Robot Humanoid Beijing Tampil 'Siuuu' ala Ronaldo, Lompatan 2,88m & Lari 9,39s Bikin Usain Bolt Kaget!
Membahas teknologi dari kacamata pengembang dan inovasi perangkat lunak.

Ringkasan Singkat
- World Humanoid Robot Games 2024 di Beijing menampilkan lebih dari 1.000 robot humanoid, termasuk aksi ‘Siuuu’ ala Cristiano Ronaldo.
- Robot Booster T2 berbaris membentuk kata ‘BEIJING’, sementara robot Tiangong menampilkan lompatan 2,88 m—lebih tinggi dari rekor manusia.
- Kecepatan lari 100 m tercatat 9,39 detik, menyaingi rekor Usain Bolt, dan robot-robot lain berkolaborasi dengan musisi serta atlet dunia.
Sabtu malam (22/8), Beijing menjadi panggung futuristik saat World Humanoid Robot Games (WHRG) membuka edisi keduanya. Lebih dari 666 tim dari 16 negara menurunkan total 2.056 robot dalam 51 kompetisi, menandai transisi penting dari laboratorium ke aplikasi dunia nyata.
Acara pembukaan yang bertema “Intelligence Competing Toward the Future” menampilkan parade robot humanoid yang bergerak sinkron. Sekitar 80 unit Booster T2 melangkah serempak, menghitung rute masing‑masing, menyesuaikan postur secara dinamis, lalu bertransformasi menjadi tulisan “BEIJING”. Di samping itu, 50 robot Tiangong Embodied Intelligence 3.0 dari Beijing Humanoid Robot Innovation Center menavigasi lintasan melengkung secara otonom sambil melakukan gerakan gimnastik “Thomas flare”.
Highlight lain datang dari arena sepak bola mini: sebuah robot humanoid mengeksekusi gol, lalu menirukan selebrasi khas Ronaldo dengan teriakan “Siuuu!” yang langsung viral di akun X resmi WHRG. Video tersebut menegaskan betapa robot kini tidak hanya meniru gerakan fisik, tetapi juga menyalin ekspresi budaya pop.
Prestasi fisik juga memukau. Salah satu robot China melompat setinggi 2,88 m dari posisi berdiri—melampaui rekor lompatan manusia (2,45 m). Di lintasan 100 m, robot lain mencatat waktu 9,39 detik, mengungguli rekor dunia Usain Bolt (9,58 detik). Sementara 36 robot humanoid berkolaborasi dengan musisi manusia, memainkan piano, marimba, dan instrumen tiup elektronik dengan jari‑lima yang terprogram presisi tinggi.
Interaksi manusia‑robot menjadi sorotan tambahan: robot bertukar pukulan dengan petenis Zheng Jie, bermain tenis meja melawan juara Olimpiade Ding Ning, dan beradu penalti bersama mantan striker China Yang Chen. Semua aksi menegaskan kesiapan robot untuk beroperasi di lingkungan rumah, ritel, dan layanan makanan, sebagaimana ditunjukkan oleh 25 unit Galbot G1 dari Galaxy General.
Analisis Pakar
Melihat keseluruhan panggung WHRG, jelas bahwa kita sedang berada di ambang revolusi robotik yang tidak hanya mengandalkan kecerdasan buatan, tetapi juga integrasi gerakan kinetik tingkat tinggi. Robot humanoid kini mampu menyeimbangkan kecepatan, kelincahan, dan koordinasi yang sebelumnya hanya dimiliki makhluk hidup. Ini menandakan bahwa algoritma kontrol dinamis dan sensorik telah mencapai titik di mana latensi gerakan dapat diminimalkan hingga milidetik, memungkinkan respons real‑time yang setara dengan atlet profesional.
Namun, pencapaian seperti lompatan 2,88 m atau sprint 9,39 detik bukan sekadar angka—mereka menantang paradigma keamanan dan etika. Ketika robot dapat melampaui kemampuan manusia dalam bidang fisik, pertanyaan tentang regulasi, standar keselamatan, dan dampak pada pekerjaan tradisional menjadi semakin mendesak. Industri harus mengembangkan kerangka kerja yang mengatur penggunaan robot di ruang publik, terutama dalam konteks interaksi langsung dengan manusia.
Dari sisi aplikasi komersial, demonstrasi Galbot G1 menunjukkan bahwa robot otonom tidak lagi terbatas pada lini produksi. Kemampuan mereka untuk beroperasi di rumah, restoran, atau toko membuka peluang bisnis baru, seperti layanan pengantaran makanan tanpa kontak atau asisten pribadi yang dapat menyesuaikan diri dengan kebiasaan pengguna. Namun, adopsi massal masih terhambat oleh biaya produksi dan kebutuhan akan infrastruktur jaringan 5G/6G yang stabil.
Terakhir, aspek budaya—seperti selebrasi “Siuuu”—menunjukkan bahwa robot kini diprogram untuk memahami konteks sosial dan emosional. Ini penting untuk meningkatkan penerimaan publik. Jika robot dapat meniru bahasa tubuh dan ekspresi yang familiar, mereka akan lebih mudah diintegrasikan ke dalam kehidupan sehari‑hari, mengurangi rasa “alien” yang selama ini menjadi penghalang utama.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
- Q: Berapa lama robot humanoid dapat bertahan mengoperasikan aksi fisik intensif seperti lari 100 m?
- A: Dengan baterai berkapasitas tinggi dan pendinginan aktif, robot modern dapat menjalankan sprint singkat hingga beberapa menit sebelum memerlukan pengisian ulang atau pendinginan.
- Q: Apakah robot yang meniru selebrasi Ronaldo dapat diprogram untuk meniru gerakan budaya lain?
- A: Ya, melalui modul pembelajaran gerakan berbasis data video, robot dapat dilatih meniru tarian, gestur, atau ekspresi budaya apa pun yang di‑inputkan.
- Q: Apa tantangan utama dalam mengintegrasikan robot humanoid ke lingkungan rumah tangga?
- A: Tantangan utama meliputi keamanan fisik, interoperabilitas dengan perangkat IoT, serta biaya produksi yang masih relatif tinggi.
BERITA TERKAIT (Teknologi)

Riset NOAA Ungkap: Awan Tropis Mempercepat Pemanasan Global 71% Lebih Cepat dari Prediksi

Saham Intel Anjlok 29%, Investasi Pemerintah AS Rugi Rp 218 Triliun
China Catat Momen Historis: Volume Inferensi AI Melampaui Data Pelatihan
