Senin, 2 November 2026 โ˜ผJakarta 29ยฐC
berita hari ini.

Strategi 'Potong Rumput' Donald Trump: AS Bersiap Lancarkan Serangan Terbatas ke Iran

DuniaSiti RahmawatiSiti RahmawatiSumber: CNN Internasional
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Strategi 'Potong Rumput' Donald Trump: AS Bersiap Lancarkan Serangan Terbatas ke Iran
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Presiden AS Donald Trump mempertimbangkan opsi militer terbatas terhadap situs rudal dan radar Iran guna mengamankan jalur pelayaran di Selat Hormuz.
  • Rencana serangan ini menggunakan doktrin "memotong rumput" (mowing the lawn) yang didukung oleh CENTCOM dan Menhan Pete Hegseth, guna menghindari perang skala penuh.
  • Eskalasi ini terjadi setelah runtuhnya kesepakatan damai (MoU) bulan Juni, menyusul tewasnya pemimpin tertinggi Iran dalam bentrokan sebelumnya pada awal tahun.

Hubungan geopolitik di Timur Tengah kembali berada di ambang ketidakpastian setelah laporan mengenai rencana militer Amerika Serikat di bawah pemerintahan Donald Trump untuk melanjutkan aksi militer terhadap Iran. Berdasarkan laporan dari media Axios yang mengutip tiga pejabat tinggi AS, Washington tengah menggodok opsi serangan udara terbatas guna meredam agresivitas Teheran, khususnya di kawasan strategis Selat Hormuz.

Langkah ini dirancang oleh Komando Pusat AS (CENTCOM) dan mendapat dukungan penuh dari Menteri Pertahanan Pete Hegseth. Alih-alih memicu perang terbuka secara menyeluruh (total war), strategi yang diusulkan berfokus pada target-target spesifik seperti instalasi radar dan situs peluncuran rudal milik Iran. Pendekatan taktis ini diistilahkan oleh kalangan militer sebagai operasi "memotong rumput"โ€”sebuah metafora yang merujuk pada tindakan degradasi kemampuan militer lawan secara berkala tanpa melakukan pendudukan wilayah.

Ketegangan terbaru ini dipicu oleh aksi saling serang yang terjadi pekan lalu, di mana militer AS menggempur sebuah pulau milik Iran di dekat Selat Hormuz, yang kemudian dibalas oleh Teheran dengan menargetkan pangkalan militer AS di kawasan tersebut. Situasi ini memperparah luka lama pasca-eskalasi berdarah pada akhir Februari lalu yang menewaskan pemimpin tertinggi Ayatollah Ali Khamenei serta sejumlah pejabat pertahanan tinggi Iran. Meskipun kedua belah pihak sempat menyepakati gencatan senjata pada April dan menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) perdamaian pada Juni, implementasi di lapangan kerap diwarnai oleh tuduhan pelanggaran komitmen, terutama dari pihak AS yang dinilai mengabaikan poin-poin kesepakatan tersebut.

Analisis Pakar

Dari perspektif hubungan internasional, keputusan pemerintahan Trump untuk mengadopsi doktrin "memotong rumput" (mowing the lawn) mencerminkan dilema klasik dalam kebijakan luar negeri AS di Timur Tengah: keharusan untuk menunjukkan efek gentar (deterrence) tanpa terjebak dalam perang tanpa akhir (forever wars). Penggunaan istilah yang dipopulerkan oleh militer Israel ini menunjukkan adanya konvergensi taktis yang semakin erat antara Washington dan Tel Aviv dalam menghadapi poros perlawanan Iran. Namun, strategi ini memiliki kelemahan fundamental; ia hanya menunda konflik, bukan menyelesaikannya. Dengan menargetkan infrastruktur militer secara berkala, AS hanya menekan kapasitas ofensif Iran untuk sementara waktu, sementara sentimen anti-Amerika dan motivasi Teheran untuk melakukan retaliasi asimetris justru semakin mengkristal.

Kehilangan figur sentral seperti Ayatollah Ali Khamenei pada awal tahun ini telah menciptakan dinamika domestik yang sangat rapuh di Iran. Dalam teori transisi kekuasaan, kekosongan kepemimpinan sering kali mendorong faksi-faksi militer garis keras, seperti Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), untuk mengambil tindakan yang lebih agresif guna membuktikan legitimasi dan kekuatan mereka di mata domestik maupun regional. Oleh karena itu, asumsi AS bahwa serangan terbatas akan memaksa Iran ke meja perundingan bisa jadi merupakan kalkulasi yang keliru. Alih-alih menyerah karena tekanan ekonomi dan militer, rezim Teheran yang terluka kemungkinan besar akan melipatgandakan taruhannya (double down) melalui perang proksi di Yaman, Irak, dan Lebanon, serta mengganggu jalur logistik energi global di Selat Hormuz.

Runtuhnya Nota Kesepahaman (MoU) yang ditandatangani pada bulan Juni juga menggarisbawahi krisis kredibilitas diplomasi multilateral saat ini. Ketika AS berulang kali dituduh melanggar kesepakatan yang baru seumur jagung, hal ini mengirimkan sinyal berbahaya kepada aktor-aktor internasional lainnya bahwa diplomasi dengan Washington tidak lagi memiliki jaminan kepastian hukum. Tanpa adanya saluran komunikasi diplomatik yang tepercaya, risiko terjadinya salah kalkulasi (miscalculation) di lapangan meningkat secara eksponensial. Setiap insiden kecil di Selat Hormuz kini berpotensi memicu spiral eskalasi yang tidak terkendali, yang pada akhirnya dapat menyeret seluruh kawasan ke dalam konflik terbuka yang merugikan ekonomi global.

Secara ekonomi, Selat Hormuz adalah urat nadi perdagangan minyak dunia, di mana hampir sepertiga dari total minyak mentah yang dikirim melalui laut melewati selat sempit ini setiap harinya. Ketidakstabilan yang terus-menerus di wilayah ini akan langsung berdampak pada lonjakan harga energi global, memicu inflasi di negara-negara importir minyak, dan mengganggu rantai pasok global yang saat ini masih dalam tahap pemulihan. Oleh karena itu, pendekatan militeristik unilateral yang diambil oleh AS tidak hanya menjadi taruhan keamanan regional, tetapi juga menjadi ancaman langsung terhadap stabilitas ekonomi global yang sangat bergantung pada kepastian jalur pelayaran internasional.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

Q: Apa yang dimaksud dengan strategi "memotong rumput" (mowing the lawn) dalam konteks militer?
A: Strategi "memotong rumput" adalah istilah militer untuk menggambarkan serangan udara terbatas secara berkala guna mendegradasi kemampuan militer musuh tanpa tujuan menduduki wilayah atau memicu perang skala penuh.

Q: Mengapa Selat Hormuz menjadi titik krusial dalam konflik AS-Iran?
A: Selat Hormuz adalah jalur pelayaran vital global di mana hampir sepertiga pengiriman minyak dunia melintasinya. Gangguan di selat ini dapat memicu krisis energi dan lonjakan harga minyak global secara instan.

Q: Bagaimana dampak tewasnya Ayatollah Ali Khamenei terhadap stabilitas Iran?
A: Tewasnya pemimpin tertinggi tersebut menciptakan kekosongan kekuasaan dan memicu faksi militer garis keras di Iran untuk bersikap lebih agresif guna mempertahankan pengaruh domestik dan regional mereka.

Meow! Tanya Nesi!
๐Ÿ˜ธ