Rabu, 4 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Kebakaran Memusnahkan Rumah Adat Sade di Lombok Tengah: Ribuan Warisan Terbakar dalam Sekejap

Berita DaerahBudi SantosoBudi SantosoSumber: CNN Nasional
Budi Santoso
Budi Santoso
Editor

Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Kebakaran Memusnahkan Rumah Adat Sade di Lombok Tengah: Ribuan Warisan Terbakar dalam Sekejap
BAGIKAN:
INTISARI BERITA (POIN PENTING)
  • Ringkasan Singkat Api melanda kompleks Rumah adat Sade di Desa Rambitan sekitar pukul 22.00 WITA, Sabtu 22 Agustus.
  • Lebih dari 150 rumah tradisional yang terbuat dari kayu, bambu, dan ilalang terbakar, menelan kerugian material tanpa korban jiwa.
  • Respons pemadam melibatkan puluhan unit dari Lombok Tengah , Lombok Timur , Lombok Barat , dan pemerintah provinsi NTB.

Ringkasan Singkat

  • Api melanda kompleks Rumah adat Sade di Desa Rambitan sekitar pukul 22.00 WITA, Sabtu 22 Agustus.
  • Lebih dari 150 rumah tradisional yang terbuat dari kayu, bambu, dan ilalang terbakar, menelan kerugian material tanpa korban jiwa.
  • Respons pemadam melibatkan puluhan unit dari Lombok Tengah, Lombok Timur, Lombok Barat, dan pemerintah provinsi NTB.

Api yang pertama kali muncul dari sebuah rumah di tengah permukiman adat Sade pada malam Sabtu (22/8) segera meluas ke rumah-rumah sekitarnya yang mayoritas dibangun dari bahan mudah terbakar seperti kayu, bambu, dan ilalang. Kepala Desa Rambitan Lalu Winakse mengonfirmasi bahwa kebakaran terjadi sekitar pukul 22.00 WITA dan ia berada di lokasi saat api melaju.

Menurut Supardan, Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kabupaten Lombok Tengah, operasi pemadaman melibatkan puluhan mobil damkar, termasuk bantuan dari Kabupaten Lombok Timur, Kabupaten Lombok Barat, Kota Mataram, serta seluruh unit Damkartan Lombok Tengah. Upaya tersebut sempat mengganggu arus lalu lintas di jalan raya Sengkol‑Mandalika.

Kompleks rumah adat Sade menampung sekitar 700 warga yang berasal dari satu garis keturunan, dengan total kira‑kira 150 rumah. Meskipun tidak ada korban jiwa, data pasti mengenai jumlah rumah yang hancur dan warga terdampak masih dalam proses pendataan.

Rumah adat Sade, yang dibangun dengan teknik tradisional menggunakan jerami, anyaman bambu (bedek), dan lantai tanah liat yang diperkokoh dengan kotoran kerbau serta abu jerami, merupakan simbol kearifan lokal Sasak. Kehilangan struktur‑struktur ini berarti hilangnya bagian penting dari identitas budaya dan potensi wisata budaya NTB.

Analisis Pakar

Tragedi kebakaran ini mengungkap kegagalan sistematis dalam perlindungan warisan budaya di Indonesia, khususnya di daerah yang rawan kebakaran seperti NTB. Meskipun pemerintah daerah mengerahkan sumber daya pemadam yang signifikan, tidak ada mekanisme preventif yang memadai untuk melindungi bangunan tradisional yang rentan. Penggunaan material organik tanpa perlindungan anti‑api menuntut adanya regulasi khusus, termasuk standar bahan tahan api atau instalasi sistem deteksi dini yang dapat diintegrasikan tanpa merusak nilai estetika.

Selanjutnya, respons cepat dari pemadam kebakaran memang patut diapresiasi, namun koordinasi antar‑kabupaten yang terkesan reaktif menunjukkan kurangnya perencanaan lintas wilayah. Seharusnya ada protokol bersama yang mengatur alokasi sumber daya sebelum bencana terjadi, mengingat wilayah kepulauan seperti Lombok memiliki tantangan geografis yang unik.

Aspek sosial juga tidak boleh diabaikan. Komunitas Sasak yang tinggal di rumah adat Sade tidak hanya kehilangan hunian, melainkan juga identitas kolektif yang terikat pada arsitektur tradisional. Pemerintah harus segera menyediakan bantuan rehabilitasi yang tidak sekadar membangun kembali rumah, melainkan mengembalikan nilai budaya melalui pelibatan langsung masyarakat dalam proses rekonstruksi.

Terakhir, kebakaran ini menjadi panggilan bagi pemerintah provinsi dan pusat untuk meninjau kembali kebijakan pelestarian budaya. Program pelatihan bagi penduduk tentang mitigasi kebakaran, subsidi bahan bangunan tahan api, serta pendirian pusat pemantauan kebakaran berbasis teknologi satelit dapat menjadi langkah preventif yang konkret.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Berapa banyak rumah adat Sade yang terbakar?
    A: Hingga kini, sekitar 150 rumah tradisional diperkirakan terbakar, namun angka pasti masih dalam proses pendataan.
  • Q: Apakah ada korban jiwa dalam kebakaran ini?
    A: Tidak ada laporan korban jiwa; semua warga berhasil evakuasi.
  • Q: Apa langkah pemerintah untuk mencegah kebakaran serupa di masa depan?
    A: Pemerintah daerah berjanji akan meninjau regulasi bangunan tradisional, meningkatkan koordinasi pemadam lintas kabupaten, dan mengembangkan program edukasi serta subsidi bahan tahan api bagi komunitas.
Meow! Tanya Nesi!
😸