AS Tuduh China Lakukan Serangan Siber Besar-besaran pada NASA, The Fed, dan Infrastruktur Kritis

Dunia
Siti RahmawatiSiti Rahmawati
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

AS Tuduh China Lakukan Serangan Siber Besar-besaran pada NASA, The Fed, dan Infrastruktur Kritis
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Departemen Kehakiman AS dan FBI menyita tiga domain yang diduga dipakai kelompok peretas China bernama QTFY.
  • Target serangan meliputi NASA, Federal Reserve, lembaga pemerintah, serta infrastruktur penting seperti perusahaan listrik dan rumah sakit.
  • Tuduhan muncul menjelang kunjungan Presiden China Xi Jinping ke Washington, sementara Beijing membantah keterlibatan.

Washington pada Rabu (26/8) mengumumkan bahwa Departemen Kehakiman Amerika Serikat bersama Federal Bureau of Investigation (FBI) telah menyita tiga nama domain internet yang terkait dengan dua platform peretasan yang diduga dioperasikan oleh kelompok peretas yang dikenal sebagai QTFY. Menurut otoritas, kelompok tersebut menargetkan sejumlah lembaga strategis, termasuk NASA, The Fed, serta badan legislatif dan eksekutif federal.

Selain lembaga pemerintah, serangan siber yang diduga berasal dari jaringan ini juga menargetkan infrastruktur vital seperti perusahaan listrik, rumah sakit, operator telekomunikasi, institusi keuangan, dan kontraktor pertahanan. Pemerintah AS menuduh operasi peretasan tersebut disponsori oleh pemerintah China, dengan hasil intelijen yang diklaim akan diserahkan kepada Kementerian Keamanan Negara dan Tentara Pembebasan Rakyat (PLA). Hingga kini, tidak ada konfirmasi resmi mengenai data apa yang berhasil dicuri atau dipindahkan.

Tuduhan ini muncul pada saat yang sensitif, menjelang kunjungan Presiden China Xi Jinping ke Washington yang dijadwalkan pada 24 September. Pertemuan antara Xi dan Presiden AS Donald Trump diperkirakan akan membahas isu-isu perdagangan, keamanan siber, serta konflik geopolitik yang melibatkan kedua negara.

Kedutaan Besar China di Washington menanggapi tuduhan tersebut dengan menegaskan bahwa Beijing menentang semua bentuk serangan siber dan menolak tuduhan yang dianggap sebagai upaya mendiskreditkan China. “Berhenti menggunakan isu keamanan siber untuk mencemarkan nama baik atau mendiskreditkan China,” kata juru bicara kedutaan, sebagaimana dilaporkan oleh Russia Today.

Sebelumnya, Presiden Trump juga menuduh China terlibat dalam intervensi pemilihan umum AS 2020, mengklaim bahwa Beijing memperoleh data pribadi sekitar 220 juta pemilih secara ilegal. Klaim tersebut juga dibantah oleh pemerintah China sebagai sepenuhnya fiktif.

Analisis Pakar

Serangan siber yang dituduhkan kepada China mencerminkan dinamika persaingan teknologi dan intelijen yang semakin intens antara dua kekuatan global. Dari perspektif keamanan siber, tuduhan terhadap kelompok QTFY menyoroti kerentanan infrastruktur kritis yang selama ini menjadi sasaran utama aktor negara. NASA dan Federal Reserve, sebagai simbol kapabilitas ilmiah dan ekonomi Amerika, menjadi target yang logis bagi pihak yang ingin memperoleh keunggulan strategis atau mengganggu stabilitas domestik.

Namun, penting untuk menilai bukti secara objektif. Pemerintah AS belum mengungkapkan secara rinci data yang diklaim berhasil diakses, sehingga ruang bagi spekulasi politik tetap terbuka. Sejarah menunjukkan bahwa tuduhan siber sering kali dipolitisasi, terutama menjelang pertemuan tingkat tinggi. Oleh karena itu, analisis harus mempertimbangkan kemungkinan bahwa tuduhan ini juga berfungsi sebagai alat tawar dalam negosiasi bilateral, bukan semata-mata sebagai laporan intelijen murni.

Dari sudut pandang kebijakan luar negeri, respons China yang menolak keterlibatan dan menekankan komitmen melawan serangan siber mencerminkan upaya menjaga citra internasionalnya. Beijing telah berupaya menampilkan diri sebagai pemimpin dalam tata kelola siber global, meski praktiknya sering dipertanyakan oleh negara Barat. Dialog keamanan siber antara Washington dan Beijing menjadi semakin krusial, mengingat ketergantungan kedua negara pada jaringan digital yang saling terhubung.

Ke depan, langkah-langkah transparansi dan kerja sama multilateral—misalnya melalui forum seperti United Nations Group of Governmental Experts on Cybersecurity—dapat menjadi jalur untuk meredam ketegangan. Tanpa mekanisme verifikasi yang dapat dipercaya, tuduhan semacam ini berpotensi memperburuk persepsi saling curiga dan memicu perlombaan senjata siber yang lebih intens.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Apa bukti konkret yang mendukung tuduhan AS bahwa China terlibat dalam peretasan?
  • A: Hingga kini, pemerintah AS belum mempublikasikan detail teknis atau data yang dicuri; mereka hanya menyebutkan penyitaan domain dan dugaan sponsor negara.
  • Q: Siapa kelompok QTFY dan apa hubungannya dengan pemerintah China?
  • A: QTFY adalah nama yang diberikan oleh otoritas AS kepada sebuah grup peretas yang diduga beroperasi dari China; hubungan resmi dengan pemerintah China belum terbukti secara publik.
  • Q: Bagaimana kunjungan Xi Jinping ke Washington dapat memengaruhi isu keamanan siber?
  • A: Pertemuan tersebut dapat menjadi forum untuk negosiasi langsung tentang norma siber, namun juga berisiko meningkatkan ketegangan jika tuduhan tidak ditangani secara diplomatis.
Meow! Tanya Nesi!
😾