Daya Beli Petani Hortikultura Merosot, Pemerintah Siapkan Anggaran Besar 2027
Pakar ekonomi makro yang sering menulis mengenai investasi dan pasar saham.

- Ringkasan Singkat Nilai Tukar Petani (NTP) hortikultura turun 2,84% pada Agustus 2026, sementara NTP nasional naik 1,05%.
- Menteri Amran Sulaiman menyebutkan kemarau, surplus produksi, dan kurangnya cold storage sebagai penyebab utama.
- Pemerintah berjanji menggandakan anggaran untuk subsektor hortikultura pada 2027 sebagai upaya memulihkan daya beli petani.
Ringkasan Singkat
- Nilai Tukar Petani (NTP) hortikultura turun 2,84% pada Agustus 2026, sementara NTP nasional naik 1,05%.
- Menteri Amran Sulaiman menyebutkan kemarau, surplus produksi, dan kurangnya cold storage sebagai penyebab utama.
- Pemerintah berjanji menggandakan anggaran untuk subsektor hortikultura pada 2027 sebagai upaya memulihkan daya beli petani.
Jakarta – Menteri Amran Sulaiman mengungkap penyebab Nilai Tukar Petani (NTP) di subsektor hortikultura menjadi satu‑satunya sektor yang mencatat penurunan pada Agustus 2026. NTP, yang menjadi barometer daya beli petani, turun 2,84% dibandingkan bulan sebelumnya, berbanding terbalik dengan kenaikan 1,05% secara nasional.
Menurut data BPS, penurunan ini dipicu oleh penurunan indeks harga yang diterima petani hortikultura sebesar 2,81%, sementara indeks harga yang dibayar petani justru naik tipis 0,03%. Kondisi ini menandakan bahwa petani sayur‑buah menanggung beban biaya produksi yang meningkat tanpa diimbangi oleh kenaikan harga jual.
Amran menilai faktor utama adalah **surplus produksi** pada komoditas tertentu, contohnya bawang merah yang melimpah sehingga harga turun drastis di tingkat petani. Ia menambahkan, “Kemarau memang menurunkan produksi cabai, namun musim hujan sekalipun tidak menjamin harga naik. Solusi jangka panjang yang kami butuhkan adalah pembangunan cold storage yang memadai.”
Untuk menutup kesenjangan, pemerintah berencana menggandakan anggaran hortikultura pada tahun 2027. “Anggaran akan hampir dua kali lipat dibandingkan tahun ini. Kami akan selesaikan satu per satu, tidak bisa sekaligus,” ujar Amran usai rapat kerja dengan Komisi IV DPR RI.
Analisis Pakar
Penurunan NTP hortikultura bukan sekadar gejala musiman; ia mencerminkan kegagalan rantai nilai agrikultur dalam mengelola volatilitas produksi. Surplus yang terjadi karena kurangnya koordinasi antara kebijakan produksi, pemasaran, dan penyimpanan menurunkan harga petani secara signifikan. Tanpa intervensi yang terstruktur, petani akan terus berada dalam posisi tawar yang lemah, mengancam stabilitas pasokan pangan domestik.
Dari perspektif makroekonomi, penurunan daya beli petani hortikultura dapat menurunkan konsumsi domestik atas produk segar, memicu ketergantungan pada impor, dan menambah defisit perdagangan. Kebijakan peningkatan anggaran pada 2027 harus diarahkan pada tiga pilar: (1) investasi infrastruktur penyimpanan dingin di daerah produksi utama, (2) pengembangan mekanisme kontrak forward antara petani dan pedagang besar untuk mengunci harga, serta (3) subsidi input yang terfokus pada varietas tahan iklim untuk mengurangi dampak kemarau.
Selain itu, pemerintah perlu memperkuat sistem peringatan dini harga komoditas melalui platform digital yang terintegrasi dengan data BPS. Transparansi harga akan memberi sinyal yang lebih cepat kepada petani untuk menyesuaikan pola tanam atau menunda panen, sehingga mengurangi risiko surplus mendadak.
Terakhir, peran sektor swasta, khususnya perusahaan agritech, harus dioptimalkan. Model kemitraan publik‑swasta (PPP) dalam pembangunan cold storage dan logistik pendingin dapat mempercepat realisasi proyek, sekaligus menciptakan lapangan kerja di daerah pedesaan. Tanpa sinergi ini, peningkatan anggaran saja tidak akan cukup untuk mengembalikan daya beli petani hortikultura ke level yang sehat.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
- Q: Mengapa NTP hortikultura turun sementara NTP nasional naik?
- A: Penurunan disebabkan oleh penurunan harga jual komoditas sayur‑buah akibat surplus produksi, sementara biaya input tetap naik.
- Q: Apa rencana pemerintah untuk mengatasi penurunan daya beli petani hortikultura?
- A: Pemerintah akan menggandakan anggaran subsektor hortikultura pada 2027, fokus pada pembangunan cold storage, kontrak forward, dan subsidi input.
- Q: Bagaimana surplus produksi memengaruhi harga petani?
- A: Surplus meningkatkan pasokan di pasar lokal, menurunkan harga jual petani sehingga mengurangi indeks harga yang diterima petani.
BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Ancaman Pelemahan Rupiah: Lukman Leong Proyeksi Tembus Rp 18.350, BI Akui Tantangan Menjaga Stabilitas

IHSG Anjlok 3,78% di Akhir Perdagangan, Investor Asing Lepas 10 Saham Unggulan dengan Net Sell Rp575 Miliar

Respons Keras Publik, KAI Batalkan Rencana Perubahan Nama Rute Kereta di Gapeka 2026
