Bekasi Luncurkan PSEL: Sampah Jadi Listrik 36 MW, Harga $0,20/kWh – Apa Artinya bagi Investor?
Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

Ringkasan Singkat
- Fasilitas Pengolahan Sampah Jadi Energi Listrik (PSEL) di Ciketing Udik, Bekasi, akan mengolah 500.000 ton sampah per tahun menjadi listrik 36 MW.
- Harga jual listrik ditetapkan US$0,20 per kWh melalui Power Purchase Agreement (PPA) dengan PLN, cukup kompetitif bila lahan tersedia.
- Proyek senilai Rp 3 triliun diproyeksikan menciptakan 1.000 lapangan kerja, mengurangi emisi CO₂ sebesar 640.000 ton, dan menyalurkan 27 MW ke jaringan kota pada pertengahan 2028.
Bekasi, 26 Agustus 2026 – BPI Danantara meresmikan pembangunan fasilitas Pengolahan Sampah Jadi Energi Listrik (PSEL) di kawasan Ciketing Udik, Bantar Gebang. Dengan investasi Rp 3 triliun, fasilitas ini dirancang untuk memproses 70 % timbulan sampah wilayah tersebut—sekitar 500.000 ton per tahun—dan menghasilkan listrik sebesar 36 MW.
Dalam rangkaian peresmian, PT PLN (Persero) menandatangani Perjanjian Jual Beli Tenaga Listrik (PPA). Kesepakatan ini menjamin offtake listrik dengan harga US$0,20/kWh (sekitar 20 sen dolar) untuk seluruh kapasitas terpasang. Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo, menjelaskan bahwa tarif ini merupakan hasil benchmarking global dan sangat dipengaruhi oleh biaya lahan perkotaan. “Jika lahan tersedia murah, harga bisa turun; bila lahan mahal, tarif bisa naik menjadi US$0,23‑0,24/kWh,” ujarnya.
PLN akan menyalurkan 27 MW (sekitar 75 % dari total kapasitas) langsung ke jaringan distribusi kota Bekasi melalui gardu hub yang dibangun hanya 5 km dari lokasi proyek. Sisa 9 MW akan tersedia untuk pasar energi nasional atau sebagai cadangan operasional.
Proyek ini tidak hanya berfokus pada pembangkit listrik. Dengan integrasi teknologi pirolisis yang dikelola oleh TNI Angkatan Darat, limbah yang tidak dapat di‑gasifikasi akan diubah menjadi bahan bakar minyak, menurunkan ketergantungan pada Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sumurbatu hingga 90 %.
Secara sosial‑ekonomi, PSEL Bekasi diproyeksikan menyerap sekitar 1.000 tenaga kerja selama fase konstruksi dan operasional, serta mengurangi emisi karbon sebesar 640.000 ton CO₂ per tahun—setara dengan menanam lebih dari 30 juta pohon.
Analisis Pakar
Secara makro, proyek PSEL Bekasi menandai langkah penting dalam diversifikasi sumber energi terbarukan Indonesia. Dengan tarif US$0,20/kWh, listrik yang dihasilkan berada pada level kompetitif dibandingkan pembangkit gas atau batu bara yang masih mendominasi pasar domestik (biasanya US$0,07‑0,09/kWh). Namun, profitabilitas proyek sangat sensitif terhadap biaya lahan dan operasional. Jika biaya lahan kota naik di atas US$200 per meter persegi, margin EBITDA dapat tertekan secara signifikan, memaksa renegosiasi tarif atau pencarian subsidi tambahan.
Selain itu, keberhasilan PPA dengan PLN memberikan jaminan offtake yang krusial bagi investor institusional. Namun, risiko regulasi tetap ada, mengingat kebijakan tarif listrik dan insentif energi terbarukan dapat berubah seiring pergantian pemerintah. Investor harus menilai skenario kebijakan yang paling konservatif—misalnya, penurunan tarif feed‑in atau penambahan pajak karbon—sebagai bagian dari analisis sensitivitas.
Dari perspektif pasar sampah, PSEL Bekasi membuka peluang bisnis baru bagi perusahaan pengelola limbah. Dengan target mengolah 70 % sampah kota, kontrak jangka panjang dengan TPA Sumurbatu dapat menjadi sumber pendapatan stabil. Hal ini juga mendorong inovasi dalam pemilahan sampah di sumber, karena kualitas feed‑stock sangat menentukan efisiensi konversi energi.
Terakhir, sinergi antara pembangkit listrik berbasis waste‑to‑energy dan teknologi pirolisis menambah nilai tambah pada rantai nilai energi terbarukan. Jika model ini berhasil, dapat direplikasi di kota‑kota besar lain seperti Surabaya atau Bandung, mempercepat pencapaian target 23 GW energi terbarukan Indonesia pada 2030.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
- Q: Berapa lama waktu yang dibutuhkan PSEL Bekasi untuk mulai beroperasi?
A: Fasilitas diperkirakan mulai menghasilkan listrik pada pertengahan 2028 setelah fase konstruksi selesai. - Q: Apa yang memengaruhi tarif US$0,20/kWh yang ditetapkan?
A: Tarif didasarkan pada benchmarking global, biaya lahan perkotaan, dan kebutuhan untuk menjamin profitabilitas proyek dalam jangka panjang. - Q: Bagaimana proyek ini berdampak pada pengelolaan sampah di Bekasi?
A: PSEL akan mengolah 70 % timbulan sampah kota, mengurangi penggunaan TPA hingga 90 % dan menciptakan sekitar 1.000 lapangan kerja.


