Senin, 2 November 2026 โ˜ผJakarta 29ยฐC
berita hari ini.

Aliansi Al-Qaeda dan Houthi: Ancaman Baru yang Mengubah Peta Keamanan Global

DuniaBudi SantosoBudi SantosoSumber: CNN Internasional
Budi Santoso
Budi Santoso
Editor

Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Aliansi Al-Qaeda dan Houthi: Ancaman Baru yang Mengubah Peta Keamanan Global
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Kelompok Al-Shabaab (afiliasi Al-Qaeda di Somalia) dan Houthi (Yaman) menjalin kerja sama militer meskipun berbeda sektarian, didorong oleh kebencian bersama terhadap AS dan Israel.
  • Jibril 'Si Tangan Satu' Yahya Ali, seorang warga Somalia, menjadi penghubung utama yang memfasilitasi pertukaran senjata dan pelatihan hingga tewas dalam serangan rudal AS pada Februari 2025.
  • Aliansi ini memungkinkan Al-Shabaab mendapatkan persenjataan canggih (drone, rudal, senapan sniper) dari Houthi, sementara Houthi memperluas akses strategis ke Teluk Aden dan Somalia selatan, mengancam jalur perdagangan global.

Amerika Serikat menghadapi ancaman baru yang semakin kompleks di kawasan Timur Tengah dan Afrika Timur. Al-Shabaab, sayap Al-Qaeda di Somalia, dan Houthi di Yaman, yang sebelumnya terpisah oleh perbedaan sektarian โ€“ Sunni dan Syiah โ€“ kini membangun kerja sama strategis untuk saling mengisi kekurangan. Al-Shabaab, dengan dana besar sekitar US$100 juta per tahun dari bisnis dan pos pemeriksaan, membutuhkan persenjataan canggih dan pelatihan militer. Sebaliknya, Houthi, yang telah menguasai teknologi drone dan rudal balistik, memerlukan aliran uang segar serta basis operasi baru untuk memperluas serangan terhadap kepentingan Barat.

Jembatan utama di balik aliansi ini adalah Jibril Yahya Ali, seorang warga Somalia yang tinggal di Yaman dan dijuluki "Si Tangan Satu". Menurut pejabat AS, sejak 2023 Jibril memfasilitasi pertukaran senjata, teknologi, dan koordinasi antara kedua kelompok. Pada 12 Februari 2025, ia tewas dalam serangan rudal AS saat berada di dalam mobil bersama istrinya. Meskipun Komando Pusat AS dan CIA enggan mengonfirmasi keterlibatan mereka, dua sumber AS menyatakan bahwa operasi tersebut memang menargetkan Jibril. Kematiannya tidak menghentikan kerja sama; Al-Shabaab segera menunjuk pengganti untuk melanjutkan perannya di Yaman.

Bukti konkret kerja sama ini terlihat dari daftar permintaan senjata yang diajukan oleh utusan senior Al-Shabaab, Sheikh Ahmed Elmi Samatar, kepada Houthi pada 2024. Daftar itu mencakup rudal anti-pesawat portabel, roket Katyusha 107 mm, senapan sniper Dragunov, drone serang, rudal anti-tank, dan peralatan penglihatan malam buatan AS. Samatar ditangkap pemerintah Yaman pada Januari 2025, namun dibebaskan melalui pertukaran tahanan dengan Houthi dan kembali ke Somalia. Sementara itu, pengiriman senjata dilakukan melalui perusahaan samaran di Yaman yang menyamarkan peralatan militer sebagai produk sipil, lalu dikirim ke pelabuhan Mukalla dan lainnya, kemudian menyeberangi Teluk Aden dengan perahu cepat menuju pantai Somalia utara yang pengawasannya lemah, sebelum akhirnya tiba di unit tempur Al-Shabaab di Somalia selatan.

Pada April 2025, AS menghancurkan dua kapal tanpa bendera yang membawa senjata konvensional canggih dari Yaman ke Somalia, mengonfirmasi adanya aliran persenjataan. Selain itu, pelatihan militer juga berlangsung intensif. Sebanyak 100 pejuang Al-Shabaab dilaporkan telah melakukan perjalanan ke Yaman untuk belajar pembuatan bom pinggir jalan, penggunaan senjata canggih, operasi anti-pesawat, dan perakitan drone. Bahkan, satu kelompok menghabiskan tiga bulan di Sa'dah, Yaman, untuk mempelajari sistem kendali drone yang memungkinkan operator melihat gambar dari kamera secara langsung. Pelatih Houthi juga datang ke Somalia untuk memberikan pelatihan serupa.

Dari sudut pandang strategis, aliansi ini tidak hanya bersifat transaksional. Houthi mengincar posisi di Somalia selatan, dekat Teluk Aden, untuk memperluas jangkauan pemantauan kapal-kapal yang melintas, termasuk untuk memasang radar. Sementara itu, pengakuan Israel terhadap kemerdekaan Somaliland pada Desember lalu menambah kerumitan. Somaliland, dengan Pelabuhan Berbera yang memiliki landasan pacu panjang, dinilai Israel sebagai lokasi strategis untuk memantau dan menghadapi Houthi. Pemimpin Houthi, Abdul Malik al-Houthi, telah memperingatkan bahwa kelompoknya akan menargetkan aktivitas Israel di Somaliland kapan saja. Pada Juni 2025, delegasi Houthi bahkan bertemu dengan perwakilan Al-Shabaab di Jilb, ibu kota de facto wilayah kekuasaan kelompok tersebut, menandakan eskalasi koordinasi.

Jenderal Dagvin Anderson, komandan pasukan AS, menegaskan bahwa kerja sama ini memiliki implikasi global, bukan sekadar regional. Al-Shabaab, sebagai afiliasi Al-Qaeda terbesar dan paling makmur, kini mengakses persenjataan yang lebih mematikan, sementara Houthi memperluas pengaruh geografisnya hingga ke titik kritis ekonomi dunia. Penasihat keamanan nasional Somalia, Awes Yusuf Ahmed, menambahkan bahwa meskipun hubungan awal bersifat transaksional, faktor baru seperti ketegangan Iran-AS dan konflik Gaza dapat mendorong kepentingan strategis yang lebih dalam.

Analisis Pakar

Aliansi antara Al-Shabaab dan Houthi menandai pergeseran paradigma dalam ekosistem terorisme global. Selama bertahun-tahun, perbedaan sektarian menjadi penghalang utama bagi kerja sama antar kelompok jihadis, namun konflik geopolitik kontemporer โ€“ terutama kebencian bersama terhadap AS dan dukungan mereka terhadap Israel โ€“ telah melampaui sekat teologis. Fenomena ini mengingatkan pada "musuh dari musuhku adalah temanku" yang klasik, namun dengan konsekuensi yang jauh lebih berbahaya karena kedua kelompok memiliki kapabilitas komplementer yang signifikan. Houthi, yang didukung oleh Iran, telah membuktikan kemampuannya dalam perang asimetris, termasuk serangan rudal dan drone ke Arab Saudi serta UEA, sementara Al-Shabaab memiliki pengalaman panjang dalam perang gerilya dan eksploitasi ekonomi di wilayah yang gagal pemerintahannya.

Dampak paling kritis dari aliansi ini adalah potensi transfer teknologi persenjataan canggih, terutama drone dan rudal anti-pesawat, ke tangan Al-Shabaab. Jika kelompok tersebut berhasil menguasai sistem tersebut, pangkalan militer AS di Djibouti dan negara-negara sekutu di Afrika Timur akan berada dalam jangkauan serangan udara yang lebih presisi. Selain itu, kemampuan Houthi untuk menyusup ke Somalia selatan membuka front baru di Teluk Aden, jalur vital bagi 10% perdagangan maritim dunia. Ini bukan hanya ancaman keamanan, tetapi juga ekonomi global โ€“ gangguan di sana dapat memicu lonjakan harga minyak dan asuransi pengiriman, sebagaimana yang sudah terlihat ketika Houthi menyerang kapal-kapal di Laut Merah pada awal 2024.

Respon AS dan sekutunya sejauh ini terlihat reaktif, dengan serangan drone dan pembunuhan tertarget seperti terhadap Jibril, namun pendekatan ini tidak cukup untuk memutus rantai kerja sama yang sudah mengakar. Diplomasi regional โ€“ termasuk melibatkan pemerintah Somalia, Yaman, dan negara-negara Teluk โ€“ harus diperkuat untuk mengatasi akar masalah: ketidakstabilan politik, kemiskinan, dan kesenjangan yang menjadi lahan subur bagi rekrutmen teror. Selain itu, pengakuan Israel terhadap Somaliland tanpa koordinasi dengan Somalia dan Uni Afrika justru memicu eskalasi, memberikan justifikasi baru bagi Houthi untuk memperkuat aliansi lintas sektarian. Ke depan, dunia perlu mewaspadai bahwa aliansi semacam ini dapat menjadi model bagi kelompok-kelompok teror lain di kawasan Sahel dan Asia Tengah, menciptakan jaringan yang lebih cair dan sulit dilacak.

Akhirnya, peristiwa ini menunjukkan bahwa perang melawan teror tidak lagi bisa sekadar mengandalkan kekuatan militer. Intelijen yang lebih akurat, pembangunan ekonomi di daerah konflik, dan tekanan diplomatik terhadap negara-negara penyuplai senjata โ€“ seperti Iran yang mendukung Houthi โ€“ menjadi keniscayaan. Jika tidak, aliansi Al-Qaeda-Houthi ini akan menjadi preseden berbahaya yang mengubah lanskap keamanan global selama dekade mendatang.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Apakah Al-Shabaab dan Houthi benar-benar bersatu meskipun berbeda aliran Islam?
    A: Ya, meskipun Al-Shabaab beraliran Sunni dan Houthi Syiah Zaydi, kebencian bersama terhadap AS dan Israel serta kepentingan pragmatis (senjata, uang, akses strategis) telah mendorong mereka membangun kerja sama operasional, bahkan mengesampingkan perbedaan teologis.
  • Q: Bagaimana dampak aliansi ini terhadap keamanan Indonesia atau Asia Tenggara?
    A: Meskipun fokus utama di Timur Tengah dan Afrika Timur, aliansi ini memperkuat jaringan teror global yang dapat menginspirasi kelompok simpatisan di Asia Tenggara. Peningkatan aliran senjata dan teknik pembuatan bom juga berisiko ditiru oleh sel-sel teror lokal, sehingga negara-negara seperti Indonesia perlu memperketat pengawasan di jalur maritim dan komunikasi digital.
  • Q: Apa yang dilakukan AS untuk menghentikan kerja sama ini?
    A: AS meningkatkan serangan udara terhadap target Al-Shabaab di Somalia (sekitar 40 serangan pada 2025) dan menghancurkan pengiriman senjata di laut. Namun, pendekatan militer saja belum efektif; AS juga mendorong sekutu regional seperti pemerintah Yaman dan Somalia untuk menekan Houthi dan Al-Shabaab melalui operasi intelijen dan penangkapan tokoh kunci, seperti yang terjadi pada Samatar.

BERITA TERKAIT (Dunia)

Meow! Tanya Nesi!
๐Ÿ˜ธ