Ranupane, Kecamatan Senduro, dengan total curahan 21.000 liter. Namun, hingga pukul 12.00 WIB, luas lahan yang terdampak menurut data Pusdalop BPBD Jatim telah mencapai sekitar 600 hektare—angka yang terus bertambah seiring tiupan angin yang tak kunjung reda.

Di sisi darat, tim gabungan masih berupaya membuat sekat bakar dan memadamkan secara manual untuk melindungi pemukiman warga. Namun, keterbatasan akses dan kontur ekstrem membuat efektivitas kerja darat sangat minim. Gatot berharap kondisi cuaca segera membaik, karena angin kencang tidak hanya menggagalkan akurasi jatuhnya air, tetapi juga mengancam keselamatan unit helikopter. Pertanyaan besarnya: apakah operasi ini hanya mengandalkan keberuntungan cuaca, atau ada kelemahan sistemik dalam kesiapsiagaan bencana kita?

Analisis Pakar

Sebagai jurnalis yang telah meliput berbagai bencana hidrometeorologi di Indonesia, saya menilai kasus karhutla Semeru ini bukan sekadar masalah teknis operasional, melainkan cerminan kegagalan koordinasi dan peringatan dini yang berulang. Angin kencang di kawasan pegunungan seperti Semeru adalah fenomena yang dapat diprediksi—BMKG sudah lama merilis peringatan potensi angin kencang di wilayah Jawa Timur. Mengapa rencana kontingensi tidak disusun berdasarkan data tersebut? Mengapa helikopter baru didatangkan dari Lampung setelah api membesar, padahal titik panas (hotspot) sudah terdeteksi beberapa hari sebelumnya? Ini menunjukkan bahwa respons kita masih reaktif, bukan proaktif.

Kedua, ketergantungan berlebihan pada water bombing mengindikasikan kelemahan strategi pemadaman terpadu. Water bombing efektif untuk api permukaan, tetapi di medan curam dan berangin, air mudah menguap dan tidak mencapai dasar bara. Sementara upaya darat—yang seharusnya menjadi tulang punggung—hanya mampu menjangkau area terbatas. Ironisnya, anggaran untuk helikopter berjam-jam terbang jauh lebih besar dibandingkan untuk pelatihan relawan dan penyediaan peralatan darat yang memadai. Kita perlu bertanya: apakah ini bentuk efisiensi atau justru pemborosan yang mengorbankan efektivitas?

Ketiga, dampak ekologis dari 600 hektare lahan terbakar—yang sebagian besar adalah kawasan konservasi dan hutan lindung—tidak bisa direduksi menjadi sekadar angka. Hilangnya vegetasi, terganggunya satwa endemik, dan potensi erosi serta banjir lahar dingin di musim hujan adalah warisan bencana jangka panjang yang jarang dihitung dalam laporan operasional. Saya mendesak BPBD dan BNPB untuk segera melakukan evaluasi menyeluruh, tidak hanya soal pemadaman, tetapi juga peta risiko, sistem deteksi dini berbasis masyarakat, dan anggaran darurat yang lebih fleksibel. Jika tidak, peristiwa serupa akan terus berulang—dan kita hanya akan menjadi penonton yang pasrah pada angin dan cuaca.

Terakhir, transparansi data menjadi kunci. Masyarakat berhak mengetahui secara real-time titik api, arah perambatan, dan status upaya pemadaman. Selama ini informasi sering tertahan di birokrasi, sehingga warga di sekitar lokasi baru tahu ketika api sudah di depan mata. Saya mengapresiasi keterbukaan Gatot Soebroto dalam menyampaikan kendala, tetapi itu tidak cukup. Diperlukan dasbor publik yang dapat diakses semua pihak, termasuk aktivis lingkungan dan ilmuwan, agar solusi tidak lahir dari satu meja rapat, melainkan dari kolaborasi terbuka.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Apa penyebab utama kebakaran hutan di Gunung Semeru?
    A: Kebakaran biasanya dipicu oleh musim kemarau panjang, vegetasi kering, dan aktivitas manusia seperti pembukaan lahan atau puntung rokok. Namun, penyebab pasti masih dalam penyelidikan.
  • Q: Mengapa water bombing sulit dilakukan saat angin kencang?
    A: Angin kencang mengganggu stabilitas helikopter, mengubah arah jatuhnya air, dan membuat api semakin cepat menyebar sehingga upaya penyiraman menjadi tidak efektif dan berisiko bagi awak.
  • Q: Apa yang bisa dilakukan masyarakat untuk membantu pemadaman?
    A: Masyarakat diimbau tidak mendekati zona api, melaporkan titik panas ke petugas, dan tidak melakukan pembakaran sampah atau lahan. Bantuan logistik dan dukungan moral juga sangat berarti bagi tim di lapangan.
Meow! Tanya Nesi!
😸