Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Saat Negara Gagal Padamkan Api: Ribuan Warga Kalbar Bersujud Minta Hujan di Tengah Racun Asap

Berita DaerahSiti RahmawatiSiti RahmawatiSumber: CNN Nasional
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Saat Negara Gagal Padamkan Api: Ribuan Warga Kalbar Bersujud Minta Hujan di Tengah Racun Asap
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Ribuan warga di Pontianak, Kalimantan Barat, menggelar salat Istisqa secara massal untuk memohon turunnya hujan di tengah kemarau ekstrem.
  • Bencana kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) telah mencapai tingkat yang mengkhawatirkan dan mengancam kesehatan publik.
  • Aksi spiritual ini menjadi simbol keputusasaan sekaligus kritik tidak langsung terhadap lambannya mitigasi bencana oleh otoritas terkait.

PONTIANAK – Di bawah langit yang meredup dan menguning akibat kepungan kabut asap beracun, ribuan warga di Kota Pontianak, Kalimantan Barat, tumpah ruah ke lapangan terbuka. Dengan mata perih dan napas yang sesak, mereka melaksanakan salat Istisqa, sebuah ritual keagamaan untuk memohon intervensi langit agar hujan segera turun membasahi bumi yang gersang.

Kemarau panjang yang melanda wilayah ini telah memicu eskalasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang tak terkendali. Meski indeks standar pencemaran udara (ISPU) menunjukkan kategori tidak sehat hingga berbahaya, warga—termasuk anak-anak dan lansia—tetap memadati saf-saf salat dengan menggunakan masker seadanya. Mereka bersujud di atas tanah kering, melantunkan doa dan istighfar, berharap mukjizat hujan dapat memadamkan bara api yang gagal dijinakkan oleh manusia.

Analisis Pakar

Sebagai seorang jurnalis yang telah puluhan tahun menginvestigasi bencana ekologis di negeri ini, saya melihat pemandangan ribuan warga yang bersujud di tengah kepulan asap bukan sekadar ritus keagamaan biasa. Ini adalah potret nyata dari keputusasaan publik yang mendalam. Ketika negara, dengan segala instrumen kekuasaan dan anggarannya, gagal memberikan hak paling mendasar bagi rakyatnya—yaitu udara bersih—maka mengetuk pintu langit adalah satu-satunya jalan keluar yang tersisa bagi mereka.

Kita harus jujur dan tajam melihat akar masalah ini. Karhutla di Kalimantan Barat bukanlah murni bencana alam akibat siklus El Nino. Ini adalah bencana antropogenik—bencana yang diciptakan oleh keserakahan manusia dan dipelihara oleh pembiaran sistemik. Investigasi lapangan berulang kali menunjukkan bahwa titik-titik api mayoritas berada di sekitar konsesi perkebunan sawit dan hutan tanaman industri (HTI). Sayangnya, penegakan hukum terhadap korporasi pembakar lahan kerap kali tumpul di ujung, hanya tajam pada petani-petani kecil yang melakukan pembukaan lahan tradisional.

Sangat ironis melihat bagaimana pemerintah daerah dan pusat selalu tampak gagap setiap kali musim kemarau tiba. Program restorasi gambut dan pembuatan sekat kanal sering kali hanya menjadi proyek kosmetik di atas kertas tanpa realisasi yang efektif di lapangan. Ketika api sudah membesar dan asap mulai mencekik paru-paru anak-anak kita hingga memicu lonjakan kasus ISPA, otoritas terkait baru sibuk melakukan pemadaman darat dan udara yang memakan biaya triliunan rupiah. Ini adalah pola penanganan yang reaktif, bukan preventif.

Salat Istisqa yang digelar warga adalah tamparan keras bagi wajah para pembuat kebijakan. Tuhan memberikan manusia akal untuk berpikir dan mengelola bumi dengan bijak, bukan untuk merusaknya demi keuntungan segelintir oligarki lalu menyalahkan alam saat bencana datang. Jika pemerintah tidak segera melakukan reformasi agraria yang radikal, mencabut izin korporasi nakal, dan berkomitmen penuh melindungi lahan gambut, maka ritual meminta hujan ini akan terus menjadi agenda tahunan yang memilukan—sebuah monumen kegagalan negara dalam melindungi rakyatnya.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

Q: Apa tujuan warga Kalimantan Barat melaksanakan salat Istisqa?
A: Warga melaksanakan salat Istisqa sebagai ikhtiar spiritual untuk memohon turunnya hujan guna mengatasi kemarau panjang dan meredakan kabut asap pekat akibat karhutla.

Q: Mengapa kabut asap di Pontianak terus berulang setiap tahun?
A: Kabut asap terus berulang karena lemahnya penegakan hukum terhadap pelaku pembakaran hutan (terutama korporasi), rusaknya ekosistem lahan gambut, serta lambatnya upaya pencegahan dini dari pemerintah.

Q: Bagaimana dampak kabut asap ini terhadap aktivitas masyarakat?
A: Kabut asap menyebabkan kualitas udara memburuk hingga tingkat berbahaya, memicu lonjakan penyakit ISPA, mengganggu jarak pandang transportasi, dan memaksa sekolah-sekolah untuk meliburkan siswanya.

BERITA TERKAIT (Berita Daerah)

Meow! Tanya Nesi!
😸