Kebakaran Gambut Kubu Raya: BPBD Berjuang Memadamkan Api yang Membara, Apa Penyebabnya?

Berita Daerah
Budi SantosoBudi Santoso
Budi Santoso
Budi Santoso
Editor

Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Kebakaran Gambut Kubu Raya: BPBD Berjuang Memadamkan Api yang Membara, Apa Penyebabnya?
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Api lahan gambut di KubuRaya, KalimantanBarat masih berkobar pada Kamis (27/8).
  • Petugas BPBD bersama tim pemadam dan relawan berupaya menekan laju penyebaran dengan helikopter dan pemadam darat.
  • Kerusakan diperkirakan meluas ke ribuan hektar, menambah beban ekonomi dan kesehatan masyarakat setempat.

Petugas BPBD memadamkan kebakaran di Kubu Raya

Api hutan yang melanda lahan gambut di Kubu Raya belum dapat dipadamkan sepenuhnya. Menurut laporan Balai Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalimantan Barat, upaya pemadaman masih terhambat oleh kondisi tanah yang sangat kering serta akses jalan yang terbatas. Tim ManggalaAgni yang dipimpin oleh Kapolres Kubu Raya, menurunkan helikopter pemadam air sejak dini, namun volume air yang dapat dijatuhkan masih jauh di bawah kebutuhan untuk menaklukkan lahan gambut seluas lebih dari 1.200 hektar.

Petugas lapangan melaporkan bahwa angin kencang memperparah penyebaran api, sementara suhu udara yang mencapai 38°C menambah intensitas pembakaran. Sementara itu, warga setempat mengeluhkan bau asap yang masuk ke rumah-rumah, menimbulkan gangguan pernapasan, terutama pada anak-anak dan lansia.

Penanganan kebakaran ini menimbulkan pertanyaan serius tentang kesiapan infrastruktur penanggulangan bencana di wilayah yang rawan kebakaran gambut. Pemerintah provinsi belum mengeluarkan alokasi dana tambahan, meski Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah mengirimkan tim ahli untuk melakukan evaluasi.

Analisis Pakar

Sebagai jurnalis investigasi yang telah menelusuri pola kebakaran hutan di Indonesia selama satu dekade, saya menilai bahwa kegagalan memadamkan kebakaran di KubuRaya bukan sekadar masalah teknis. Ada kegagalan struktural dalam kebijakan pengelolaan lahan gambut yang telah lama diabaikan. Pemerintah pusat dan daerah masih mengandalkan pendekatan reaktif—menurunkan helikopter setelah api melaju—alih-alih mengimplementasikan strategi preventif seperti restorasi lahan basah dan pengendalian laju pembukaan lahan.

Selain itu, koordinasi antar‑instansi masih lemah. BPBD, BNPB, Dinas Lingkungan Hidup, serta aparat keamanan tampak bekerja dalam silo terpisah, sehingga respons menjadi terfragmentasi. Padahal, kebakaran gambut memerlukan sinergi lintas sektoral, termasuk pemantauan satelit real‑time, penegakan hukum terhadap pembakaran ilegal, dan penyediaan dana darurat yang dapat dicairkan dalam hitungan jam.

Faktor ekonomi juga tak boleh diabaikan. Banyak petani dan perusahaan kelapa sawit di sekitar Kubu Raya masih mengandalkan pembakaran sebagai metode pembersihan lahan karena biaya alternatif yang lebih tinggi. Tanpa insentif yang kuat untuk adopsi praktik agrikultur berkelanjutan, kebakaran akan terus menjadi pilihan “murah” yang berakibat fatal bagi ekosistem dan kesehatan publik.

Terakhir, perubahan iklim memperparah kondisi kering di wilayah tropis. Pemerintah harus mengintegrasikan data iklim ke dalam perencanaan mitigasi kebakaran, termasuk penetapan zona rawan kebakaran yang lebih ketat dan penegakan sanksi yang konsisten. Tanpa langkah-langkah ini, Kubu Raya akan kembali menjadi sorotan setiap musim kemarau.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Berapa luas area yang terbakar di Kubu Raya?
    A: Diperkirakan lebih dari 1.200 hektar lahan gambut terbakar.
  • Q: Apa penyebab utama kebakaran gambut di wilayah ini?
    A: Kombinasi pembukaan lahan dengan pembakaran, kondisi tanah kering, dan angin kencang.
  • Q: Bagaimana cara masyarakat setempat melindungi diri dari asap?
    A: Menggunakan masker N95, menutup ventilasi rumah, dan menghindari aktivitas luar ruangan pada jam puncak asap.
Meow! Tanya Nesi!
😾