Sinyal Bahaya Alutsista: Dua Pesawat TNI Tergelincir di Bandara Hasanuddin dalam Dua Hari, Ada Apa?
Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Ringkasan Singkat
- Dua pesawat militer milik TNI (Sukhoi Su-30 MK2 dan Cassa) tergelincir di Bandara Sultan Hasanuddin Makassar dalam waktu kurang dari 48 jam.
- Insiden pertama melibatkan jet tempur TNI AU akibat kegagalan sistem pengereman, disusul insiden kedua melibatkan pesawat angkut ringan TNI AL yang hingga kini masih minim penjelasan resmi.
- Meskipun otoritas bandara memastikan penerbangan sipil tetap berjalan normal, beruntunnya kecelakaan ini memicu kritik tajam terkait manajemen pemeliharaan alutsista nasional.
MAKASSAR — Sektor penerbangan militer Indonesia kembali berada di bawah sorotan tajam. Dalam kurun waktu dua hari berturut-turut, dua pesawat milik Tentara Nasional Indonesia (TNI) dilaporkan tergelincir di landasan pacu Bandara Sultan Hasanuddin, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Rentetan insiden ini memicu pertanyaan besar publik mengenai keandalan sistem pemeliharaan dan kelaikan armada udara militer kita.
Insiden terbaru terjadi pada Selasa (25/8) siang sekitar pukul 11.25 WITA. Sebuah pesawat Cassa yang diduga kuat milik TNI Angkatan Laut (AL) tergelincir di landasan pacu utara-selatan (runway 03-21). Foto dan video amatir yang merekam posisi pesawat di luar jalur landasan langsung viral di media sosial, memicu keprihatinan publik.
Branch Communication & CSR Department Head Bandara Sultan Hasanuddin, Taufan Yudhistira, membenarkan kejadian tersebut. "Kecelakaan terjadi di runway 03-21. Personel bandara segera menuju lokasi untuk melakukan penanganan," ujar Taufan. Guna menjaga kelancaran lalu lintas udara sipil, otoritas bandara langsung mengalihkan operasional penerbangan ke landasan pacu timur-barat (runway 13-31). Namun, hingga berita ini diturunkan, pihak Komando Daerah TNI Angkatan Laut (Kodaeral) IV Makassar masih memilih bungkam dan belum memberikan pernyataan resmi terkait penyebab kecelakaan.
Ironisnya, kecelakaan ini terjadi hanya berselang sehari setelah jet tempur Sukhoi Su-30 MK2 milik TNI Angkatan Udara (AU) mengalami nasib serupa di lokasi yang sama pada Senin (24/8). Jet tempur buatan Rusia tersebut tergelincir hingga keluar jalur sejauh 30 meter dari ujung landasan pacu barat (runway 13) saat menjalani uji terbang (test flight).
Kepala Dinas Penerangan TNI AU (Kadispenau), Marsma TNI I Nyoman Suadnyana, menjelaskan bahwa jet tempur tersebut sebenarnya baru saja menyelesaikan pemeliharaan tingkat berat atau overhaul. "Saat melaksanakan pengereman, terjadi kendala teknis pada sistem pengereman yang tidak berfungsi secara maksimal," ungkap Nyoman. Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam kedua insiden beruntun tersebut, dan seluruh awak pesawat dilaporkan selamat.
Analisis Pakar
Sebagai jurnalis yang telah mengawal isu pertahanan selama puluhan tahun, saya melihat rentetan insiden di Bandara Sultan Hasanuddin ini bukan sekadar kebetulan belaka. Dua pesawat militer dari matra yang berbeda tergelincir di bandara yang sama dalam waktu 24 jam adalah alarm keras (red flag) bagi audit keselamatan penerbangan militer kita. Ini adalah persoalan sistemik yang tidak boleh disederhanakan dengan dalih 'gangguan teknis biasa'.
Pertama, mari kita soroti insiden Sukhoi Su-30 MK2. Jet tempur canggih ini justru mengalami kegagalan sistem pengereman sesaat setelah menjalani pemeliharaan tingkat berat (overhaul). Ini sangat ironis dan mengkhawatirkan. Proses overhaul seharusnya menjamin pesawat kembali ke kondisi prima, bukan malah menyisakan malfungsi fatal pada sistem krusial seperti rem. Publik berhak bertanya: bagaimana proses quality control pasca-pemeliharaan dilakukan? Apakah ada kelalaian prosedur, ataukah kita sedang menghadapi masalah keterbatasan suku cadang akibat kendala anggaran?
Kedua, sikap bungkam dari pihak TNI AL terkait tergelincirnya pesawat Cassa pada hari Selasa menunjukkan masih rendahnya transparansi publik di tubuh militer kita. Di era digital di mana informasi menyebar dalam hitungan detik, menutup diri justru akan memicu spekulasi liar yang merugikan citra institusi TNI sendiri. Akuntabilitas mutlak diperlukan, karena alutsista dibeli dan dirawat menggunakan uang rakyat. Penjelasan yang jujur dan cepat adalah bentuk tanggung jawab moral kepada publik.
Panglima TNI dan Menteri Pertahanan harus segera turun tangan untuk memerintahkan investigasi menyeluruh dan independen, bukan sekadar investigasi internal yang berpotensi bias. Kita tidak boleh menunggu adanya korban jiwa dari para prajurit terbaik kita hanya untuk menyadari bahwa ada yang salah dengan manajemen perawatan alutsista kita. Keamanan nasional tidak boleh dipertaruhkan oleh kelalaian pemeliharaan.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
Q: Apa penyebab pesawat Cassa TNI AL tergelincir di Bandara Hasanuddin?
A: Hingga saat ini, pihak TNI AL belum memberikan keterangan resmi mengenai penyebab teknis tergelincirnya pesawat Cassa tersebut. Penyelidikan di lapangan masih terus berjalan.
Q: Mengapa jet tempur Sukhoi Su-30 MK2 bisa tergelincir sehari sebelumnya?
A: Menurut keterangan TNI AU, jet tempur tersebut mengalami kegagalan fungsi sistem pengereman yang tidak maksimal saat melakukan simulasi lepas landas pasca-pemeliharaan berat (overhaul).
Q: Apakah dua insiden ini mengganggu jadwal penerbangan sipil di Bandara Hasanuddin?
A: Otoritas bandara memastikan operasional penerbangan sipil tetap berjalan normal tanpa gangguan berarti, karena sistem manajemen bandara langsung mengalihkan penerbangan ke landasan pacu (runway) alternatif yang aman.


