Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Kolaborasi Raksasa Indonesia-Malaysia Bikin Baterai EV Jadi ‘Made in ASEAN’ – Apa Artinya untuk Mobil Listrik?

OtomotifSiska AmeliaSiska AmeliaSumber: CNN Otomotif
Siska Amelia
Siska Amelia
Rider & Reviewer

Membawa perspektif segar dalam dunia otomotif roda dua dari kacamata perempuan.

Kolaborasi Raksasa Indonesia-Malaysia Bikin Baterai EV Jadi ‘Made in ASEAN’ – Apa Artinya untuk Mobil Listrik?
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Indonesia dan Malaysia meluncurkan proyek Baterai Nusantara untuk menciptakan rantai pasok baterai EV mandiri di ASEAN.
  • Indonesia fokus pada material katoda, sementara Malaysia sediakan fasilitas pilot‑plant untuk produksi sel.
  • Target jangka panjang: produksi sel baterai di dalam negeri dan mengurangi ketergantungan impor di pasar EV regional.

Kerjasama strategis antara Indonesia dan Malaysia kini memasuki fase eksekusi lewat inisiatif Baterai Nusantara. Evvy Kartini, profesor di BRIN sekaligus pendiri National Battery Research Institute (NBRI), menegaskan bahwa kolaborasi ini bukan sekadar produksi massal, melainkan upaya membangun ekosistem baterai yang sepenuhnya ASEAN‑centric.

Skema kerja Baterai Nusantara mengandalkan ekstraksi dan pengolahan bahan baku (nikel, kobalt, litium) di Indonesia, yang kemudian dikirim ke fasilitas pilot di Malaysia untuk pembuatan sel. Hasil sel tersebut akan kembali dipasok ke pabrik perakitan kendaraan listrik di kawasan, menutup loop rantai pasok secara vertikal.

Menurut Evvy, keunggulan Indonesia terletak pada pengembangan katoda berperforma tinggi, sementara Malaysia memiliki infrastruktur pilot‑plant yang siap menguji skala menengah (ratusan megawatt‑jam). “Kami ingin memproduksi sel baterai di dalam negeri, bukan hanya mengekspor bahan mentah,” ujarnya di Jakarta, 26 Agustus.

Pasar kendaraan listrik di ASEAN diproyeksikan mencapai 5‑7 juta unit pada 2030, menjadikan kawasan ini ladang subur bagi technology hub baterai. Namun, tantangan utama tetap pada kapasitas riset dan ketersediaan fasilitas produksi berskala pilot yang dapat menjembatani laboratorium dengan lini produksi komersial.

Fasilitas pilot plant yang diusulkan akan berfungsi sebagai bridge antara material katoda yang telah divalidasi di laboratorium dan produksi sel massal. “Kita tidak perlu langsung melompat ke gigawatt‑hour, cukup lakukan bridging material ke sel,” kata Evvy, menekankan pentingnya fase scale‑up yang terkontrol.

Analisis Pakar

Sebagai seorang reviewer otomotif yang telah menelusuri evolusi powertrain sejak era hybrid, saya melihat kolaborasi ini sebagai titik balik kritis bagi ASEAN. Selama ini, kebanyakan produsen EV global mengandalkan rantai pasok baterai yang berpusat di China, Korea, atau Eropa. Dengan menguasai katoda—komponen paling mahal dan teknologinya paling sensitif—Indonesia dapat menegosiasikan posisi yang jauh lebih kuat dalam rantai nilai global.

Namun, tidak semua berkilau. Kualitas katoda yang dihasilkan harus memenuhi standar energy density > 200 Wh/kg dan siklus hidup > 1500 kali untuk bersaing dengan sel NCM atau NCA yang diproduksi oleh pemain besar. Ini menuntut investasi signifikan dalam R&D material, termasuk kontrol impuritas, homogenitas partikel, dan stabilitas termal. Tanpa itu, sel yang diproduksi di Malaysia berisiko menjadi “budget cell” yang hanya cocok untuk kendaraan kota berkecepatan rendah.

Selanjutnya, fasilitas pilot plant di Malaysia harus dirancang dengan fleksibilitas proses—misalnya, kemampuan beralih antara format sel pouch, cylindrical, dan prismatic. Fleksibilitas ini penting mengingat OEM ASEAN masih bereksperimen dengan arsitektur baterai yang berbeda. Jika pilot plant hanya mendukung satu format, ia akan menjadi bottleneck bagi diversifikasi produk.

Terakhir, regulasi dan kebijakan pemerintah harus selaras. Insentif fiskal, standar keamanan baterai, serta skema green procurement akan menentukan seberapa cepat ekosistem ini dapat bertransformasi dari fase “demo” menjadi produksi massal. Jika pemerintah ASEAN dapat menyatukan standar teknis, maka Baterai Nusantara bukan sekadar proyek bilateral, melainkan fondasi industri baterai regional yang kompetitif secara global.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Apa peran utama Indonesia dalam proyek Baterai Nusantara?
    A: Indonesia menyediakan bahan baku dan mengembangkan material katoda berteknologi tinggi untuk sel baterai.
  • Q: Mengapa Malaysia dipilih sebagai lokasi pilot‑plant?
    A: Malaysia sudah memiliki fasilitas produksi sel skala menengah yang dapat menguji dan memproduksi sel baterai secara efisien.
  • Q: Kapan sel baterai buatan ASEAN diperkirakan masuk ke pasar massal?
    A: Diperkirakan mulai 2027‑2028 setelah fase pilot selesai dan kapasitas produksi ditingkatkan.
Meow! Tanya Nesi!
😸