Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Hornet Dihapus dari App Store & Play Store: Apa Artinya untuk Ekosistem Aplikasi di Indonesia?

TeknologiKelvin WijayaKelvin WijayaSumber: CNN Teknologi
Kelvin Wijaya
Kelvin Wijaya
Software Engineer

Membahas teknologi dari kacamata pengembang dan inovasi perangkat lunak.

Hornet Dihapus dari App Store & Play Store: Apa Artinya untuk Ekosistem Aplikasi di Indonesia?
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Direktur Jenderal Komdigi mengonfirmasi aplikasi Hornet sudah dihapus dari Apple App Store dan Google Play Store.
  • Versi “Hornet Live” masih muncul di kedua toko, sedang dalam proses peninjauan regulator.
  • Penyebabnya: dugaan kampanye LGBTIQ+ yang dianggap melanggar norma serta tidak terdaftar sebagai Penyelenggara Sistem Elektronik (PSE) di Indonesia.

Dalam pernyataan terbarunya kepada CNNIndonesia.com, Alexander Sabar, Direktur Jenderal Pengawasan Ruang Digital Komdigi, menegaskan bahwa aplikasi Hornet kini tidak lagi tersedia di Apple App Store maupun Google Play Store. “Saat ini aplikasi Hornet telah dihapus dari App Store dan Play Store,” ujarnya.

Namun, tim regulator menemukan aplikasi dengan nama mirip, Hornet Live, yang masih dapat diunduh. “Kami sedang menindaklanjuti aplikasi Hornet Live yang masih tersedia,” tambah Sabar, menandakan proses peninjauan sedang berjalan.

Sebelumnya, Komdigi menerima aduan publik terkait dugaan penggunaan platform tersebut untuk kampanye LGBTIQ+ yang dianggap tidak sesuai dengan nilai, norma, dan regulasi Indonesia. Aduan tersebut memicu permintaan resmi kepada Apple dan Google untuk menghapus aplikasi tersebut.

Selain konten, Komdigi juga menyoroti ketidakpatuhan Hornet dalam mendaftarkan diri sebagai Penyelenggara Sistem Elektronik (PSE) di Indonesia – sebuah persyaratan hukum bagi semua layanan digital yang beroperasi di tanah air.

Analisis Pakar

Penghapusan Hornet bukan sekadar aksi “soft censor”. Ini menandakan bahwa regulator Indonesia semakin menegakkan regulasi digital yang menuntut kepatuhan tidak hanya pada konten, tetapi juga pada struktur legal platform. Dari perspektif ekosistem aplikasi, langkah ini memberi sinyal kuat kepada developer asing bahwa proses pendaftaran PSE bukan opsional.

Jika developer mengabaikan kewajiban PSE, mereka berisiko kehilangan akses pasar terbesar di Asia Tenggara. Hal ini dapat memperlambat inovasi, namun sekaligus mendorong standar keamanan data dan perlindungan konsumen yang lebih tinggi. Bagi startup lokal, ini membuka peluang: mereka yang sudah terdaftar dapat menempati “slot” yang ditinggalkan oleh aplikasi asing yang tidak patuh.

Namun, ada tantangan. Penilaian “kampanye LGBTIQ+” masih bersifat subjektif dan dapat menimbulkan persepsi diskriminatif. Pemerintah harus memastikan mekanisme peninjauan transparan, menghindari overreach yang dapat mengekang kebebasan berekspresi digital. Keseimbangan antara nilai budaya dan kebebasan internet menjadi ujian berat bagi regulator.

Ke depan, saya memperkirakan akan muncul lebih banyak “rebranding” aplikasi – seperti Hornet Live – yang mencoba mengelak dari larangan dengan mengganti nama atau menyesuaikan konten. Pengawasan yang konsisten, serta dialog terbuka antara regulator, developer, dan komunitas pengguna, akan menjadi kunci untuk menjaga ekosistem yang inovatif sekaligus patuh.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Mengapa Hornet dihapus dari App Store dan Play Store?
    A: Karena ada dugaan kampanye LGBTIQ+ yang dianggap melanggar norma Indonesia serta tidak terdaftar sebagai PSE.
  • Q: Apakah Hornet Live masih dapat diunduh?
    A: Ya, versi “Hornet Live” masih tersedia sementara sedang dalam proses peninjauan oleh Komdigi.
  • Q: Apa konsekuensi bagi developer yang tidak mendaftar sebagai PSE?
    A: Mereka dapat dilarang masuk ke toko aplikasi resmi di Indonesia, sehingga kehilangan akses pasar dan potensi pendapatan.

BERITA TERKAIT (Teknologi)

Meow! Tanya Nesi!
😸