Senin, 2 November 2026 โ˜ผJakarta 29ยฐC
berita hari ini.

Bukan Buat Kripik! BRIN Sulap Tepung Singkong Jadi Senjata Canggih Padamkan Karhutla Skala Besar

TeknologiReza AdityaReza AdityaSumber: CNN Teknologi
Reza Aditya
Reza Aditya
Pakar Teknologi

Reviewer gadget independen dengan perspektif teknis yang mendalam.

Bukan Buat Kripik! BRIN Sulap Tepung Singkong Jadi Senjata Canggih Padamkan Karhutla Skala Besar
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Inovasi Lokal: BRIN bersama Polri tengah menguji efektivitas tepung singkong (pati singkong) sebagai bahan pemadam kebakaran hutan dan lahan (karhutla) skala besar.
  • Sains di Baliknya: Campuran pati singkong, amonium polifosfat, dan zat pembasah terbukti secara ilmiah mampu menahan laju api di lahan gambut karena sifatnya yang merekat erat dan menahan air lebih lama.
  • Tantangan Scaling-Up: BRIN kini fokus merancang metode penyemprotan dan peralatan khusus karena material ini tidak bisa diaplikasikan secara manual untuk area yang sangat luas.

Halo guys, Reza Aditya di sini! Kali ini kita kedatangan kabar yang sangat menarik dan mind-blowing dari dunia riset dan teknologi lokal. Siapa sangka bahan makanan yang biasa kita konsumsi sehari-hari, yaitu singkong, kini diproyeksikan menjadi pahlawan penyelamat lingkungan? Ya, BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional) saat ini sedang serius menguji efektivitas tepung berbahan singkong untuk memadamkan bencana karhutla dalam skala besar.

Ide gila tapi genius ini awalnya diinisiasi oleh Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo dan langsung direspons cepat oleh Presiden Prabowo Subianto. Kepala BRIN, Arif Satria, mengonfirmasi bahwa secara teori kimia molekuler, inovasi ini sangat masuk akal. Para ahli kimia molekuler di BRIN pun sudah memberikan lampu hijau secara teoritis. Namun, tantangan terbesarnya sekarang adalah bagaimana melakukan scaling up dari uji coba skala kecil ke skala bencana hutan yang masif.

Secara teknis, formula yang diuji coba oleh Polda Kalimantan Selatan ini menggabungkan pati singkong dengan amonium polifosfat, air, dan zat pembasah (wetting agent). Cara kerjanya sangat keren: air dalam campuran bertugas menyerap panas ekstrem dari api, sementara pati singkong bertindak sebagai agen perekat (binder) alami yang membuat cairan pemadam menempel jauh lebih lama di permukaan tanah gambut, mencegah api menjalar kembali ke bawah permukaan.

Namun, Arif Satria menekankan bahwa kita tidak bisa sekadar menyebar tepung ini secara manual menggunakan tangan di tengah hutan yang terbakar. BRIN dan Polri saat ini sedang mengkaji aspek engineering-nya, mulai dari formulasi campuran zat yang presisi hingga teknologi mekanisasi penyemprotan yang efisien untuk area yang luas. Selain inovasi tepung singkong, BRIN juga tetap menyiapkan teknologi modifikasi cuaca (TMC) berbasis mikro-NaCl yang berkolaborasi dengan TNI AU dan BMKG sebagai opsi penanganan komprehensif.

Analisis Pakar

Sebagai tech-enthusiast, saya melihat langkah BRIN dan Polri ini sebagai bentuk frugal innovation yang sangat cerdas. Indonesia adalah salah satu produsen singkong terbesar di dunia. Memanfaatkan komoditas lokal yang melimpah dan murah untuk menyelesaikan masalah lingkungan tahunan seperti karhutla adalah langkah taktis yang patut diapresiasi. Dibandingkan kita terus-menerus mengimpor bahan kimia flame retardant sintetis yang mahal dan berpotensi merusak ekosistem tanah, penggunaan pati singkong jauh lebih ramah lingkungan (biodegradable) dan berkelanjutan.

Namun, dari kacamata teknologi dan rekayasa fluida, tantangan terbesar proyek ini ada pada viskositas (kekentalan) cairan. Campuran pati singkong yang mengental berisiko menyumbat nozzle atau sistem pompa pada helikopter water bombing atau mobil pemadam kebakaran konvensional. BRIN harus merancang sistem filtrasi dan mekanisasi penyemprotan khusus. Jika formulanya terlalu encer, daya rekatnya hilang; jika terlalu kental, ia akan menyumbat peralatan. Menemukan sweet spot atau rasio emas dalam campuran ini adalah tugas berat para insinyur kita.

Selain itu, aspek rantai pasok (supply chain) juga harus dipikirkan matang-matang. Jika teknologi ini nantinya diproduksi secara massal untuk kebutuhan nasional, kita harus memastikan pasokan singkong industri tidak mengganggu ketahanan pangan nasional. Solusinya, BRIN bisa mengarahkan riset ini untuk memanfaatkan limbah industri tapioka (onggok) yang masih memiliki kandungan pati, sehingga nilai ekonomisnya menjadi jauh lebih tinggi dan tidak mengorbankan singkong konsumsi.

Terakhir, integrasi teknologi modern seperti drone termal dan AI (Artificial Intelligence) akan menjadi game changer. Alih-alih menyemprotkan cairan singkong ini secara acak, penggunaan drone pemantau suhu dapat memetakan titik api terdalam di lahan gambut secara presisi (precision firefighting). Dengan begitu, penggunaan material berbasis singkong ini bisa sangat efisien, tepat sasaran, dan menghemat anggaran operasional penanggulangan bencana secara signifikan.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

Q: Bagaimana tepung singkong bisa memadamkan kebakaran hutan?
A: Tepung singkong (pati) dicampur dengan amonium polifosfat dan air. Air berfungsi menyerap panas api, sedangkan pati singkong berfungsi sebagai perekat alami agar cairan pemadam menempel lebih lama di tanah gambut dan efektif menghambat perambatan api.

Q: Apakah teknologi pemadam berbasis singkong ini sudah siap pakai?
A: Belum sepenuhnya. Secara teori dan uji coba skala kecil (oleh Polda Kalsel) teknologi ini berhasil, namun BRIN dan Polri saat ini masih melakukan kajian mendalam untuk pengujian skala besar, termasuk merancang alat penyemprotan khusus.

Q: Apakah penggunaan tepung singkong ini aman bagi lingkungan hutan?
A: Ya, sangat aman. Karena berbasis bahan organik (pati singkong), material ini bersifat biodegradable (mudah terurai) dan tidak meninggalkan residu kimia beracun yang dapat merusak ekosistem tanah atau mencemari air tanah di area karhutla.

BERITA TERKAIT (Teknologi)

Meow! Tanya Nesi!
๐Ÿ˜ธ