Senin, 2 November 2026 โ˜ผJakarta 29ยฐC
berita hari ini.

Mundur dari Target, Integrasi Stasiun Karet-BNI City Rampung Akhir 2026: Efisiensi TOD atau Beban Komuter?

Ekonomi & PasarHendra GunawanHendra GunawanSumber: CNN Ekonomi
Hendra Gunawan
Hendra Gunawan
Pengamat Bisnis

Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

Mundur dari Target, Integrasi Stasiun Karet-BNI City Rampung Akhir 2026: Efisiensi TOD atau Beban Komuter?
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Penutupan Sementara: Stasiun KRL Karet resmi ditutup mulai 1 September 2026 untuk memulai proyek integrasi fisik dengan Stasiun BNI City.
  • Target Penyelesaian: Pembangunan travelator sepanjang 150 meter ditargetkan rampung dalam 70 hari (pertengahan November 2026), mundur dari target awal Desember 2025.
  • Konsep Baru: Stasiun Karet akan dialihfungsikan menjadi selasar konektivitas, sementara aktivitas tap-in dan tap-out penumpang sepenuhnya dipusatkan di Stasiun BNI City.

Rencana besar modernisasi transportasi publik di Jakarta kembali bergulir dengan catatan evaluasi penting. PT Kereta Api Indonesia (Persero) menargetkan proyek integrasi Stasiun KRL Karet dan Stasiun BNI City melalui pembangunan travelator akan rampung pada akhir tahun 2026. Langkah ini menandai babak baru dalam penataan kawasan transit terpadu di ibu kota.

Direktur Utama KAI, Bobby Rasyidin, menegaskan bahwa pengerjaan fisik travelator ini diproyeksikan memakan waktu selama 70 hari sejak penutupan Stasiun Karet pada 1 September 2026. "70 hari pokoknya," ujar Bobby saat ditemui di Jakarta Selatan, Senin (31/8). Senada dengan hal tersebut, Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi mengonfirmasi bahwa proyek ini diharapkan selesai pada pertengahan November 2026 demi meningkatkan kenyamanan dan keselamatan pengguna komuter.

Secara teknis, jarak antara Stasiun Karet dan Stasiun BNI City yang hanya berkisar 150 meter dinilai tidak efisien secara operasional. Jarak yang terlalu dekat ini memaksa kereta untuk melakukan pengereman sesaat setelah melaju, yang meningkatkan risiko kecelakaan serta inefisiensi energi. Melalui proyek ini, Stasiun Karet akan diubah fungsinya menjadi selasar penghubung yang dilengkapi eskalator datar (travelator), sedangkan seluruh proses transaksi tiket (tap-in dan tap-out) akan dialihkan ke Stasiun BNI City.

Namun, proyek ini tidak lepas dari sorotan terkait manajemen waktu. Integrasi ini awalnya ditargetkan selesai pada Desember 2025, namun mengalami penundaan hingga akhir 2026. Direktur Utama KAI Commuter, Purnomo Sidi, menjelaskan bahwa selama masa transisi dari 1 September hingga 31 Desember 2026, seluruh layanan naik-turun penumpang akan dialihkan ke Stasiun BNI City dengan menerapkan prinsip kehati-hatian yang ketat.

Analisis Pakar

Dari perspektif ekonomi makro dan kebijakan publik, integrasi Stasiun Karet dan BNI City merupakan langkah logis yang krusial untuk mengoptimalkan konsep TOD Dukuh Atas. Secara teori, Transit Oriented Development (TOD) yang sukses harus mampu meminimalkan friksi transfer antar-moda. Jarak 150 meter yang sebelumnya memisahkan kedua stasiun ini adalah bentuk inefisiensi tata ruang yang memicu pemborosan waktu (time cost) bagi ribuan komuter harian serta meningkatkan biaya perawatan armada kereta akibat pola stop-and-go yang terlalu rapat.

Namun, penundaan proyek dari target awal Desember 2025 ke akhir 2026 menyisakan catatan kritis mengenai eksekusi proyek infrastruktur di Indonesia. Setiap keterlambatan dalam proyek fasilitas publik membawa opportunity cost yang tidak sedikit. Selama masa penutupan empat bulan (September-Desember 2026), pengalihan arus penumpang ke Stasiun BNI City dipastikan akan menciptakan titik kemacetan baru dan potensi penurunan produktivitas pekerja akibat penyesuaian rute. KAI harus mampu membuktikan bahwa output jangka panjang dari travelator ini sebanding dengan disrupsi jangka pendek yang dialami masyarakat.

Di sisi lain, dari sudut pandang bisnis korporasi, langkah KAI memusatkan transaksi di Stasiun BNI City adalah strategi cerdas untuk meningkatkan utilisasi aset (asset utilization). Stasiun BNI City yang megah selama ini terkesan underutilized sejak hanya melayani Kereta Bandara. Dengan masuknya arus penumpang KRL komuter dari Karet, ekosistem ritel dan UMKM di dalam Stasiun BNI City akan mendapatkan limpahan trafik (foot traffic) yang masif. Ini adalah stimulus ekonomi mikro yang sangat positif bagi para tenant di area stasiun.

Ke depan, integrasi ini harus menjadi cetak biru bagi konektivitas multi-moda yang lebih luas, yang melibatkan MRT, LRT, dan Transjakarta. Pemerintah dan KAI tidak boleh lagi menoleransi penundaan jadwal jika ingin target TOD Dukuh Atas 2027 tercapai tepat waktu. Kepercayaan investor terhadap proyek kawasan terpadu sangat bergantung pada kepastian hukum dan ketepatan waktu pembangunan infrastruktur pendukungnya.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

Q: Mengapa Stasiun KRL Karet ditutup mulai 1 September 2026?
A: Penutupan dilakukan untuk memulai proyek integrasi fisik dengan Stasiun BNI City, di mana Stasiun Karet akan diubah fungsinya menjadi selasar penghubung yang dilengkapi travelator demi keselamatan dan efisiensi perjalanan.

Q: Ke mana penumpang Stasiun Karet dialihkan selama masa pembangunan?
A: Seluruh aktivitas naik dan turun penumpang KRL Commuter Line dialihkan sepenuhnya ke Stasiun Sudirman Baru atau Stasiun BNI City mulai 1 September hingga 31 Desember 2026.

Q: Kapan proyek travelator ini ditargetkan selesai sepenuhnya?
A: Pembangunan fisik travelator ditargetkan selesai dalam waktu 70 hari (pertengahan November 2026), sementara keseluruhan proses integrasi stasiun ditargetkan rampung pada akhir Desember 2026.

BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Meow! Tanya Nesi!
๐Ÿ˜ธ