Siasat Baru Teheran: Mojtaba Khamenei Serukan De-Dollarisasi Total dan Ekonomi Perlawanan Hadapi Sanksi AS
Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Ringkasan Singkat
- Mojtaba Khamenei merespons kampanye sanksi baru Amerika Serikat ("Operation Economic Outcast") dengan menyerukan penguatan produksi domestik dan penghentian ketergantungan pada mata uang dolar AS.
- Ia menekankan pentingnya menjaga persatuan nasional, melarang dikotomi sosial yang memecah belah, serta memberikan apresiasi terbuka terhadap kinerja pemerintahan Presiden Masoud Pezeshkian.
- Pernyataan strategis ini disampaikan dalam momentum Pekan Pemerintah, yang memperingati para martir revolusi sekaligus menegaskan ketangguhan Iran menghadapi tekanan geopolitik dari AS dan Israel.
Dalam lanskap geopolitik Timur Tengah yang terus bergejolak, figur berpengaruh Iran, Seyyed Mojtaba Khamenei, memberikan respons tegas terhadap langkah sepihak Amerika Serikat yang kembali memperketat tekanan finansial atas Teheran. Langkah Washington yang meluncurkan kampanye bertajuk Operation Economic Outcast dinilai sebagai bentuk keputusasaan setelah gagal mencapai tujuan strategisnya melalui jalur konfrontasi langsung.
Menyikapi tekanan tersebut, Mojtaba Khamenei menggarisbawahi bahwa kunci utama pertahanan Iran terletak pada reformasi struktural dalam negeri. Ia menyerukan urgensi untuk mengatasi tantangan ekonomi domestik, khususnya inflasi, dengan menerapkan kebijakan ekonomi perlawanan yang mandiri. Salah satu poin krusial yang ia tekankan adalah percepatan agenda de-dollarisasi guna memutus rantai ketergantungan pada sistem keuangan Barat.
"Kunci untuk menyelesaikan semua persoalan di bidang ini terletak pada ketergantungan sebesar mungkin terhadap produksi dalam negeri," ujar Mojtaba, sebagaimana dikutip dari kantor berita Mehr. Ia menambahkan bahwa jika kapasitas produksi dalam negeri belum mencukupi, kebijakan impor harus dilakukan secara selektif, tepat sasaran, dan bijaksana tanpa mengorbankan kedaulatan industri lokal.
Lebih lanjut, ia mengakui bahwa manuver musuh-musuh Iran, baik selama era perang maupun pasca-perang, memang memberikan dampak nyata terhadap perekonomian. Namun, ia optimistis bahwa pengelolaan yang cerdas, kolaborasi dengan para ahli, serta pelibatan aktif masyarakat dan inovasi dari kelompok elite muda akan membawa Iran menuju lompatan pembangunan yang signifikan.
Di tengah tekanan luar negeri, aspek stabilitas politik dalam negeri juga menjadi perhatian utama. Mojtaba secara khusus memuji kinerja kabinet di bawah kepemimpinan Presiden Masoud Pezeshkian yang dinilai tulus dan penuh perhatian dalam mengelola kebutuhan publik di tengah blokade. Ia juga mengingatkan agar masyarakat tidak terjebak dalam dikotomi buatan—seperti perdebatan antara kompromi atau perang—yang dinilai hanya akan melemahkan kohesi sosial dan merugikan kepentingan nasional.
Pernyataan ini disampaikan dalam rangka memperingati Pekan Pemerintah, sebuah momentum tahunan untuk mengenang Presiden Mohammad Ali Rajai dan Perdana Menteri Mohammad Javad Bahonar yang gugur dalam peristiwa pengeboman tahun 1981. Dalam kesempatan tersebut, Mojtaba juga memberikan penghormatan khusus atas dedikasi historis Ayatollah Seyyed Ali Khamenei selama menjabat sebagai presiden di masa-masa awal revolusi.
Analisis Pakar
Dari perspektif hubungan internasional, kemunculan Mojtaba Khamenei ke ruang publik dengan narasi kebijakan ekonomi dan politik yang komprehensif memiliki signifikansi politik yang sangat besar. Secara historis, Mojtaba lebih sering bergerak di balik layar kekuasaan Teheran. Pernyataan publiknya yang terstruktur mengenai sanksi AS dan arah ekonomi negara mengindikasikan adanya konsolidasi kekuasaan di tingkat elit ulama (clerical establishment) Iran, sekaligus memperkuat spekulasi mengenai peran kepemimpinan masa depannya di Republik Islam tersebut.
Kebijakan "Ekonomi Perlawanan" dan de-dollarisasi yang digaungkan bukanlah hal baru, namun momentumnya saat ini sangat krusial. Di tengah perluasan keanggotaan BRICS—di mana Iran kini menjadi anggota resmi—Teheran mencoba membangun arsitektur keuangan alternatif bersama kekuatan global lainnya seperti China dan Rusia. Namun, tantangan domestik berupa inflasi tinggi dan depresiasi mata uang Rial menunjukkan bahwa retorika kemandirian ekonomi harus diimbangi dengan reformasi struktural yang nyata, bukan sekadar sentimen anti-Barat.
Menariknya, dukungan terbuka Mojtaba terhadap Presiden Masoud Pezeshkian, yang dikenal sebagai figur moderat-reformis, menunjukkan upaya pragmatis untuk menjaga stabilitas internal. Dengan memberikan legitimasi keagamaan dan politik kepada Pezeshkian, faksi konservatif Iran tampaknya ingin memastikan bahwa pemerintah memiliki ruang gerak yang cukup untuk mengelola krisis ekonomi, sekaligus menetapkan batas tegas bahwa diplomasi luar negeri tidak boleh mengorbankan prinsip-prinsip dasar revolusi.
Secara keseluruhan, respons Iran terhadap sanksi ekonomi AS menunjukkan bahwa Teheran tidak lagi melihat sanksi sebagai hambatan sementara, melainkan sebagai realitas permanen yang harus diadaptasi. Dengan mengandalkan inovasi teknologi pemuda dan memperkuat kohesi sosial, Iran sedang mencoba mengirimkan pesan kepada Washington bahwa strategi tekanan maksimum (maximum pressure) telah mencapai titik jenuh dan tidak akan mampu memaksakan konsesi politik dari Teheran.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
Q: Siapa Mojtaba Khamenei dan mengapa pernyataannya sangat berpengaruh di Iran?
A: Mojtaba Khamenei adalah putra dari Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dan seorang ulama senior. Meskipun jarang tampil di media, ia dianggap memiliki pengaruh politik dan keamanan yang sangat besar di lingkaran dalam kekuasaan Iran, serta sering disebut-sebut sebagai salah satu kandidat potensial dalam transisi kepemimpinan masa depan.
Q: Apa yang dimaksud dengan kampanye "Operation Economic Outcast" oleh AS?
A: Ini adalah istilah yang merujuk pada rangkaian sanksi ekonomi dan finansial terbaru yang diluncurkan oleh Amerika Serikat untuk mengisolasi sistem keuangan Iran dari pasar global, membatasi ekspor energinya, dan menekan Teheran agar mengubah kebijakan regional serta program nuklirnya.
Q: Bagaimana strategi Iran dalam menghadapi sanksi ekonomi tersebut?
A: Iran menerapkan doktrin "Ekonomi Perlawanan" yang berfokus pada peningkatan produksi dalam negeri, diversifikasi ekonomi non-migas, pemanfaatan teknologi dari inovator muda, serta melakukan de-dollarisasi dengan menggunakan mata uang lokal atau alternatif dalam perdagangan internasional.
BERITA TERKAIT (Dunia)

Skandal Rasisme Guncang Montreal: Tujuh Polisi Dipecat, Kepercayaan Publik Terancam

Iran Ancam Jangkauan Rudal ke Pangkalan AS di Eropa Jika Agresi Berlanjut

Tentara Yaman Laksanakan 951 Operasi Tempur dalam 24 Jam, Lebih dari 250.000 Warga Terpaksa Mengungsi
