Menteri Pertanian Ungkap Monopoli di Balik Lonjakan Harga Pakan Ayam: Dampak pada Peternak & Konsumen
Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

Ringkasan Singkat
- Menlu Andi Amran Sulaiman menuding adanya praktik monopoli yang memicu kenaikan harga pakan ayam.
- Pemerintah menugaskan Satgas Pangan untuk selidiki biaya penurunan pakan yang naik US$7 per ton.
- ID Food dijadikan stabilisator harga melalui impor, sementara BGN diminta menstabilkan pasar ayam dan telur.
Jakarta, 1 September 2024 – Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengonfirmasi adanya dugaan praktik monopoli yang berperan dalam melonjaknya harga pakan ayam. Penemuan ini muncul setelah serangkaian aksi protes peternak di Nusa Tenggara Timur dan Jawa Timur, yang menuntut penurunan biaya produksi.
Menurut Amran, analisis awal menunjukkan adanya pihak yang secara tidak wajar menaikkan biaya penurunan pakan dari kapal hingga US$7 per ton (sekitar Rp124.166). "Kami sudah melaporkan temuan ini ke Satgas Pangan Polri untuk ditindaklanjuti," ujarnya dalam rapat dengar pendapat (RDP) Komisi IV DPR RI.
Untuk menahan laju inflasi pangan, pemerintah menugaskan ID Food, BUMN yang bergerak di bidang impor, sebagai stabilisator harga pakan. Harga pakan kini dipatok pemerintah, dengan harapan BUMN dapat menyesuaikan pasokan tanpa fluktuasi spekulatif.
Di sisi lain, Menteri menyoroti pentingnya menjaga keseimbangan harga ayam dan telur. Badan Gizi Nasional (BGN) diminta meningkatkan penyerapan daging ayam dan telur untuk mencegah penurunan harga yang berlebihan ketika pasokan melimpah. "Kami sudah menyurat Kepala BGN, Sudaryono, untuk koordinasi lebih lanjut," tambah Amran.
Data GOPAN mencatat harga ayam hidup peternak kini berada di kisaran Rp24.000‑Rp25.000 per kilogram, naik sejalan dengan harga pakan yang melambung dari Rp8.300‑Rp8.500 menjadi Rp9.500 per kilogram dalam tiga bulan terakhir. Harga daging ayam segar nasional pada 31 Agustus tercatat Rp42.850 per kilogram, naik 1,42% dibandingkan seminggu sebelumnya.
Analisis Pakar
Secara makroekonomi, lonjakan harga pakan ayam menandakan adanya gangguan pada rantai pasok agrikultur yang sensitif terhadap biaya logistik. Praktik monopoli pada tahap penurunan barang dari kapal bukan sekadar isu regulasi, melainkan sinyal kegagalan pasar yang dapat memicu inflasi struktural pada sektor pangan. Jika tidak ditangani, efek domino akan terasa pada konsumen akhir, terutama kelas menengah yang mengalokasikan proporsi signifikan dari pengeluaran rumah tangga untuk protein hewani.
Penunjukan ID Food sebagai stabilisator harga merupakan langkah pragmatis, namun tidak boleh menjadi solusi jangka panjang. Intervensi pemerintah harus diimbangi dengan reformasi regulasi impor, transparansi biaya logistik, dan penguatan kompetisi domestik. Tanpa kompetisi yang sehat, BUMN dapat berisiko menjadi monopoli baru, yang pada gilirannya menimbulkan distorsi harga kembali.
Koordinasi dengan BGN untuk menyerap surplus produksi ayam dan telur adalah strategi penyangga permintaan, namun harus diiringi dengan kebijakan pemasaran yang efisien. Misalnya, program subsidi bagi peternak kecil, atau insentif bagi industri pengolahan telur untuk meningkatkan nilai tambah. Hal ini tidak hanya menstabilkan harga, tetapi juga memperkuat ketahanan pangan nasional.
Terakhir, pemerintah perlu memperkuat pengawasan terhadap praktik anti persaingan di sektor logistik maritim. Penggunaan data real‑time tracking kapal, serta mekanisme pelaporan anonim bagi pelaku industri, dapat memperkecil ruang gerak bagi oknum yang mencoba memanipulasi biaya. Transparansi ini akan menurunkan biaya transaksi, meningkatkan kepercayaan investor, dan pada akhirnya menurunkan beban harga bagi peternak dan konsumen.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
- Q: Apa penyebab utama kenaikan harga pakan ayam?
A: Kenaikan dipicu oleh dugaan praktik monopoli pada biaya penurunan pakan dari kapal serta kenaikan harga bahan baku global. - Q: Bagaimana peran ID Food dalam menstabilkan harga?
A: ID Food ditunjuk sebagai stabilisator melalui impor pakan, dengan harga yang dipatok pemerintah untuk menghindari spekulasi. - Q: Apa langkah pemerintah untuk melindungi peternak dari fluktuasi harga?
A: Pemerintah melibatkan Satgas Pangan untuk investigasi monopoli, serta berkoordinasi dengan BGN untuk menyerap surplus produksi ayam dan telur.
BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

BPS Catat Surplus Neraca Dagang RI September 2025 Tembus US$3,36 Miliar, Melebihi Ekspektasi Ekonom

PLN Tetapkan Tarif Listrik Non-Subsidi Q4 2026 Tetap, Berikut Daftar 13 Golongan

Doha Jadi Pusat Perundingan Kritis: Iran dan Qatar Dorong Akhir Konflik AS-Israel
