Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Netanyahu Gertak Trump: Iran Tak Akan Dapat Kesepakatan, Rezim Tehran Dihujat 'Biadab'

DuniaSiti RahmawatiSiti RahmawatiSumber: CNN Internasional
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Netanyahu Gertak Trump: Iran Tak Akan Dapat Kesepakatan, Rezim Tehran Dihujat 'Biadab'
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Benjamin Netanyahu menyatakan Amerika Serikat tidak akan mencapai kesepakatan dengan Iran, menyebut rezim Tehran "biadab".
  • Ia memuji tekanan ekonomi yang dijalankan Donald Trump terhadap Tehran, meski kedua pemimpin sempat membahas kemungkinan diplomasi.
  • Ketegangan antara Israel, AS, dan Iran terus memuncak, sementara upaya perundingan damai masih jauh dari kata realistis.

Dalam sebuah acara pada Selasa (25/8) malam, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan bahwa Iran tidak akan pernah menandatangani perjanjian damai dengan Amerika Serikat. Ia menuduh rezim Tehran sebagai "kelompok biadab" yang tidak layak menjadi mitra diplomatik.

Netanyahu mengungkapkan bahwa dalam pertemuan terbarunya dengan Donald Trump, kedua pemimpin sempat membahas kemungkinan jalur diplomasi untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung selama berbulan‑bulan. Namun, ia menegaskan keraguan kuatnya: "Saya ragu kesepakatan dapat dicapai dengan kelompok yang ada di sana, dengan orang‑orang biadab itu. Saya katakan kepada Anda, kesepakatan tidak dapat dicapai."

Acara tersebut berlangsung di sebuah permukiman Israel di Tepi Barat, wilayah yang secara internasional dianggap sebagai wilayah pendudukan. Pernyataan Netanyahu mencerminkan sikap konsisten ia terhadap program nuklir Iran sejak masa pemerintahan Barack Obama, ketika ia secara terbuka menentang perjanjian nuklir 2015.

Sementara itu, Trump masih berupaya menekan Tehran melalui sanksi ekonomi dan diplomasi, meski serangan gabungan AS‑Israel pada Februari lalu memperparah konflik. Tekanan domestik dan internasional yang meningkat membuat Washington mencari jalan keluar, namun kegagalan untuk mencapai target waktu enam‑delapan minggu yang diproyeksikan Trump menambah keraguan akan efektivitas strategi tersebut.

Israel, menurut pengamat, tampaknya tidak bersedia mengorbankan posisi keamanan nasionalnya demi proses perdamaian yang dipimpin AS. Langkah‑langkah provokatif yang dilakukan Israel sering kali mengganggu upaya mediasi, memperburuk hubungan antara Washington dan Tel Aviv.

Analisis Pakar

Penilaian Netanyahu mencerminkan dinamika geopolitik yang semakin kompleks di Timur Tengah. Dari perspektif realpolitik, Israel menilai ancaman nuklir Iran sebagai eksistensial, sehingga menolak kompromi yang dianggap dapat mengurangi kemampuan pertahanan Israel. Pernyataan “kelompok biadab” bukan sekadar retorika, melainkan upaya memperkuat narasi domestik yang menjustifikasi kebijakan keamanan keras.

Di sisi lain, kebijakan Trump yang mengandalkan tekanan ekonomi dan sanksi unilateral menunjukkan keterbatasan dalam mengelola konflik multinasional. Tanpa dukungan koalisi internasional yang solid, upaya Washington untuk memaksa Iran bernegosiasi berisiko menimbulkan efek balasan yang lebih luas, termasuk eskalasi militer yang dapat melibatkan negara‑negara sekutu lainnya.

Ketegangan yang terus berlanjut juga menyoroti peran Amerika Serikat sebagai mediator yang kehilangan kredibilitas. Ketika satu pihak (Israel) menolak kompromi dan pihak lain (Iran) tetap bersikap defensif, ruang manuver diplomatik menyusut. Hal ini memperparah risiko terjadinya konflik terbuka yang dapat mengganggu stabilitas energi global, mengingat pentingnya jalur transportasi minyak di Teluk Persia.

Ke depan, solusi yang realistis kemungkinan memerlukan pendekatan multilateral yang melibatkan Uni Eropa, Rusia, dan lembaga regional seperti Liga Arab. Tanpa adanya jaminan keamanan yang dapat diterima semua pihak, pernyataan keras seperti yang disampaikan Netanyahu hanya akan memperpanjang siklus ketegangan dan menambah beban ekonomi serta kemanusiaan bagi wilayah yang sudah terpuruk.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Mengapa Netanyahu menolak kemungkinan kesepakatan antara AS dan Iran?
    A: Netanyahu beranggapan bahwa rezim Tehran tidak dapat dipercaya dan bahwa kesepakatan akan mengancam keamanan Israel, khususnya terkait program nuklir Iran.
  • Q: Apa saja tekanan ekonomi yang diberlakukan AS terhadap Iran?
    A: Sanksi utama mencakup pembatasan akses ke sistem keuangan internasional, larangan ekspor teknologi energi, serta pembekuan aset Iran di luar negeri.
  • Q: Apakah ada peluang diplomasi yang realistis antara AS dan Iran ke depan?
    A: Peluang tersebut sangat terbatas kecuali ada perubahan signifikan dalam kebijakan Iran atau intervensi mediasi multilateral yang dapat menjamin keamanan semua pihak.
Meow! Tanya Nesi!
😸