Selasa, 3 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Prabowo Terbang ke Riau: Janji Penanganan Karhutla atau Sekadar Panggung Politik?

Berita DaerahSiti RahmawatiSiti RahmawatiSumber: CNN Nasional
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Prabowo Terbang ke Riau: Janji Penanganan Karhutla atau Sekadar Panggung Politik?
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Presiden Prabowo Subianto mengunjungi Riau untuk meninjau penanganan karhutla setelah kebakaran melanda 10 provinsi di Sumatra.
  • Data SiPongi mencatat 2.894 hotspot, dengan Riau menempati urutan kedua (480 titik) dan total lahan terbakar mencapai 36.047,64 hektar.
  • Pemerintah mengklaim peningkatan armada water bombing, penambahan personel, serta penyelidikan konsesi korporasi, namun kritik menilai langkah masih belum memadai.

Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto melanjutkan rangkaian kunjungan ke Sumatra, dimulai dari Riau, pada Senin (24/8). Menurut Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, tujuan utama adalah memastikan penanganan karhutla berjalan cepat, terpadu, dan efektif. Kunjungan ini diposisikan sebagai bukti komitmen pemerintah dalam melindungi masyarakat yang terdampak kabut asap.

Setelah menjejakkan kaki di Kalimantan pada Sabtu (22/8) dan menilai respons darurat sudah optimal, Prabowo menegaskan bahwa percepatan penanganan kini difokuskan pada Sumatra, khususnya Riau, Jambi, dan Sumatera Selatan. Ia menyoroti penambahan armada water bombing, penebalan personel darat dari TNI, Polri, dan Manggala Agni, serta penyiagaan fasilitas kesehatan bagi warga.

Namun, di balik retorika “tindakan tegas tanpa kompromi”, pemerintah masih harus menghadapi fakta bahwa sebanyak 2.894 hotspot terdeteksi di sepuluh provinsi Sumatra, dengan konsentrasi tertinggi di Sumatera Selatan (1.410 titik). Luas lahan yang terbakar mencapai 36.047,64 hektar pada tahun 2026. Kualitas udara di kota‑kota besar pun mengkhawatirkan: Pekanbaru mencatat AQI 225 (sangat tidak sehat), Jambi 187, dan Palembang 180.

Prasetyo Hadi menegaskan bahwa operasi terpadu meliputi pemadaman darat, patroli, water bombing, dan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Penanganan tidak hanya berfokus pada pemadaman, tetapi juga pencegahan titik api baru serta perlindungan masyarakat dari kabut asap. Pemerintah juga mengklaim akan memperkuat pengawasan area konsesi dan penegakan hukum terhadap korporasi yang terbukti lalai.

Meski demikian, para pengamat menilai bahwa langkah‑langkah tersebut masih bersifat reaktif. Penambahan armada dan personel tidak serta merta mengatasi akar penyebab kebakaran, terutama pada lahan gambut yang mudah menyala di bawah permukaan. Tanpa regulasi yang lebih ketat, insentif ekonomi bagi perusahaan perkebunan, serta penegakan hukum yang konsisten, kebakaran berulang diprediksi akan tetap menjadi ancaman.

Analisis Pakar

Penanganan karhutla di Sumatra selama ini lebih mengandalkan respons darurat daripada pencegahan struktural. Pemerintah pusat, melalui Kementerian Kehutanan, memang telah meningkatkan kapasitas water bombing dan menambah personel, namun hal ini tidak menyelesaikan masalah lahan gambut yang menjadi “bahan bakar” utama. Tanpa rehabilitasi lahan gambut dan penegakan sanksi yang konsisten, kebakaran akan terus berulang, menimbulkan kerugian ekonomi dan kesehatan yang jauh lebih besar.

Selain itu, fokus pada “penyelidikan konsesi korporasi” masih terkesan selektif. Sejumlah perusahaan besar telah lama beroperasi di wilayah rawan kebakaran dengan izin yang ambigu. Penegakan hukum yang setengah hati—misalnya, hanya menindak perusahaan yang terbukti terbakar secara langsung—menunjukkan adanya konflik kepentingan antara agenda politik dan kepentingan ekonomi. Kunjungan Prabowo Subianto ke Riau dapat dilihat sebagai upaya menata citra politik menjelang pemilu, bukan solusi jangka panjang.

Data AQI yang mencatat nilai “sangat tidak sehat” di Pekanbaru, Jambi, dan Palembang menegaskan bahwa dampak kesehatan masyarakat belum mendapat perhatian yang memadai. Pemerintah harus mengintegrasikan kebijakan kesehatan publik dengan upaya pemadaman, termasuk penyediaan fasilitas medis darurat, monitoring kualitas udara real‑time, dan edukasi masyarakat tentang risiko asap.

Terakhir, koordinasi lintas lembaga—antara BNPB, Kementerian Kehutanan, TNI, Polri, dan Manggala Agni—sering kali terhambat oleh birokrasi dan perbedaan mandat. Dibutuhkan satu komando terpusat dengan otoritas penuh untuk mengeluarkan perintah operasional secara cepat. Tanpa reformasi struktural ini, setiap kunjungan presiden akan tetap menjadi “panggung politik” yang berakhir dengan janji-janji kosong.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Berapa banyak hotspot yang terdeteksi di Sumatra pada 2026?
    A: Sebanyak 2.894 hotspot terdeteksi di sepuluh provinsi Sumatra.
  • Q: Apa yang dimaksud dengan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC)?
    A: OMC adalah upaya teknis untuk mengubah kondisi atmosfer guna mengurangi penyebaran asap, biasanya dengan penyemaian awan.
  • Q: Mengapa lahan gambut menjadi faktor utama kebakaran?
    A: Lahan gambut menyimpan karbon dalam lapisan organik yang mudah terbakar di bawah permukaan, sehingga api dapat menyebar secara tersembunyi dan sulit dipadamkan.

BERITA TERKAIT (Berita Daerah)

Meow! Tanya Nesi!
😸