Selasa, 3 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

PDIP Gali Kembali Risma: Langkah Politik atau Kalkulasi Jitu Menjelang Pilgub Jatim 2029?

PolitikBudi SantosoBudi SantosoSumber: CNN Nasional
Budi Santoso
Budi Santoso
Editor

Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

PDIP Gali Kembali Risma: Langkah Politik atau Kalkulasi Jitu Menjelang Pilgub Jatim 2029?
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

Dalam forum konsolidasi internal DPD PDIP Jawa Timur di Vasa Hotel Surabaya, Hasto Kristiyanto menegaskan bahwa partai terus melakukan grooming terhadap kader yang dianggap mampu menjawab harapan rakyat. Ia menyoroti Tri Rismaharini sebagai contoh sukses: dari ASN, menjadi Wali Kota Surabaya dua periode, Menteri Sosial, hingga kini Ketua DPP Bidang Penanggulangan Bencana.

Hasto menambahkan, “Kami terus menggembleng kader yang memiliki jiwa perjuangan seperti Bung Karno dan Bung Hatta.” Pernyataan ini sekaligus menyinggung strategi PDIP yang menyiapkan daftar panjang calon potensial, mulai dari kepala daerah (12 orang) hingga anggota DPR RI (19 orang) di Jawa Timur.

Sementara itu, Said Abdullah, ketua DPD PDIP Jawa Timur, secara terbuka menargetkan kursi gubernur pada Pilgub 2029. Ia menegaskan, “Sudah waktunya PDIP Jawa Timur punya Gubernur Jawa Timur,” sambil mengingatkan partai tidak hanya fokus pada pemilu legislatif 2029, melainkan juga pada posisi eksekutif tertinggi provinsi.

PDIP sebelumnya mengusung Risma pada Pilgub 2024 berpasangan dengan KH Zahrul Azhar Asumta (Gus Hans), namun kalah dari pasangan petahana Khofifah Indar Parawansa‑Emil Dardak. Kegagalan itu menjadi bahan evaluasi, dan menurut Hasto, partai kini “membangun optimisme politik” dengan target kursi yang lebih tinggi, selaras dengan arahan Ketua Umum Megawati Soekarnoputri yang menekankan keadilan dan perjuangan untuk rakyat kecil.

Analisis Pakar

Strategi PDIP mengangkat kembali Risma bukan sekadar nostalgia politik. Risma memiliki basis massa yang kuat di Surabaya dan citra reformis yang masih hidup di benak publik. Namun, mengandalkan satu figur berisiko menutup ruang bagi regenerasi internal partai, terutama generasi muda yang belum memiliki platform politik yang jelas.

Penggunaan istilah “pengkaderan” dan “grooming” yang diulang-ulang menimbulkan pertanyaan tentang mekanisme seleksi internal PDIP. Apakah proses tersebut transparan atau lebih bersifat patronase? Tanpa mekanisme yang terbuka, partai berpotensi menimbulkan kekecewaan di antara kader yang merasa terpinggirkan, yang pada gilirannya dapat memecah koalisi internal menjelang pemilu.

Selain itu, fokus pada “success story” kepala daerah dan DPR RI dapat menutupi kelemahan struktural PDIP di tingkat akar rumput. Meskipun memiliki 12 kepala daerah dan 19 anggota DPR RI, partai belum menunjukkan kemampuan mengkonversi prestasi tersebut menjadi dukungan suara yang konsisten, terutama di daerah pedesaan yang masih menjadi medan pertempuran politik.

Terakhir, pernyataan Megawati tentang “wajah politik yang memperjuangkan kebenaran, keadilan, dan rakyat tertindas” harus diuji dalam kebijakan konkret. Jika PDIP hanya mengandalkan retorika tanpa program yang terukur, maka ambisi menguasai gubernur Jawa Timur pada 2029 dapat berakhir sebagai slogan kosong, memperkuat persepsi publik bahwa partai masih bergantung pada tokoh-tokoh lama daripada inovasi kebijakan.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Mengapa PDIP kembali mempertimbangkan Risma sebagai calon gubernur?
    A: Karena Risma memiliki rekam jejak sebagai pemimpin yang populer di Surabaya dan dianggap mampu menarik dukungan luas di Jawa Timur.
  • Q: Apa saja tantangan utama PDIP dalam Pilgub 2029?
    A: Mengatasi fragmentasi internal, memperluas basis massa di luar kota besar, dan menyajikan program konkret yang resonan dengan rakyat.
  • Q: Bagaimana peran Hasto Kristiyanto dalam strategi kaderisasi PDIP?
    A: Sebagai Sekretaris Jenderal, Hasto memimpin proses seleksi dan pengembangan kader, sekaligus menegaskan komitmen partai pada regenerasi kepemimpinan.

BERITA TERKAIT (Politik)

Meow! Tanya Nesi!
😸