Demi Pemilu? Netanyahu Pajang 4 'Musuh Utama' Israel di Baliho Raksasa, Picu Ketegangan Baru dengan Turki

Dunia
Budi SantosoBudi Santoso
Budi Santoso
Budi Santoso
Editor

Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Demi Pemilu? Netanyahu Pajang 4 'Musuh Utama' Israel di Baliho Raksasa, Picu Ketegangan Baru dengan Turki
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memasang baliho kampanye raksasa di Tel Aviv yang menampilkan empat sosok yang dianggap musuh negara, termasuk Presiden Turki Erdogan dan politisi AS Zohran Mamdani.
  • Langkah ini bertepatan dengan eskalasi militer terbaru di mana Israel menggempur pangkalan udara di Suriah dekat perbatasan Turki, memicu ketegangan diplomatik baru antara Ankara dan Tel Aviv.
  • Para analis menilai manuver agresif Netanyahu ini merupakan strategi politik ganda untuk mengamankan posisi pemilu Oktober di tengah merosotnya popularitas domestik.

Dalam lanskap politik Timur Tengah yang dinamis, batas antara pertahanan keamanan nasional dan strategi kampanye pemilu sering kali kabur. Langkah terbaru Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menjadi bukti nyata dari fenomena ini. Menjelang pemilu legislatif dan internal partai Likud yang dijadwalkan pada Oktober mendatang, sebuah baliho raksasa terpasang di jalan raya utama Tel Aviv, memicu perdebatan hangat baik di tingkat domestik maupun internasional.

Baliho tersebut menampilkan wajah empat tokoh yang diidentifikasi sebagai musuh utama Israel: Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, Pemimpin Iran Mojtaba Khamenei, pemimpin faksi militer Hizbullah, dan secara mengejutkan, Zohran Mamdani, seorang politisi progresif dan anggota parlemen bagian New York yang dikenal vokal mengkritik kebijakan Israel. Melalui unggahan di platform X, Netanyahu menegaskan pesan kampanyenya: "Jangan biarkan mereka menang."

Pemasangan baliho ini bukan sekadar retorika visual. Ketegangan geopolitik nyata terjadi di lapangan ketika Pasukan Pertahanan Israel (IDF) melancarkan serangan udara ke pangkalan Abu Al Duhur di dekat Aleppo, Suriah—hanya berjarak 70 kilometer dari perbatasan Turki. Tel Aviv berdalih bahwa tindakan preventif ini diambil berdasarkan laporan intelijen yang mengindikasikan rencana Turki untuk menempatkan personel militer, drone, dan sistem pertahanan udara di lokasi tersebut, yang dinilai dapat mengancam kebebasan operasi udara Israel di Suriah.

Ankara merespons keras tindakan tersebut dengan menuduh Netanyahu sengaja memicu ketidakstabilan regional demi kepentingan elektoralnya. Di sisi lain, hubungan bilateral kedua negara memang berada di titik nadir setelah Erdogan berulang kali mengecam operasi militer Israel di Gaza dan memutuskan hubungan dagang secara total dengan Tel Aviv.

Analisis Pakar

Dari perspektif hubungan internasional, manuver Netanyahu memajang wajah para pemimpin asing dalam baliho kampanye domestik adalah contoh klasik dari teori securitization (sekuritisasi). Dalam teori ini, seorang pemimpin politik sengaja mengangkat isu-isu politik biasa atau perselisihan diplomatik menjadi ancaman eksistensial yang darurat. Dengan menciptakan narasi bahwa Israel sedang dikepung oleh musuh-musuh tangguh dari berbagai arah—mulai dari kekuatan regional seperti Turki dan Iran, aktor non-negara seperti Hizbullah, hingga kritikus internal di sekutu terdekatnya, Amerika Serikat—Netanyahu berusaha memposisikan dirinya sebagai satu-satunya figur "penyelamat" yang mampu menjaga kedaulatan negara.

Langkah ini diambil bukan tanpa alasan. Berbagai jajak pendapat di Israel menunjukkan bahwa popularitas Netanyahu dan koalisi sayap kanannya merosot tajam akibat ketidakpuasan publik terhadap penanganan konflik Timur Tengah yang berlarut-larut dan masalah ekonomi domestik. Ketika ruang gerak militer Israel di Gaza dan Lebanon mulai dibatasi oleh tekanan diplomatik global, termasuk dari Amerika Serikat, Suriah dan gesekan dengan Turki menjadi panggung baru yang relatif "aman" bagi Netanyahu untuk memproyeksikan kekuatan militer tanpa memicu perang skala penuh yang tidak diinginkan oleh sekutu baratnya.

Keputusan untuk memasukkan Zohran Mamdani, seorang politisi lokal New York, ke dalam daftar "musuh utama" bersama para pemimpin militer dan kepala negara juga sangat kalkulatif. Ini adalah pesan kepada pemilih sayap kanan Israel bahwa ancaman terhadap eksistensi negara tidak hanya datang dari moncong senjata di perbatasan, melainkan juga dari koridor-koridor politik di Barat yang mencoba mendelegitimasi Israel. Dengan menyamakan kritik politik dari AS dengan ancaman militer dari Iran atau Hizbullah, Netanyahu mencoba menyatukan opini publik domestik di bawah bendera nasionalisme defensif.

Namun, strategi politik jangka pendek ini membawa risiko geopolitik jangka panjang yang sangat besar. Menjadikan Turki—yang merupakan anggota penting NATO dengan kekuatan militer terbesar kedua di aliansi tersebut—sebagai target provokasi langsung dapat merusak arsitektur keamanan regional secara permanen. Alih-alih meredakan ketegangan, retorika agresif yang digunakan demi memenangkan pemilu Israel berpotensi mendorong Turki untuk mempererat kerja sama militer dengan poros Damaskus-Teheran, sebuah skenario yang justru akan menjadi mimpi buruk keamanan yang nyata bagi Israel di masa depan.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

Q: Siapa saja empat tokoh yang dipajang dalam baliho musuh Israel oleh Netanyahu?
A: Empat tokoh tersebut adalah Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, Pemimpin Iran Mojtaba Khamenei, pemimpin kelompok militer Hizbullah, dan politisi progresif asal New York, Zohran Mamdani.

Q: Mengapa Israel menyerang pangkalan udara di Suriah dekat perbatasan Turki?
A: Israel mengklaim serangan tersebut didasarkan pada informasi intelijen bahwa Turki bersiap menempatkan pasukan, drone, dan sistem pertahanan udara di sana, yang dianggap dapat membatasi ruang gerak militer Israel di Suriah.

Q: Apakah pemasangan baliho ini murni karena alasan keamanan nasional?
A: Banyak analis menilai langkah ini sarat muatan politik domestik untuk mendongkrak popularitas Netanyahu yang merosot menjelang pemilu Israel pada Oktober mendatang, dengan memanfaatkan narasi ancaman keamanan luar negeri.

Meow! Tanya Nesi!
😸