Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Siasat 'Ular' di Timur Tengah: Menlu Iran Tuding Netanyahu Manipulasi AS demi Seret Washington ke Jurang Perang

DuniaSiti RahmawatiSiti RahmawatiSumber: CNN Internasional
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Siasat 'Ular' di Timur Tengah: Menlu Iran Tuding Netanyahu Manipulasi AS demi Seret Washington ke Jurang Perang
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menuduh PM Israel Benjamin Netanyahu menggunakan retorika ganda untuk memanipulasi AS agar terlibat perang melawan Iran.
  • Konflik tetap membara pasca-tewasnya Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei pada Februari lalu, yang kini digantikan oleh putranya, Mojtaba Khamenei.
  • Meskipun sempat ada kesepakatan gencatan senjata dan MoU, ketegangan militer terus berlanjut dengan Pakistan bertindak sebagai mediator perdamaian.

Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah kembali mencapai titik didih menyusul pernyataan tajam dari Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi. Diplomat senior Teheran tersebut secara terbuka menjuluki Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, sebagai "ular" (serpent)—sebuah metafora yang merujuk pada kelicikan dan tipu muslihat. Araghchi menuduh Netanyahu telah memanipulasi pemerintah Amerika Serikat (AS) agar terlibat dalam konfrontasi militer langsung melawan Iran demi kepentingan domestik dan regional Israel.

Melalui pernyataan resmi di platform media sosial X, Araghchi menyoroti apa yang ia sebut sebagai strategi komunikasi ganda atau "diplomasi bermuka dua" yang dimainkan oleh Netanyahu. Menurutnya, dalam narasi berbahasa Ibrani yang ditujukan untuk konsumsi domestik Israel, Netanyahu secara terbuka membual tentang keberhasilannya memengaruhi kebijakan luar negeri AS melalui ribuan jam siaran televisi. Sebaliknya, dalam narasi berbahasa Inggris, pemimpin Israel tersebut justru memuji kepemimpinan Presiden AS sebagai bentuk sanjungan taktis.

Konfrontasi retoris ini terjadi di tengah lanskap keamanan yang sangat rapuh. Hubungan antara poros AS-Israel dan Iran berada dalam fase paling kritis setelah operasi militer besar-besaran pada akhir Februari lalu yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, beserta sejumlah pejabat tinggi pertahanan negara tersebut. Pasca-insiden tersebut, transisi kekuasaan di Teheran berlangsung cepat dengan terpilihnya Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi yang baru melalui mekanisme konstitusional.

Meskipun sempat tercapai kesepakatan gencatan senjata pada April dan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) pada Juni untuk mengakhiri permusuhan, implementasi di lapangan menunjukkan realitas yang berbeda. Washington berulang kali melancarkan ancaman dan serangan udara yang menyasar infrastruktur sipil vital di Iran. Saat ini, Pakistan tengah berupaya keras menjalankan peran mediasi internasional untuk membawa kedua belah pihak kembali ke meja perundingan guna merumuskan perdamaian yang permanen, meskipun jalan menuju rekonsiliasi masih dipenuhi hambatan taktis.

Analisis Pakar

Dari perspektif hubungan internasional, perseteruan retorik antara Iran dan Israel ini mencerminkan dinamika security dilemma yang akut di Timur Tengah. Penggunaan istilah "ular" oleh Menlu Abbas Araghchi bukan sekadar serangan personal, melainkan upaya sistematis untuk mendelegitimasi pengaruh Israel di Washington. Iran mencoba mengeksploitasi celah domestik di AS dengan mengirimkan pesan kepada publik Amerika bahwa mereka sedang "diperalat" oleh sekutu regionalnya untuk masuk ke dalam perang yang tidak menguntungkan kepentingan nasional AS.

Strategi komunikasi ganda Netanyahu yang disoroti oleh Araghchi sebenarnya merupakan taktik klasik dalam diplomasi publik dan politik domestik. Bagi Netanyahu, menjaga dukungan bipartisan di AS adalah harga mati untuk kelangsungan eksistensi keamanan Israel. Namun, di sisi lain, ia harus menunjukkan postur ketegasan yang dominan di hadapan konstituen domestiknya di Israel guna mempertahankan koalisi pemerintahannya. Dualitas pesan ini—tunduk dan memuji dalam bahasa Inggris, namun dominan dan manipulatif dalam bahasa Ibrani—menjadi titik lemah yang kini dieksploitasi secara cerdik oleh diplomasi Iran.

Transisi kepemimpinan di Iran kepada Mojtaba Khamenei juga membawa variabel baru yang krusial. Sebagai pemimpin baru di tengah situasi perang, Mojtaba menghadapi tekanan ganda: mengonsolidasikan kekuasaan di dalam negeri dan menunjukkan efek gentar (deterrence) yang kuat terhadap musuh-musuh luar negeri. Oleh karena itu, sikap keras yang ditunjukkan oleh Menlu Araghchi juga berfungsi sebagai proyeksi kekuatan domestik untuk menunjukkan bahwa kepemimpinan baru Iran tidak akan tunduk pada tekanan militer AS maupun manuver politik Israel.

Terakhir, kegagalan MoU Juni dan berlanjutnya serangan AS menunjukkan bahwa diplomasi tanpa komitmen struktural yang kuat sering kali berujung pada kegagalan. Keterlibatan Pakistan sebagai mediator adalah langkah positif, namun Pakistan menghadapi tantangan berat karena tidak memiliki daya tawar koersif (leverage) yang cukup kuat untuk memaksa AS atau Iran mematuhi kesepakatan. Selama AS masih melihat Iran sebagai ancaman hegemonik dan Israel terus berhasil mengarahkan kebijakan luar negeri AS di kawasan tersebut, maka perdamaian permanen akan tetap menjadi target yang sulit dijangkau.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

Q: Mengapa Menteri Luar Negeri Iran menyebut Benjamin Netanyahu sebagai "ular"?
A: Menlu Iran Abbas Araghchi menggunakan istilah tersebut untuk menggambarkan taktik diplomasi ganda Netanyahu, yang dituduh memuji AS dalam bahasa Inggris namun membual dalam bahasa Ibrani tentang bagaimana ia berhasil memengaruhi kebijakan Washington untuk memerangi Iran.

Q: Bagaimana status kepemimpinan Iran setelah tewasnya Ayatollah Ali Khamenei?
A: Kepemimpinan tertinggi Iran kini telah beralih kepada putranya, Mojtaba Khamenei, yang terpilih secara konstitusional di tengah situasi konflik yang masih berlangsung dengan AS dan Israel.

Q: Apa peran Pakistan dalam konflik antara AS dan Iran saat ini?
A: Pakistan bertindak sebagai mediator diplomatik yang berupaya memfasilitasi dialog dan menarik kedua belah pihak kembali ke meja perundingan guna menghentikan perang secara permanen, meskipun negosiasi baru belum membuahkan hasil signifikan.

BERITA TERKAIT (Dunia)

Meow! Tanya Nesi!
😸