Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Defisit Dagang RI vs China Mencapai US$17,67 Miliar: Ancaman bagi Kedaulatan Ekonomi

Ekonomi & PasarDian KusumaDian KusumaSumber: CNBC Indonesia
Dian Kusuma
Dian Kusuma
Pakar Keuangan

Edukator keuangan milenial dengan pendekatan yang mudah dipahami.

Defisit Dagang RI vs China Mencapai US$17,67 Miliar: Ancaman bagi Kedaulatan Ekonomi
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Defisit neraca perdagangan non‑migas Indonesia‑China mencapai US$17,67 miliar pada Januari‑Juli 2026.
  • Impor mesin, peralatan mekanik (HS84) dan listrik (HS85) menyumbang lebih dari US$24 miliar defisit.
  • Jika tren berlanjut, Indonesia berisiko kehilangan daya tawar dalam negosiasi tarif dan rantai pasok regional.

Jakarta, CNBC Indonesia – Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa neraca perdagangan barang non‑migas Indonesia dengan China melebar tajam dalam tujuh bulan pertama 2026. Selama periode Januari hingga Juli, defisit tercatat US$17,67 miliar, melampaui angka US$13,18 miliar pada periode yang sama tahun lalu.

Ekspor Indonesia ke China hanya mencapai US$40,62 miliar, jauh di bawah impor sebesar US$58,29 miliar. Komoditas utama yang menjerat defisit adalah mesin dan peralatan mekanik serta bagiannya (HS84) dengan defisit US$12,45 miliar, diikuti oleh mesin dan perlengkapan elektrik (HS85) yang menyumbang US$12,41 miliar. Plastik dan barang plastik (HS39) menambah defisit sebesar US$3,35 miliar.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menegaskan bahwa China kini menjadi penyumbang defisit non‑migas terbesar bagi Indonesia. “Penyumbang defisit non‑migas terbesar pada kondisi Januari sampai dengan Juli 2026, yang pertama untuk negara Tiongkok,” ujarnya dalam konferensi pers di Gedung BPS, Jakarta, Selasa (1/9/2026).

Analisis Pakar

Sebagai ekonom makro, saya melihat tiga implikasi strategis dari data ini. Pertama, ketergantungan pada impor mesin dan peralatan menandakan kurangnya kapasitas produksi dalam negeri. Tanpa upaya memperkuat industri manufaktur berteknologi tinggi, Indonesia akan terus berada pada posisi “pembeli akhir” dalam rantai nilai global, yang menggerus margin perdagangan.

Kedua, defisit neraca perdagangan yang meluas dapat menekan nilai tukar rupiah, terutama bila aliran devisa bersih terus negatif. Dampaknya tidak hanya pada inflasi impor, tetapi juga pada biaya pembiayaan proyek infrastruktur yang masih mengandalkan pinjaman luar negeri.

Ketiga, kebijakan industri harus beralih dari sekadar meningkatkan volume ekspor ke strategi “value‑added export”. Pemerintah perlu mempercepat program pengembangan industri 4.0, memberikan insentif R&D, serta memfasilitasi joint‑venture dengan perusahaan China yang dapat mentransfer teknologi, bukan sekadar menjual komponen.

Terakhir, dalam konteks geopolitik, ketergantungan pada satu pasar utama meningkatkan risiko politik‑ekonomi. Diversifikasi destinasi ekspor, misalnya ke ASEAN Plus Three atau pasar Afrika, menjadi langkah mitigasi yang tak bisa ditunda.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Mengapa defisit perdagangan Indonesia dengan China begitu besar?
    A: Karena impor mesin, peralatan mekanik, dan listrik jauh melebihi ekspor, memperparah selisih perdagangan.
  • Q: Apa dampak defisit ini terhadap nilai tukar rupiah?
    A: Defisit yang terus melebar dapat menurunkan cadangan devisa dan memberi tekanan depresif pada rupiah.
  • Q: Bagaimana Indonesia dapat mengurangi defisit ini?
    A: Dengan meningkatkan kapasitas produksi dalam negeri, memperkuat R&D, dan diversifikasi pasar ekspor serta menggalakkan joint‑venture teknologi dengan China.

BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Meow! Tanya Nesi!
😸