Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Safari Karhutla Prabowo: Ancam Cabut Izin Korporasi Nakal, Berani Seret Oligarki?

HukumSiti RahmawatiSiti RahmawatiSumber: CNN Nasional
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Safari Karhutla Prabowo: Ancam Cabut Izin Korporasi Nakal, Berani Seret Oligarki?
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Presiden Prabowo Subianto melakukan safari penanganan karhutla secara maraton dari Riau langsung menuju Palembang, Sumatra Selatan.
  • Prabowo menginstruksikan Kapolri dan aparat penegak hukum untuk menindak tegas serta mencabut izin korporasi yang terbukti terlibat pembakaran lahan.
  • Rapat koordinasi tingkat tinggi ini dihadiri oleh jajaran menteri kabinet serta petinggi TNI dan Polri guna memastikan penanganan lintas sektoral.

Presiden Prabowo Subianto menunjukkan urgensi tinggi dalam penanganan bencana tahunan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatra. Usai memimpin rapat darurat di Pos Aju, Riau, Kepala Negara langsung terbang ke Palembang, Sumatra Selatan, pada Senin (24/8) untuk menggelar rapat koordinasi serupa. Langkah maraton ini menegaskan bahwa isu lingkungan hidup kini menjadi sorotan utama di meja kerja Istana.

Di Palembang, rapat yang dipimpin langsung oleh Prabowo diawali dengan paparan komprehensif dari Kepala Pelaksana BPBD Sumatra Selatan, M Iqbal Alisyahbana. Kehadiran sejumlah pejabat teras, mulai dari Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, hingga KSAD Jenderal Maruli Simanjuntak, menandakan bahwa penanganan karhutla kali ini melibatkan operasi lintas sektoral berskala besar.

Namun, sorotan utama tertuju pada instruksi keras yang dilayangkan Prabowo saat berada di Pekanbaru sebelumnya. Dengan nada bicara yang tegas, ia memerintahkan aparat penegak hukum untuk tidak ragu-ragu menyasar aktor intelektual di balik layar, khususnya dari sektor swasta. "Kalau ada indikasi segera laporan kita segera cabut siapa pun korporasi apa pun ada sedikit indikasi mereka ikut menyuruh membakar-bakar kita cabut izinnya. Seluruh izin korporasi itu kita cabut," tegas Prabowo. Ia juga menekankan bahwa institusi Kepolisian RI memegang peranan krusial dalam memastikan hukum tegak tanpa pandang bulu.

Analisis Pakar

Sebagai jurnalis yang telah mengawal isu lingkungan dan kejahatan korporasi selama puluhan tahun, saya melihat ketegasan lisan Presiden Prabowo Subianto sebagai angin segar sekaligus ujian konsistensi yang sangat berat. Pernyataan "cabut izin korporasi" bukanlah narasi baru dalam diskursus politik Indonesia; hampir setiap rezim meneriakkan hal yang sama saat asap mulai mengepung Sumatra dan Kalimantan. Namun, tantangan sesungguhnya selalu terletak pada rantai birokrasi dan penegakan hukum di lapangan yang kerap kali "masuk angin" ketika berhadapan dengan kekuatan finansial oligarki sawit dan HTI (Hutan Tanaman Industri).

Secara hukum, mencabut izin usaha korporasi raksasa tidak semudah membalikkan telapak tangan. Korporasi sering kali menggunakan tameng hukum yang canggih, menyalahkan masyarakat lokal melalui skema pembakaran tradisional, atau mengklaim lahan mereka diserobot pihak ketiga saat kebakaran terjadi. Di sinilah profesionalisme dan integritas penyidik Kepolisian RI diuji. Jika polisi hanya mampu menangkap pelaku lapangan—para buruh tani yang dibayar murah untuk membersihkan lahan—sementara jajaran direksi dan pemilik manfaat (beneficial ownership) korporasi tetap melenggang bebas, maka instruksi keras Presiden ini hanya akan berakhir sebagai retorika politik pemanis media.

Kehadiran Panglima TNI dan Kapolri dalam safari karhutla ini menunjukkan adanya upaya mobilisasi kekuatan penuh. Namun, kita harus kritis melihat apakah pendekatan keamanan ini efektif menyelesaikan akar masalah karhutla yang bersifat struktural dan ekonomi. Karhutla adalah kejahatan ekonomi yang didorong oleh motif menekan biaya pembukaan lahan (land clearing). Selama biaya membuka lahan secara legal dan ramah lingkungan jauh lebih mahal daripada denda hukum yang dijatuhkan pengadilan, maka insentif untuk membakar hutan akan tetap ada. Pemerintah harus mereformasi sistem insentif dan disinsentif ekonomi ini secara radikal.

Pada akhirnya, publik akan menilai pemerintahan Prabowo bukan dari seberapa cepat ia terbang dari Riau ke Palembang, melainkan dari berapa banyak izin korporasi hitam yang benar-benar dicabut dalam beberapa bulan ke depan. Ini adalah momentum bagi Prabowo untuk membuktikan bahwa ia tidak disetir oleh kepentingan kartel bisnis yang menyokong stabilitas politiknya. Jika ia berani mengeksekusi ancamannya, ini akan menjadi preseden sejarah baru. Namun jika tidak, kabut asap akan terus kembali setiap tahun, membawa serta kegagalan negara dalam melindungi hak hidup sehat rakyatnya.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

Q: Apa instruksi tegas Presiden Prabowo terkait penanganan karhutla?
A: Presiden Prabowo menginstruksikan aparat penegak hukum untuk menindak tegas dan mencabut izin usaha korporasi mana pun yang terbukti terlibat atau menyuruh melakukan pembakaran hutan dan lahan tanpa pandang bulu.

Q: Siapa saja pejabat tinggi yang mendampingi Presiden Prabowo dalam rapat karhutla di Palembang?
A: Rapat tersebut dihadiri oleh Seskab Teddy Indra Wijaya, Mensesneg Prasetyo Hadi, Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, dan KSAD Jenderal Maruli Simanjuntak.

Q: Mengapa penegakan hukum terhadap korporasi pembakar hutan sering kali dinilai sulit?
A: Penegakan hukum sering terkendala pembuktian hukum yang rumit, taktik korporasi yang menyalakan pihak ketiga atau masyarakat lokal, serta lemahnya pengawasan dan integritas oknum aparat di lapangan.

Meow! Tanya Nesi!
😸