Selasa, 3 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Kebakaran Hebat Landa Rumah Adat Sade di Lombok Tengah, Ribuan Nilai Budaya Hangus

Berita DaerahBudi SantosoBudi SantosoSumber: CNN Nasional
Budi Santoso
Budi Santoso
Editor

Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Kebakaran Hebat Landa Rumah Adat Sade di Lombok Tengah, Ribuan Nilai Budaya Hangus
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Api melanda Rumah adat Sade di Desa Rambitan pada pukul 22.00 WITA, menewaskan hampir 150 rumah tradisional.
  • Lebih dari puluhan mobil pemadam dari Dinas Pemadam Kebakaran Lombok Tengah serta bantuan lintas daerah dikerahkan, namun korban jiwa masih belum terkonfirmasi.
  • Kerusakan mengancam warisan budaya Sasak; proses pendataan korban dan kerugian materi masih berlangsung.

Rambitan, Lombok Tengah – Pada Sabtu malam, 22 Agustus 2024, sebuah kebakaran melanda kompleks perumahan tradisional Rumah adat Sade di Desa Rambitan, Kecamatan Pujut. Menurut Kepala Desa Lalu Winakse, api pertama kali terlihat sekitar pukul 22.00 WITA dan dengan cepat menyebar ke rumah-rumah yang mayoritas terbuat dari kayu, bambu, serta ilalang.

Segera setelah laporan diterima, Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kabupaten Lombok Tengah, Supardan, mengerahkan puluhan unit mobil pemadam, termasuk bantuan dari Kabupaten Lombok Timur, Lombok Barat, Kota Mataram, serta Provinsi NTB. Seluruh unit Damkartan Lombok Tengah turut serta dalam upaya pemadaman.

Kompleks adat tersebut menampung sekitar 700 warga yang berasal dari satu garis keturunan Sasak, dengan total kira‑kira 150 rumah tradisional. Warga berhamburan menyelamatkan diri dan barang‑barang berharga. Hingga kini, belum ada laporan korban jiwa, namun data pasti mengenai jumlah rumah yang terbakar dan warga terdampak masih dalam proses pendataan.

Menurut saksi mata, api bermula dari satu rumah di tengah permukiman dan kemudian meluncur ke rumah‑rumah sekitarnya. Karena struktur bangunan yang sebagian besar terbuat dari bahan mudah terbakar, laju penyebaran api sangat cepat. Jalan raya Sengkol‑Mandalika sempat terhambat akibat kendaraan pemadam yang beroperasi di lokasi.

Rumah adat Sade merupakan contoh nyata kearifan lokal Sasak: dinding anyaman bambu (bedek), atap jerami, serta lantai yang terbuat dari campuran tanah liat, kotoran kerbau, dan abu jerami yang mengeras seperti semen. Keunikan ini menjadikan rumah‑rumah tersebut tidak hanya sebagai tempat tinggal, melainkan juga sebagai pusat ritual adat dan keagamaan.

Analisis Pakar

Tragedi ini menyoroti kegagalan sistem mitigasi risiko kebakaran di daerah yang memiliki warisan budaya rentan. Meskipun Dinas Pemadam Kebakaran merespon dengan cepat, kurangnya infrastruktur deteksi dini dan prosedur evakuasi yang terstandardisasi membuat kebakaran meluas dalam hitungan menit. Pemerintah daerah harus segera mengintegrasikan teknologi sensor asap berbasis solar ke dalam kawasan bersejarah, sekaligus melatih warga tentang prosedur pemadaman sederhana.

Selanjutnya, kebijakan konservasi budaya harus melampaui sekadar deklarasi. Pemerintah provinsi NTB perlu mengalokasikan dana khusus untuk retrofitting rumah‑rumah tradisional dengan material tahan api yang tetap menghormati estetika lokal. Penggunaan bahan anti‑api yang ramah lingkungan, seperti cat berbasis kapur, dapat menjadi solusi jangka panjang.

Selain aspek teknis, ada dimensi sosial‑ekonomi yang tak boleh diabaikan. Ribuan nilai budaya, pengetahuan turun‑temurun, dan potensi pariwisata terancam hilang. Pemerintah pusat dan lembaga kebudayaan harus mempercepat proses dokumentasi digital serta menyediakan asuransi kebakaran khusus untuk komunitas adat.

Terakhir, respons lintas daerah yang cepat menunjukkan solidaritas, namun koordinasi masih terfragmentasi. Dibutuhkan satuan tugas terpadu yang melibatkan Damkartan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), serta perwakilan masyarakat adat untuk menyusun rencana kontinjensi yang realistis dan dapat diimplementasikan dalam hitungan jam.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Berapa banyak rumah adat yang terbakar dalam insiden ini?
    A: Data resmi belum dirilis, namun perkiraan sementara menyebutkan sekitar 80‑100 rumah.
  • Q: Apakah ada korban jiwa?
    A: Hingga saat ini belum ada laporan korban jiwa, namun pihak berwenang masih melakukan verifikasi.
  • Q: Apa langkah pemerintah untuk melindungi warisan budaya setelah kebakaran?
    A: Pemerintah berjanji akan mempercepat pendanaan retrofitting rumah tradisional, meningkatkan sistem deteksi dini, dan menyediakan asuransi kebakaran khusus bagi komunitas adat.

BERITA TERKAIT (Berita Daerah)

Meow! Tanya Nesi!
😸