Geger Jajak Opini Israel: Likud Tumbang, Eisenkot Siap Gantikan Netanyahu?
Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Ringkasan Singkat
- Jajak pendapat terbaru Channel 12 menunjukkan partai Yashar pimpinan Gadi Eisenkot mengungguli Likud dengan 24 berbanding 23 kursi di Knesset.
- Peta politik Israel berubah signifikan menjelang pemilu 27 Oktober, dengan naiknya tokoh sentris dan militer serta kegagalan partai sayap kanan ekstrem melewati ambang batas parlemen.
- Gadi Eisenkot kini dipandang lebih layak sebagai perdana menteri dibandingkan Benjamin Netanyahu, menandai potensi pergeseran kepemimpinan nasional yang historis.
Lanskap politik Israel mengalami guncangan signifikan menjelang pemilihan umum yang dijadwalkan pada 27 Oktober. Berdasarkan jajak pendapat terbaru yang dirilis oleh Channel 12, partai Likud pimpinan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu untuk pertama kalinya dalam periode terkini disalip oleh rivalnya. Partai Yashar yang dipimpin oleh mantan kepala staf militer Gadi Eisenkot berhasil meraih proyeksi 24 kursi di Knesset, unggul satu kursi dari Likud yang memperoleh 23 kursi. Hasil ini mengindikasikan kelelahan publik terhadap status quo dan keinginan akan kepemimpinan alternatif yang dianggap lebih stabil.
Pergeseran dukungan juga terlihat jelas pada distribusi suara partai-partai lainnya. Partai B'Yachad milik Naftali Bennett menempati posisi ketiga dengan 15 kursi, diikuti Partai Demokrat milik Yair Golan dengan 11 kursi, dan Yisrael Beytenu milik Avigdor Lieberman dengan sembilan kursi. Di blok agama dan sayap kanan, United Torah Judaism dan Otzma Yehudit masing-masing mendapatkan delapan kursi. Sementara itu, Joint List dan Shas memperoleh tujuh kursi. Fenomena menarik lainnya adalah kemunculan Partai Rakyat Israel pimpinan Ofer Winter yang menembus parlemen dengan empat kursi, setara dengan Daftar Arab Bersatu pimpinan Mansour Abbas.
Namun, tidak semua kekuatan politik bertahan. Partai Zionisme Religius pimpinan Bezalel Smotrich dan Partai Rumah Zionis untuk Cadangan gagal melampaui ambang batas elektoral setelah hanya meraup 2,6 persen suara. Kegagalan ini secara drastis mengubah aritmatika koalisi potensial. Selain itu, ketika responden ditanya mengenai preferensi figur perdana menteri, Eisenkot secara konsisten dinilai lebih kompeten dibandingkan Netanyahu, sebuah sinyal kuat bahwa isu keamanan dan stabilitas kini menjadi prioritas pemilih di atas loyalitas partisan tradisional.
Analisis Pakar
Hasil jajak pendapat ini bukan sekadar fluktuasi statistik biasa, melainkan cerminan dari krisis legitimasi struktural yang sedang dialami oleh kubu Netanyahu. Keunggulan tipis Yashar atas Likud menandakan bahwa narasi keamanan yang selama puluhan tahun menjadi fondasi kekuasaan Netanyahu telah berhasil dikooptasi oleh figur militer profesional seperti Eisenkot. Pemilih Israel, terutama kalangan moderat dan veteran militer, tampaknya mulai memisahkan antara ideologi sayap kanan dengan kompetensi manajerial keamanan negara. Mereka mencari figur yang dapat menjamin keselamatan nasional tanpa membawa beban polarisasi domestik dan isolasi diplomatik yang melekat pada pemerintahan Netanyahu saat ini. Ini adalah tanda bahwa elektabilitas Netanyahu tidak lagi kebal terhadap kritik kinerja, terutama terkait penanganan konflik berkepanjangan dan kohesi sosial internal.
Kegagalan partai Zionisme Religius dan Rumah Zionis untuk melewati ambang batas parlemen memiliki implikasi strategis yang jauh lebih besar daripada sekadar kehilangan beberapa kursi. Secara aritmatika, hilangnya suara dari faksi-faksi pinggiran kanan ini justru dapat mempermudah pembentukan pemerintah persatuan nasional atau koalisi sentris yang lebih luas. Tanpa ketergantungan mutlak pada mitra ultra-nasionalis yang sering kali menuntut konsesi kebijakan kontroversial, ruang manuver bagi pemimpin berikutnya—baik itu Eisenkot maupun Bennett—menjadi lebih fleksibel dalam merancang kebijakan luar negeri dan domestik. Hal ini bisa membuka peluang bagi de-eskalasi retorika dan pendekatan yang lebih pragmatis terhadap isu-isu regional, meskipun hambatan struktural dalam masyarakat Israel tetap ada.
Masuknya Partai Rakyat Israel pimpinan Ofer Winter ke dalam parlemen menegaskan tren 'militarisasi politik' yang semakin nyata dalam demokrasi Israel. Ketika warga sipil merasa institusi politik tradisional gagal memberikan rasa aman, mereka cenderung berpaling kepada figur berseragam yang dianggap mewakili ketegasan dan integritas operasional. Namun, dominasi mantan jenderal dalam bursa kepemimpinan juga membawa risiko tersendiri, yakni penyempitan diskursus publik yang hanya berkutat pada paradigma keamanan militeristik, mengabaikan dimensi sosial-ekonomi dan diplomasi jangka panjang. Pemilu 27 Oktober nanti bukan hanya tentang mengganti orang, tetapi tentang apakah Israel mampu mendefinisikan ulang kontrak sosialnya pasca-trauma konflik, atau justru terjebak dalam siklus kepemimpinan teknokratis-militer yang reaktif.
Terakhir, preferensi pemilih yang menempatkan Eisenkot di atas Netanyahu dalam pertanyaan langsung mengenai kelayakan perdana menteri adalah indikator psikologis politik yang krusial. Dalam sistem parlementer Israel, persepsi kepimpinan pribadi sering kali menjadi penentu alokasi suara taktis dari pemilih yang belum memutuskan. Jika tren ini bertahan hingga hari pemungutan suara, kita mungkin menyaksikan realignment sistem partai yang signifikan, di mana poros politik bergeser dari identitas ideologis murni menuju kompetisi berbasis kredibilitas eksekutif. Bagi pengamat internasional, ini adalah momen kritis untuk memantau apakah perubahan kepemimpinan domestik Israel akan menghasilkan koreksi kebijakan luar negeri yang substantif, atau sekadar pergantian personel dalam kerangka strategis yang sama.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
Q: Kapan tanggal pasti pemilihan umum Israel digelar?
A: Pemilihan umum untuk memilih anggota parlemen (Knesset) dan menentukan Perdana Menteri Israel dijadwalkan berlangsung pada 27 Oktober.
Q: Mengapa partai Zionisme Religius gagal masuk parlemen?
A: Partai tersebut gagal karena hanya memperoleh 2,6 persen suara, yang berada di bawah ambang batas minimum elektoral yang ditetapkan hukum pemilu Israel untuk mendapatkan kursi di Knesset.
Q: Siapa Gadi Eisenkot dan mengapa partainya naik popularitas?
A: Gadi Eisenkot adalah mantan Kepala Staf Pasukan Pertahanan Israel (IDF) yang memimpin partai Yashar; popularitasnya meningkat karena pemilih menganggapnya lebih kompeten menangani isu keamanan dan stabilitas dibanding Netanyahu.
BERITA TERKAIT (Dunia)

Iran Ancam Jangkauan Rudal ke Pangkalan AS di Eropa Jika Agresi Berlanjut

Tentara Yaman Laksanakan 951 Operasi Tempur dalam 24 Jam, Lebih dari 250.000 Warga Terpaksa Mengungsi
