Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Presiden Minta Uji Coba Tepung Ubi: Solusi Anti‑Karhutla atau Peluang Bisnis Besar?

Ekonomi & PasarDian KusumaDian KusumaSumber: CNBC Indonesia
Dian Kusuma
Dian Kusuma
Pakar Keuangan

Edukator keuangan milenial dengan pendekatan yang mudah dipahami.

Presiden Minta Uji Coba Tepung Ubi: Solusi Anti‑Karhutla atau Peluang Bisnis Besar?
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Presiden Prabowo perintahkan uji coba tepung berbahan dasar ubi untuk memadamkan kebakaran hutan.
  • Ide tersebut diusulkan Kapolri Listyo Sigit dan didukung temuan Babinsa di Lubuk Linggau.
  • BRIN dan BNPB diminta meneliti serta menskalakan produksi, termasuk kemungkinan penyemprotan lewat helikopter.

Dalam rapat koordinasi Palembang pada Senin (24/8/2025), Presiden Prabowo Subianto menegaskan perlunya uji coba produksi tepung ubi (atau singkong) sebagai agen pemadam karhutla. Kapolri Jenderal Listyo Sigit menjelaskan bahwa zat berbasis tepung dapat memutus rantai kimia pembakaran, sehingga api dapat dipadamkan lebih cepat dibandingkan air konvensional.

Menurut Mayjen TNI Ujang Darwis, inovasi ini berasal dari temuan anggota Babinsa di Lubuk Linggau, Sumatra Selatan, dan telah dipresentasikan kepada Kapolri serta Menko Polhukam. Namun, kapasitas produksi saat ini masih terbatas, sehingga Presiden menuntut skala produksi yang lebih besar dan alokasi anggaran khusus.

Prabowo menanyakan efektivitasnya secara kuantitatif: "Berapa ton tepung ubi yang dibutuhkan untuk memadamkan satu hektar kebakaran?" Ia juga membayangkan penggunaan water‑bombing berbasis helikopter, dengan perkiraan 4‑5 ton tepung per penerbangan. Selanjutnya, BNPB diminta menilai alternatif zat pemadam lain, sementara BRIN diarahkan meneliti proses produksi massal dan potensi komersialnya.

Analisis Pakar

Secara makroekonomi, inisiatif ini membuka peluang industri agro‑kimia domestik yang selama ini terfokus pada pangan. Jika berhasil, rantai nilai mulai dari petani ubi, pengolahan menjadi tepung khusus, hingga distribusi ke unit pemadam kebakaran dapat menciptakan lapangan kerja baru dan meningkatkan pendapatan petani di wilayah produksi utama seperti Jawa Tengah dan Sumatera Selatan.

Namun, skala produksi massal menuntut investasi signifikan dalam fasilitas pengeringan, penggilingan, dan formulasi kimia yang stabil. Pemerintah harus memastikan bahwa biaya per kilogram bahan pemadam tidak melampaui alternatif tradisional seperti air atau busa kimia impor. Analisis biaya‑manfaat harus memperhitungkan tidak hanya harga bahan baku, tetapi juga logistik penyebaran via helikopter, yang secara operasional jauh lebih mahal.

Dari perspektif lingkungan, penggunaan tepung berbasis umbi‑umbian memiliki keunggulan biodegradable dan rendah toksisitas, mengurangi dampak residu kimia pada ekosistem hutan. Namun, produksi massal dapat menimbulkan tekanan pada lahan pertanian, berpotensi mengorbankan produksi pangan jika tidak dikelola secara terintegrasi dengan kebijakan ketahanan pangan.

Terakhir, keberhasilan komersialisasi bergantung pada dukungan kebijakan yang konsisten: insentif fiskal bagi petani, subsidi riset & pengembangan, serta mekanisme pengadaan pemerintah yang transparan. Tanpa kerangka regulasi yang jelas, proyek ini berisiko menjadi inisiatif satu‑satu kali yang tidak berkelanjutan.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Bagaimana cara kerja tepung ubi dalam memadamkan api?
    A: Tepung mengandung partikel halus yang menyerap panas dan mengganggu aliran oksigen, sehingga memutus proses pembakaran.
  • Q: Apakah tepung ubi lebih murah dibandingkan busa kimia atau air?
    A: Harga relatif masih diperkirakan lebih tinggi karena proses pengolahan khusus, namun potensi penghematan biaya lingkungan dapat menyeimbangkan.
  • Q: Kapan produksi massal tepung pemadam ini dapat dimulai?
    A: Pemerintah menargetkan uji coba skala besar dalam 12‑18 bulan ke depan, tergantung hasil riset BRIN dan alokasi anggaran.

BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Meow! Tanya Nesi!
😸