Bekasi Jadi Pelopor: Sampah Jadi Listrik, 55.000 Rumah Dapat Energi Hijau
Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

Ringkasan Singkat
- Proyek PSEL di Ciketing Udik akan mengolah 500.000 ton sampah per tahun, setara 70% timbulan kota.
- Investasi Rp 3 triliun diproyeksikan suplai listrik 27 MW untuk 55.000 rumah tangga dan mengurangi kebutuhan lahan TPA hingga 90%.
- Kerjasama antara BPI Danantara, PLN dan pemerintah melalui Perpres 109/2025 menjamin offtake listrik dengan harga US$0,20/kWh.
Bekasi, 26 Agustus 2026 – Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) resmi meresmikan fase konstruksi fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di kawasan Ciketing Udik, Bantar Gebang. Dengan kapasitas terpasang 36 MW (27 MW disalurkan ke jaringan), proyek senilai Rp 3 triliun ini menargetkan pengolahan 500.000 ton sampah per tahun – kira‑kira 70 % total timbulan sampah kota.
Menurut CIO Pandu Sjahrir, fasilitas ini tidak hanya akan menurunkan volume limbah yang masuk ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sumurbatu hingga 90 %, tetapi juga menciptakan sekitar 1.000 lapangan kerja “hijau”. Listrik yang dihasilkan akan dialokasikan secara eksklusif untuk kebutuhan rumah tangga Bekasi, dengan PLN menyiapkan gardu hub berjarak 5 km dari lokasi untuk menjamin keandalan pasokan.
Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo, menegaskan bahwa 27 MW listrik bersih akan langsung masuk ke jaringan distribusi kota, mengingat beban listrik Bekasi yang tinggi. Proses penandatanganan Power Purchase Agreement (PPA) selesai lebih cepat dari biasanya berkat koordinasi intensif sejak tahap perencanaan, memotong waktu administrasi yang biasanya memakan hingga 90 hari.
Proyek ini juga selaras dengan Perpres No. 109/2025, yang mendorong pengelolaan sampah perkotaan berbasis teknologi ramah lingkungan. Selain menghasilkan listrik, fasilitas PSEL Bekasi akan terintegrasi dengan teknologi pirolisis yang dikelola TNI Angkatan Darat, menghasilkan bahan bakar minyak dari residu sampah.
Proyek ini menjadi contoh nyata dalam upaya Danantara mengubah sampah menjadi listrik di Bekasi.
Analisis Pakar
Secara makroekonomi, PSEL Bekasi menandai langkah strategis dalam menginternalisasi biaya eksternal limbah ke dalam aliran pendapatan publik. Dengan nilai investasi Rp 3 triliun, proyek ini menawarkan tingkat pengembalian (IRR) yang kompetitif bagi investor institusional, terutama mengingat kontrak off‑take listrik yang sudah ditetapkan pada tarif US$0,20/kWh – harga yang masih di atas rata‑rata tarif listrik konvensional di Indonesia. Hal ini menciptakan margin keuntungan yang cukup lebar untuk menutupi biaya operasional dan pemeliharaan fasilitas yang relatif tinggi.
Dari perspektif rantai nilai, integrasi antara pengolahan sampah, produksi listrik, dan pirolisis membuka peluang diversifikasi produk energi terbarukan. Sektor energi hijau akan mendapatkan pasokan bahan bakar minyak alternatif, mengurangi ketergantungan pada impor. Lebih jauh, penciptaan 1.000 pekerjaan hijau tidak hanya meningkatkan penyerapan tenaga kerja lokal, tetapi juga menstimulasi ekosistem pendukung seperti layanan pemeliharaan, logistik, dan teknologi kontrol proses.
Namun, risiko operasional tetap signifikan. Keberhasilan konversi sampah menjadi listrik sangat dipengaruhi pada kualitas dan komposisi sampah yang masuk. Tanpa sistem pemilahan yang ketat, efisiensi pembangkit dapat turun drastis, menurunkan output energi dan meningkatkan biaya per kWh. Oleh karena itu, kebijakan pengelolaan sampah di tingkat rumah tangga dan industri harus diperkokoh melalui edukasi publik dan insentif fiskal.
Terakhir, keberlanjutan proyek sangat bergantung pada kepastian regulasi. Meskipun Perpres 109/2025 memberikan landasan hukum, implementasi kebijakan tarif listrik dan subsidi energi hijau harus konsisten. Jika pemerintah dapat menjaga stabilitas kebijakan, model PSEL Bekasi berpotensi menjadi blueprint bagi kota‑kota lain di Indonesia, mempercepat transisi menuju ekonomi sirkular.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
- Q: Berapa banyak listrik yang akan dihasilkan oleh PSEL Bekasi?
A: Fasilitas berkapasitas terpasang 36 MW, dengan 27 MW dialokasikan ke jaringan PLN untuk melayani sekitar 55.000 rumah tangga. - Q: Apa manfaat utama proyek ini bagi lingkungan?
A: Mengolah 70 % sampah kota, mengurangi kebutuhan lahan TPA hingga 90 % dan menurunkan emisi CO₂ sekitar 640.000 ton setara per tahun. - Q: Bagaimana model bisnis PSEL menghasilkan profit?
A: Pendapatan utama berasal dari penjualan listrik ke PLN dengan tarif US$0,20/kWh, didukung oleh potensi penjualan produk pirolisis serta insentif pemerintah untuk energi terbarukan.


