Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

BMKG Prediksi Hujan Sporadis di Kalbar, BNPB Siapkan Operasi Modifikasi Cuaca di Tengah Kebakaran Hutan Mematikan

Berita DaerahSiti RahmawatiSiti RahmawatiSumber: CNN Nasional
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

BMKG Prediksi Hujan Sporadis di Kalbar, BNPB Siapkan Operasi Modifikasi Cuaca di Tengah Kebakaran Hutan Mematikan
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • BMKG memperkirakan hujan sporadis di sebagian Kalimantan Barat antara 1‑7 September 2026.
  • BNPB berencana gunakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dengan penyebaran 1.600 kg garam untuk memperkuat curah hujan.
  • Masih ada 30 titik api karhutla dengan visibilitas buruk; operasi pemadaman terhambat oleh lahan gambut dan kekurangan air.

Jakarta, 1 September 2026 – BMKG mengeluarkan peringatan potensi hujan sporadis di sebagian wilayah Kalimantan Barat selama periode 1‑7 September. Peringatan ini disampaikan oleh Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, dalam konferensi pers pada Selasa (1/9).

Menurut Berton, hujan yang diprediksi bersifat tidak merata dan hanya berlangsung sesaat. “BMKG memperkirakan potensi hujan dengan intensitas sporadis di sebagian wilayah Kalimantan Barat akan ada pada tanggal‑tanggal 1 sampai 7 September ini,” ujarnya.

Menanggapi prediksi tersebut, pihak BNPB menegaskan akan mengoptimalkan curah hujan melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). “Jika potensi hujan sudah terdeteksi, kami akan memanfaatkan ini dan mengoptimalkan jatuhnya hujan melalui OMC,” jelasnya, menambahkan harapan agar rekomendasi BMKG dapat memperkuat operasi udara yang lebih intens.

BNPB mengungkapkan bahwa OMC sebelumnya telah dilaksanakan satu kali dengan menebarkan 1.600 kg garam ke atmosfer. “OMC dilakukan satu kali dengan menebarkan 1.600 kg garam,” kata Berton.

Sementara itu, situasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat tetap mengkhawatirkan. BNPB mencatat masih ada 30 titik api yang terus menyala, dengan kualitas udara berbahaya dan jarak pandang di bawah 1 km. “Di Kalimantan Barat kami memonitor adanya 30 titik api dengan kualitas udara umumnya berbahaya, jarak pandang di bawah 1 km,” papar Berton.

Operasi pemadaman yang melibatkan unit udara dan darat terus digalakkan secara terpadu, namun menghadapi kendala serius: visibilitas rendah, lahan gambut yang sulit dipadamkan, serta keterbatasan sumber air. “Operasi masih menghadapi kendala berupa tingkat daya lihat yang masih rendah, visibilitas yang rendah, kemudian lahan gambut yang sulit dipadamkan dan keterbatasan sumber air,” tambahnya.

Analisis Pakar

Prediksi hujan sporadis oleh BMKG memang dapat menjadi peluang bagi upaya mitigasi kebakaran, namun realitas di lapangan menunjukkan bahwa harapan tersebut masih jauh dari solusi definitif. Lahan gambut di Kalimantan Barat memiliki sifat hidrofobik alami; meski hujan turun, air cepat meresap ke dalam tanah tanpa meningkatkan kelembaban permukaan yang diperlukan untuk memadamkan api.

Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang mengandalkan penyebaran garam masih menjadi topik kontroversial dalam komunitas ilmiah. Studi independen menunjukkan bahwa efektivitas penyebaran partikel aerosol dalam mempercepat kondensasi hujan sangat bergantung pada kondisi atmosfer yang stabil. Tanpa data meteorologis yang transparan, klaim BNPB tentang “optimalisasi hujan” berisiko menjadi sekadar politik kebijakan, bukan ilmu terapan.

Lebih mengkhawatirkan adalah kurangnya koordinasi antara lembaga. Sementara BNPB menyiapkan OMC, tidak ada indikasi bahwa BMKG menyediakan model cuaca yang terintegrasi dengan operasi lapangan. Tanpa sinergi data, upaya penyebaran garam dapat menjadi pemborosan anggaran publik yang seharusnya dialokasikan untuk memperkuat infrastruktur pemadam kebakaran, seperti penyediaan air dan akses jalan ke daerah gambut.

Terakhir, keberlanjutan penanganan karhutla memerlukan pendekatan yang lebih holistik: rehabilitasi lahan gambut, penegakan hukum terhadap pembakaran ilegal, dan pemberdayaan masyarakat lokal. Mengandalkan “hujan buatan” sebagai solusi jangka pendek justru menutup mata pada akar permasalahan yang bersifat struktural.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Apa itu hujan sporadis yang diprediksi BMKG?
  • A: Hujan sporadis berarti curah hujan yang tidak merata dan terjadi dalam periode singkat, biasanya tidak cukup untuk mengatasi kebakaran hutan secara signifikan.
  • Q: Bagaimana cara kerja Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dengan garam?
  • A: OMC menyebarkan partikel garam ke atmosfer untuk mempercepat proses kondensasi awan, sehingga diharapkan meningkatkan peluang terjadinya hujan.
  • Q: Mengapa kebakaran di Kalimantan Barat sulit dipadamkan?
  • A: Lahan gambut yang kering, visibilitas rendah, serta keterbatasan sumber air dan akses jalan menjadi faktor utama yang menghambat operasi pemadaman.

BERITA TERKAIT (Berita Daerah)

Meow! Tanya Nesi!
😸