Selasa, 3 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Relawan Kemanusiaan Meninggal Mendadak Saat Bantu Korban Gempa NTT: Serangan Jantung atau Kegagalan Penanganan?

Berita DaerahSiti RahmawatiSiti RahmawatiSumber: CNN Nasional
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Relawan Kemanusiaan Meninggal Mendadak Saat Bantu Korban Gempa NTT: Serangan Jantung atau Kegagalan Penanganan?
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Relawan Ahmad Zaki Ali, pendiri Yayasan Gerak Bareng, meninggal karena serangan jantung saat menyalurkan bantuan di Manggarai Timur, NTT.
  • Korban jiwa akibat gempa M 7,7 di Flores terus meningkat; total meninggal mencapai 83 orang, dengan Kabupaten Manggarai Timur menjadi zona paling terdampak.
  • Basarnas melaporkan 670 orang terdampak di wilayah tersebut, termasuk 70 korban tewas dan ratusan luka-luka.

Jakarta – Tragedi menimpa Ahmad Zaki Ali (41), seorang relawan yang sekaligus pendiri Yayasan Gerak Bareng, ketika ia sedang menyalurkan paket bantuan kepada korban gempa bumi 7,7 SR yang mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Jumat (21/8). Menurut keterangan Kapolsek Lamba Leda Utara, Iptu Ida Bagus Susana Adi Negara, penyebab kematian Zaki Ali adalah serangan jantung, bukan kecelakaan atau serangan fisik di lapangan.

“Iya, (meninggal dunia) karena serangan jantung,” ujar Iptu Susana dalam sebuah wawancara yang dikutip oleh detikBali. Pernyataan ini menimbulkan pertanyaan serius tentang kesiapan medis bagi para relawan yang beroperasi di zona bencana, di mana akses ke layanan kesehatan darurat sering kali terhambat.

Sementara itu, data resmi Basarnas mencatat hingga siang Jumat, 81 orang telah meninggal dunia akibat gempa, dengan tambahan dua korban tewas yang dilaporkan kemudian, menjadikan total korban meninggal 83 orang. Lebih dari 600 orang mengalami luka ringan hingga berat, dan Kabupaten Manggarai Timur menjadi titik konsentrasi paling parah dengan 670 orang terdampak, termasuk 70 jiwa yang melayang.

Kasus Zaki Ali menyoroti dua isu utama: pertama, kurangnya protokol kesehatan bagi relawan yang berada di daerah rawan bencana; kedua, perlunya koordinasi yang lebih ketat antara lembaga penanggulangan bencana, pemerintah daerah, dan organisasi kemanusiaan dalam menyediakan fasilitas medis darurat di lapangan.

Analisis Pakar

Sebagai jurnalis investigasi, saya melihat kematian Zaki Ali bukan sekadar insiden medis yang terisolasi. Ini mengungkap celah struktural dalam manajemen risiko operasional relawan. Pada umumnya, organisasi kemanusiaan menekankan pada logistik bantuan—pangan, air, dan tempat penampungan—sementara aspek kesehatan relawan sering terabaikan. Padahal, para relawan beroperasi di lingkungan yang penuh stres, kelelahan, dan paparan cuaca ekstrem, yang semuanya meningkatkan risiko kardiovaskular.

Lebih jauh, respons kepolisian yang cepat mengonfirmasi penyebab kematian sebagai serangan jantung tanpa menyertakan data medis lengkap menimbulkan keraguan tentang transparansi. Apakah ada pemeriksaan post-mortem yang memadai? Apakah tim medis lapangan memiliki peralatan untuk menangani kejadian kardiak? Tanpa jawaban yang jelas, publik berhak menuntut akuntabilitas.

Di sisi lain, data Basarnas menunjukkan bahwa wilayah Manggarai Timur masih menjadi zona kritis dengan infrastruktur medis yang rapuh. Pemerintah pusat dan daerah harus segera mengirimkan unit medis bergerak, termasuk ambulans dan tim kardiologi, untuk menanggulangi tidak hanya luka fisik, tetapi juga potensi komplikasi kesehatan lain yang dapat mengancam nyawa relawan maupun korban.

Terakhir, tragedi ini harus menjadi panggilan bagi semua pihak—pemerintah, LSM, dan donor internasional—untuk meninjau kembali standar operasional prosedur (SOP) penyaluran bantuan. Penambahan modul kesehatan relawan, termasuk skrining kesehatan sebelum penugasan dan penyediaan fasilitas pertolongan pertama yang memadai, bukan lagi pilihan, melainkan keharusan.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Apa penyebab pasti kematian Ahmad Zaki Ali?
    A: Menurut Kapolsek Lamba Leda Utara, penyebabnya adalah serangan jantung.
  • Q: Berapa total korban meninggal akibat gempa Flores pada 21 Agustus 2024?
    A: Hingga saat itu tercatat 83 orang meninggal dunia.
  • Q: Apa langkah yang diambil pemerintah untuk melindungi kesehatan relawan di zona bencana?
    A: Pemerintah belum mengumumkan kebijakan khusus; namun para ahli menuntut penambahan layanan medis darurat dan protokol kesehatan bagi relawan.

BERITA TERKAIT (Berita Daerah)

Meow! Tanya Nesi!
😸