Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Tepung Singkong Jadi Senjata Baru Padam Karhutla? Menteri Pertanian Minta BRIN Uji Coba Dulu

Ekonomi & PasarSiti AmaliaSiti AmaliaSumber: CNN Ekonomi
Siti Amalia
Siti Amalia
Analis Finansial

Pakar ekonomi makro yang sering menulis mengenai investasi dan pasar saham.

Tepung Singkong Jadi Senjata Baru Padam Karhutla? Menteri Pertanian Minta BRIN Uji Coba Dulu
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menekankan pentingnya uji coba oleh BRIN sebelum mengadopsi tepung singkong sebagai bahan pemadam karhutla.
  • Jika terbukti efektif, permintaan massal dapat mendorong produksi singkong domestik, memberi peluang baru bagi petani.
  • Contoh historis pada biodiesel B40‑B50 dan pasar telur menunjukkan bahwa lonjakan permintaan biasanya memicu peningkatan produktivitas dan penurunan harga akhir.

JAKARTA – Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menanggapi antusiasme publik terhadap inovasi tepung singkong untuk memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Dalam pertemuan di Karawang, Senin (31/8), Amran menegaskan bahwa Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) harus menyelesaikan fase uji coba laboratorium dan lapangan sebelum pemerintah membahas skala produksi bahan baku.

"Biarlah dulu BRIN uji coba. Baguslah kalau ada penemuan baru," ujar Amran. Ia menambahkan bahwa ketersediaan stok singkong nasional belum dapat dipastikan bila teknologi ini diadopsi secara massal. Namun, ia optimis bahwa peningkatan permintaan akan memacu petani meningkatkan produksi, sebagaimana yang terjadi pada program biodiesel B40‑B50 dan pasar telur ayam beberapa tahun lalu.

Amran mencontohkan bahwa ketika target biodiesel naik dari B40 ke B50, kekhawatiran akan kekurangan minyak sawit mentah (CPO) justru berbalik menjadi kenaikan produksi. Petani merespon dengan menambah pemupukan, irigasi, dan perawatan, sehingga produksi melambung dan harga domestik stabil. "Petani Indonesia hebat‑hebat," katanya.

Kasus serupa terjadi pada komoditas telur, di mana kekhawatiran awal tentang kelangkaan berubah menjadi surplus setelah produsen meningkatkan skala produksi. "Jika permintaan tinggi, petani akan berproduksi," tegas Amran, menegaskan potensi ekonomi yang tersembunyi di balik inovasi lingkungan.

Sementara itu, Kepala BRIN Arif Satria mengonfirmasi bahwa timnya masih menguji formulasi tepung singkong yang dicampur amonium polifosfat, air, dan zat pembasah. Uji coba awal menunjukkan kelayakan teoritis, namun tantangan utama adalah mengaplikasikan bahan tersebut pada area gambut yang luas tanpa mengandalkan tenaga manual.

Polri dan BRIN bersama‑sama mengembangkan alat penyemprot otomatis untuk mengatasi hambatan tersebut. Jika berhasil, teknologi ini dapat menjadi alternatif yang lebih ramah lingkungan dibandingkan bahan kimia fosfat konvensional yang sering menimbulkan dampak negatif pada ekosistem tanah.

Analisis Pakar

Secara makroekonomi, inovasi tepung singkong sebagai agen pemadam kebakaran membuka dua jalur nilai yang signifikan. Pertama, diversifikasi pasar bagi petani singkong yang selama ini terfokus pada konsumsi pangan dan industri bio‑etanol. Kedua, penciptaan rantai pasok baru yang melibatkan produsen kimia, penyedia peralatan penyemprot, dan layanan logistik khusus daerah rawan kebakaran.

Namun, ada risiko yang tidak boleh diabaikan. Ketergantungan pada satu komoditas pertanian dapat menimbulkan tekanan pada lahan, terutama bila produksi singkong harus ditingkatkan secara drastis. Pemerintah perlu mengatur alokasi lahan secara terintegrasi, menghindari konversi lahan pangan menjadi lahan industri pemadam kebakaran yang dapat mengganggu ketahanan pangan.

Dari perspektif kebijakan, skema insentif fiskal bagi petani yang menanam singkong untuk tujuan non‑pangan harus dirancang hati‑hati. Subsidi pupuk atau kredit lunak dapat mempercepat adopsi, namun harus disertai mekanisme verifikasi yang transparan agar tidak menimbulkan distorsi pasar. Selain itu, regulasi standar kualitas bahan pemadam berbasis singkong harus segera disusun, mengingat potensi kontaminasi atau variabilitas kimia yang dapat mempengaruhi efektivitas pemadaman.

Terakhir, keberhasilan teknologi ini akan sangat bergantung pada kolaborasi lintas‑sektor: riset akademik, industri kimia, dan aparat penegak hukum. Jika sinergi ini terwujud, Indonesia tidak hanya mengurangi kerugian ekonomi akibat karhutla, tetapi juga menambah nilai ekspor bahan baku pertanian yang inovatif. Sebaliknya, kegagalan uji coba skala besar dapat menimbulkan skeptisisme publik dan menunda investasi di sektor pertanian yang sudah tertekan.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Apakah tepung singkong sudah terbukti efektif memadamkan karhutla?
    A: Saat ini masih dalam tahap uji coba laboratorium dan lapangan oleh BRIN; hasil akhir belum dipublikasikan.
  • Q: Bagaimana dampaknya terhadap petani singkong?
    A: Jika teknologi terbukti, permintaan massal dapat meningkatkan harga singkong dan mendorong petani menambah luas tanam.
  • Q: Apakah ada risiko lingkungan dari penggunaan bahan ini?
    A: Bahan berbasis pati singkong dianggap lebih ramah lingkungan dibandingkan bahan kimia fosfat, namun perlu standar kualitas untuk menghindari kontaminasi.

BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Meow! Tanya Nesi!
😸