Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Gaza Membara Lagi: Serangan Udara Israel Tewaskan Balita dan Komandan Hamas, Gencatan Senjata Berada di Ujung Tanduk

DuniaBudi SantosoBudi SantosoSumber: CNN Internasional
Budi Santoso
Budi Santoso
Editor

Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Gaza Membara Lagi: Serangan Udara Israel Tewaskan Balita dan Komandan Hamas, Gencatan Senjata Berada di Ujung Tanduk
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Dua serangan udara Israel di Jalur Gaza menewaskan dua orang, termasuk seorang balita berusia empat tahun bernama Mohammad Abdel Salam Taha, serta melukai tujuh lainnya.
  • Militer Israel mengklaim serangan tersebut merupakan respons terhadap ancaman taktis dari Gaza dan sebelumnya telah menewaskan komandan senior Hamas, Sharif Al-Hasnat.
  • Hamas menuduh Israel melanggar kesepakatan gencatan senjata dan merusak inisiatif perdamaian global yang diusulkan oleh Amerika Serikat.

Eskalasi ketegangan kembali mengguncang Timur Tengah setelah militer Israel meluncurkan dua serangan udara di wilayah Jalur Gaza pada Minggu (23/8) waktu setempat. Insiden ini mengakibatkan dua warga Palestina tewas dan tujuh lainnya mengalami luka-luka, memicu kekhawatiran baru akan runtuhnya stabilitas keamanan yang rapuh di kawasan tersebut.

Serangan pertama menghantam sebuah bangunan di kota Zawayda. Meskipun militer Israel dilaporkan telah mengeluarkan peringatan evakuasi kepada pemilik properti sebelum serangan dilakukan, dampak ledakan tetap memakan korban jiwa. Puing-puing bangunan dan serpihan logam yang terlontar hingga radius puluhan meter melukai enam orang. Di antara korban luka, seorang balita berusia empat tahun bernama Mohammad Abdel Salam Taha dinyatakan meninggal dunia setelah sempat mendapatkan perawatan medis.

Tak lama berselang, serangan udara kedua menyasar kamp pengungsi Nuseirat yang terletak tidak jauh dari lokasi pertama. Pihak pertahanan Israel menyatakan bahwa mereka tengah melakukan penyelidikan internal terkait detail dan dampak dari kedua operasi udara tersebut. Ketegangan ini terjadi setelah Israel memperingatkan akan meningkatkan intensitas serangan sebagai respons atas peluncuran balon udara, drone, dan layang-layang pembakar dari wilayah Gaza ke wilayah Israel.

Sehari sebelumnya, pada Sabtu (22/8) malam, Israel juga mengonfirmasi telah menewaskan Sharif Al-Hasnat, seorang milisi senior Hamas di kota Deir Al Balah. Israel menuduh Al-Hasnat sebagai aktor intelektual di balik upaya pemulihan infrastruktur terowongan bawah tanah Hamas yang digunakan untuk operasi militer.

Merespons rangkaian serangan ini, faksi Hamas menuduh Israel secara sepihak telah melanggar komitmen gencatan senjata. Mereka juga menilai tindakan agresif tersebut merusak peta jalan perdamaian yang sebelumnya diinisiasi oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk mengakhiri konflik Gaza.

Sejak gencatan senjata yang disepakati pada Oktober 2025 lalu, situasi di lapangan tetap jauh dari kata damai. Lebih dari 1.280 warga Palestina dilaporkan tewas di Gaza akibat operasi militer Israel yang terus berlanjut, yang diklaim Tel Aviv sebagai langkah preventif guna menggagalkan serangan dari Hamas dan kelompok milisi lainnya.

Analisis Pakar

Dari perspektif hubungan internasional, eskalasi terbaru di Gaza ini menegaskan kegagalan struktural dari mekanisme gencatan senjata yang ada. Gencatan senjata yang disepakati sering kali hanya berfungsi sebagai jeda taktis (tactical pause) bagi kedua belah pihak untuk melakukan konsolidasi kekuatan, alih-alih menjadi fondasi bagi perdamaian jangka panjang. Tanpa adanya penyelesaian terhadap akar masalah—seperti blokade ekonomi Gaza dan jaminan keamanan bagi Israel—siklus kekerasan ini dipastikan akan terus berulang.

Penggunaan taktik asimetris oleh Hamas, seperti balon pembakar dan drone murah, menunjukkan adaptasi militer faksi perlawanan terhadap superioritas teknologi militer Israel. Bagi Israel, tindakan ini dianggap sebagai pelanggaran kedaulatan yang memerlukan efek jera (deterrence) yang masif. Namun, respons militer Israel yang menggunakan serangan udara berdaya ledak tinggi di area padat penduduk sering kali menghasilkan korban sipil, yang pada gilirannya justru mendelegitimasi posisi politik Israel di panggung diplomasi internasional.

Keterlibatan aktor eksternal seperti Amerika Serikat juga menghadapi tantangan kredibilitas yang besar. Ketika Hamas merujuk pada proposal perdamaian era Donald Trump, hal ini menunjukkan bagaimana narasi diplomasi global digunakan oleh aktor lokal untuk mencari pembenaran politik. Namun, selama mediasi internasional dipandang bias atau tidak melibatkan seluruh pemangku kepentingan secara inklusif, inisiatif perdamaian dari luar hanya akan menjadi dokumen politik tanpa implementasi nyata di lapangan.

Secara jangka panjang, kematian warga sipil, khususnya anak-anak, akan terus memperdalam trauma kolektif dan kebencian antargenerasi. Hal ini menutup ruang bagi opsi solusi dua negara (two-state solution) dan memperkuat posisi kelompok-kelompok garis keras di kedua belah pihak. Komunitas internasional perlu merumuskan kembali pendekatan diplomasi yang tidak hanya berfokus pada penghentian kekerasan sesaat, melainkan pada rekonstruksi politik dan ekonomi yang komprehensif di Palestina.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

Q: Mengapa Israel kembali meluncurkan serangan udara ke Gaza?
A: Israel menyatakan serangan tersebut merupakan respons defensif terhadap peluncuran balon udara, drone, dan layang-layang pembakar dari Gaza, serta bagian dari operasi untuk menghancurkan infrastruktur bawah tanah milik Hamas.

Q: Siapa tokoh Hamas yang tewas dalam operasi militer Israel baru-baru ini?
A: Tokoh senior Hamas yang tewas adalah Sharif Al-Hasnat, yang dituduh oleh militer Israel memimpin proyek pemulihan jaringan terowongan bawah tanah di Deir Al Balah.

Q: Bagaimana status gencatan senjata antara Israel dan Hamas saat ini?
A: Meskipun gencatan senjata secara formal disepakati sejak Oktober 2025, kesepakatan tersebut dinilai gagal di lapangan karena kedua belah pihak terus terlibat dalam aksi saling serang yang telah menewaskan lebih dari 1.280 warga Palestina.

BERITA TERKAIT (Dunia)

Meow! Tanya Nesi!
😸