Selasa, 3 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Kebakaran Hebat di TPSA Ciniru Kuningan: 90% Area Hangus, Penyebab Masih Misteri!

Berita DaerahSiti RahmawatiSiti RahmawatiSumber: CNN Nasional
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Kebakaran Hebat di TPSA Ciniru Kuningan: 90% Area Hangus, Penyebab Masih Misteri!
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Diperkirakan 85‑90% area TPSA Ciniru terbakar habis.
  • Penyebab kebakaran belum dapat dipastikan, pihak Usep Sumirat menolak menyalahkan masyarakat.
  • Pengelolaan sampah yang masih mengandalkan sanitary landfill dipertanyakan, sementara layanan pengangkutan belum mencakup seluruh desa di Kuningan.

Kebakaran melanda Tempat Pembuangan Sampah Akhir (TPSA) Ciniru pada Jumat (21/8) menimbulkan kepanikan di Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Kuningan, Usep Sumirat, menyatakan bahwa sekitar 85‑90 persen area timbunan sampah terbakar, meski kedalaman api masih belum dapat dipastikan.

Menurut Usep, api tidak hanya melalap permukaan sampah kering yang telah lama menumpuk tanpa penutup tanah, tetapi juga menembus bagian bawah timbunan. “Ini bisa di atas 85 sampai 90 persen. Namun, kedalamannya kami belum tahu,” ujarnya saat dikunjungi di lokasi kebakaran.

DLH belum dapat mengidentifikasi penyebab pasti kebakaran. Usep menegaskan, “Saya tidak mau menyalahkan masyarakat karena bahaya kalau tidak tahu penyebabnya.” Pernyataan ini mencerminkan keengganan otoritas untuk langsung menuding praktik warga, namun juga menimbulkan pertanyaan tentang transparansi investigasi.

TPSA Ciniru pernah mengalami kebakaran pada 2018, namun pada saat itu volume sampah jauh lebih kecil. Kini, tempat pembuangan tersebut menampung rata‑rata 200 ton sampah per hari, namun layanan pengangkutan masih terbatas pada 114 desa dan kelurahan, meninggalkan sejumlah wilayah tanpa penanganan resmi.

Area TPSA seluas 5,6 hektare terdiri atas aset pemerintah daerah dan sebagian tanah desa. Pengelolaan mengacu pada konsep sanitary landfill dengan jaringan pipa gas dan instalasi pengolahan air lindi, namun jaringan pipa gas turut rusak akibat kebakaran.

Untuk mencegah penyebaran api ke lahan warga sekitar, petugas DLH berupaya memblokir jalur penyebaran. Usep menambahkan, “DLH ke depan berencana mendorong pengelolaan sampah melalui Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST), termasuk kemungkinan mengolah sampah menjadi Refuse Derived Fuel (RDF) atau produk turunan lainnya.”

Analisis Pakar

Kebakaran di TPSA Ciniru bukan sekadar insiden teknis; ia mengungkap kegagalan struktural dalam sistem pengelolaan sampah Kabupaten Kuningan. Pertama, ketergantungan pada sanitary landfill tradisional tanpa mekanisme pemantauan suhu atau deteksi dini kebakaran menimbulkan risiko inheren yang tinggi. Sistem pipa gas yang terbakar menunjukkan bahwa infrastruktur kritis belum dirancang untuk menahan beban termal.

Kedua, distribusi layanan pengangkutan sampah yang tidak merata memperparah akumulasi timbunan di titik‑titik tertentu. Dengan hanya melayani 114 desa dari total lebih dari 200, sisa wilayah terpaksa menumpuk sampah secara informal, meningkatkan peluang terjadinya titik panas yang dapat memicu kebakaran.

Ketiga, kurangnya transparansi dalam penyelidikan penyebab kebakaran menimbulkan kecurigaan publik. Penolakan langsung untuk menyalahkan masyarakat tanpa memberikan data investigatif dapat dilihat sebagai upaya mengalihkan perhatian dari potensi kelalaian internal, seperti kurangnya prosedur pemadaman atau kegagalan dalam penutupan timbunan sampah kering.

Terakhir, rencana beralih ke Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) dan produksi Refuse Derived Fuel (RDF) tampak ambisius, namun tanpa investasi signifikan dalam infrastruktur monitoring, pelatihan SDM, dan penegakan regulasi, inisiatif tersebut berisiko menjadi retorika belaka. Pemerintah daerah harus segera mengaudit seluruh rantai pengelolaan sampah, memperluas layanan ke semua desa, dan mengimplementasikan sistem deteksi dini kebakaran berbasis sensor suhu.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Apa penyebab utama kebakaran di TPSA Ciniru?
    A: Penyebab pasti belum diketahui; otoritas masih menyelidiki, namun faktor timbunan sampah kering yang tidak tertutup dan kurangnya sistem deteksi dini diyakini berperan.
  • Q: Berapa banyak sampah yang ditampung TPSA Ciniru setiap harinya?
    A: Sekitar 200 ton sampah per hari.
  • Q: Apa rencana pemerintah daerah untuk mencegah kebakaran serupa?
    A: Pemerintah berencana mengembangkan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) dan memproduksi Refuse Derived Fuel (RDF), serta memperluas layanan pengangkutan sampah ke seluruh desa.

BERITA TERKAIT (Berita Daerah)

Meow! Tanya Nesi!
😸